Bogor Darurat Kejahatan Seksual

by -25 views

METROPOLITAN – Kasus kekerasan seks kepada anak dominasi laporan Pusat Data dan Pengaduan Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak. Sebanyak 245 kasus pelang­garan terhadap anak di wilayah Bogor, 52 persen­nya merupakan kejahatan seksual dan 42 persen selebihnya kasus-kasus eksploita­si ekonomi, penculikan dan perdagangan anak serta keja­hatan-kejahatan seksual ben­tuk lain. ­

Seperti kabar duka datang dari Kampung Cijayanti, Ke­camatan Babakanmadang, di mana ada seorang bocah yang dibunuh setelah disodomi tetangganya sendiri di pinggir sawah. Sebelumnya, bocah tersebut berpamitan kepada orang tuanya ingin pergi isti­gasah di pondok pesantren dekat rumahnya. Tetapi yang didapati orang tua korban, anaknya ditemukan tewas dengan beberapa bekas luka gigitan di tangan dan di kaki disertai adanya bekas jeratan di leher.

Ketua Umum Komnas Perlin­dungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan, Kabupaten Bogor sudah berada pada sta­tus darurat kekerasan terhadap anak. Selain itu juga, menurut­nya, predator yang menjadi pelaku pencabulan tersebut berasal dari orang-orang ter­dekat korban itu sendiri, se­hingga menjadi sebuah tanda tanya ke mana peran serta pemerintah dalam pencegahan tindak kejahatan seksual yang terjadi di Bumi Tegar Beriman.

“Maka tidak berlebihan jika disebutkan bahwa Bogor se­dang dalam situasi darurat kejahatan seksual, yang tidak pernah mendapatkan perha­tian dari pemerintah dan ma­syarakat,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Ia juga menilai bahwa peran serta masyarakat juga masih rendah dalam menjaga kea­manan dan keselamatan anak-anak dari tindak kejahatan predator seks. Sehingga seha­rusnya pemerintah bisa turun langsung dalam menginstruk­sikan semua instrumen dan juga lapisan masyarakat untuk turut menjaga keamanan dan mempersempit ruang gerak para predator seks.

Sementara itu, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Pe­rempuan dan Anak (P2TP2A) mencatat sejak awal tahun sampai September ada 75 ka­sus kekerasan terhadap anak dan juga pelecehan seksual. Dalam satu minggu ini sudah ada tiga kasus pencabulan yang terjadi kepada anak di bawah umur.

Ketua P2TP2A Kabupaten Bo­gor Euis Kurniasih menyebut­kan, meningkatnya kasus pelecehan seksual terhadap anak bukan semata-mata ka­rena semakin banyaknya ter­jadi kasus pencabulan. Bisa saja hal tersebut dikarenakan saat ini masyarakat sudah mu­lai berani bersuara terkait adanya kasus pelecehan sek­sual terhadap anak.

“Kita sudah memiliki satgas PPA, psikiater, bahkan jaksa untuk melindungi para korban. Sehingga jika ada pernyataan tidak ada peran serta pemerin­tah, saya rasa itu kutang tepat,” katanya saat ditemui di kantor P2TP2A, Cibinong, kemarin.

Ia menjelaskan, memang tu­poksi P2TP2A hanyalah seba­tas tindak lanjut dari terjadinya sebuah kasus. Tetapi untuk pencegahan itu bukan tang­gung jawab satu dinas saja. Namun, menurut Euis, itu merupakan tanggung jawab semua stakeholder yang ada di Kabupaten Bogor.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam waktu dekat ini DP3AP­2KB Kabupaten Bogor akan segera meluncurkan program baru, sebagai salah satu cara untuk meminimalisasi terjadi­nya tindak pelecehan dari ting­kat paling bawah, yaitu desa. “Kita akan mengadakan pro­gram Sekoper Cinta yang akan di-launching (diluncurkan, red) pada Hari Keluarga nan­ti,” jelasnya.

Untuk jumlah kasus yang terjadi di Kabupaten Bogor, menurut catatan P2TP2A Kabupaten Bogor, dari 2015 sampai 2019 mengalami naik turun. Pada 2015 tercatat ada 44 laporan kekerasan terhadap anak, 2016 ada 148, 2017 ada 126, 2018 ada 167 dan 2019 sampai saat ini sudah ada 75 kejadian. (cr2/c/mam/run)