Cibiran Tetangga Jadi Motivasi

by -17 views
BERPRESTASI: Anak tukang becak, Lailatul Qomariyah, sukses mendapat gelar doktor dari ITS.

METROPOLITAN –  Entah apa yang dipikirkan Saningrat (43) dan istrinya, Rusmiati (40). Ia tidak pernah menyangka dirinya akan mampu mengantarkan anak sulungnya, Lailatul Qomariyah (27), menempuh pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya hingga lulus doktor.

Apalagi pasangan suami-istri asal Dusun Jinangka, Desa Teja Timur, Ke­camatan Pamekasan, Kabupaten Pa­mekasan, itu sehari-hari hanya me­narik becak dan menjadi buruh tani. Saningrat pun mence­ritakan bagai­mana keluar­ganya mengan­tarkan anaknya bisa menem­puh pendidikan sampai S3.

Lailatul Qomariyah sudah dikenal di keluarganya sebagai anak yang cerdas sejak di bangku SD. Padahal Saningrat tidak pernah memberikan pendidikan khusus kepada anaknya. Saningrat hanya sibuk bekerja se­bagai penarik becak dan istrinya menjadi buruh tani. Namun sejak SD, Lailatul terus-menerus mendapat ranking satu.­

”Setelah lulus SD, anak saya mendaftar di SMP negeri. Al­hamdulillah diterima di SMPN 1 dan SMPN 4 Pamekasan. Namun, pilihannya jatuh ke SMPN 4 Pamekasan. Saya tidak tahu mengapa Lailatul memilih SMPN 4 Pamekasan,” ujar Sa­ningrat.

Selama duduk di bangku SMP, Lailatul yang lahir pada 16 Agus­tus 1992 itu selalu meraih ranking satu di sekolahnya. Hingga akhirnya ia diterima di SMAN 1 Pamekasan dengan meraih beasiswa. Saat di bangku SMA, Lailatul dianggap orang kaya karena setiap hari selalu diantar dan dijemput dengan becak.

Waktu itu, anak yang bisa di­antar dan dijemput becak ter­golong anak orang kaya, pada­hal yang mengantar dan men­jemput Lailatul adalah ayahnya sendiri. ”Oleh teman-temannya, Lailatul dibilang anak orang mampu, padahal yang narik becak saya sendiri sebagai ay­ahnya,” ujar Suningrat.

Entah karena apa, Lailatul memutuskan diri agar tidak diantar dan dije­mput ayahnya menggunakan becak. Ia meminta dibelikan sepeda ontel agar tidak mere­potkan ayahnya. Sebagai ayah, Suningrat tidak langsung me­menuhi permintaan anaknya karena tidak memiliki uang. Untuk memenuhi permintaan anaknya, Suningrat harus menunggu masa panen tem­bakau usai.

”Untuk membeli sepeda ontel anak saya, saya harus menunggu hasil panen tembakau dan menguras ta­bungan selama setahun. Wak­tu itu harga sepedanya Rp1 juta,” ujarnya.(kmp/mam/run)