Cuaca Kering tak Mekar Sempurna

by -55 views
MEKAR: Peneliti Rafflesia Patma dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI saat memeriksa bunga Rafflesia Patma.

METROPOLITAN – Salah satu tumbuhan ikon Kebun Raya Bogor, bunga Rafflesia Patma, kembali mekar. Tumbuhan endemik asal Pangandaran, Jawa Barat, itu mekar untuk ke-14 kalinya sejak pertama kali mekar medio 2010 lalu.

Namun sayang, cuaca kering yang belakangan melanda Kota Bogor memberi dampak negatif terhadap kondisi bunga ikonik tersebut saat mekar.

Peneliti Rafflesia Patma dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI Sofi Mursidawati menceritakan, Rafflesia Patma memulai proses mekar sejak Jumat (13/9) sore dan mencapai tingkat maksimal pada Sabtu (14/9) pagi. “Mekar pertama sembilan tahun lalu ya. Ini yang ke-14 kalinya mekar,” katanya kepada awak media, akhir pekan lalu.

Ia menambahkan, cuaca ekstrem di Kota Bogor memberi pengaruh terhadap ketahanan mekar dari bunga langka tersebut, sehingga tidak mekar sempurna. Biasanya bertahan mekar selama dua sampai tiga hari, sebelum kelopak bunga menghitam dan mati. Pernah juga satu waktu mencatat proses mekar sekitar 24-30 jam.

“Cuaca kering di Bogor belakangan ini berdampak. Kemungkinan yang sekarang ini (mekarnya, red) agak lambat dan tidak sempurna. Kelopak bagian kanan dan atas sobek,” jelasnya.

Sejauh ini, tutur Sofi, kurang lebih ada 12 knop atau bakal bunga dari Rafflesia Patma yang hidup di Kebun Raya Bogor. Dua sampai tiga di antaranya diperkirakan mekar dalam dua atau tiga minggu lagi.

Ia berharap semua bakal bunga itu bisa mekar bersamaan dan memunculkan bunga jantan dan betina sekaligus agar membantu proses penyerbukan lebih maksimal.

“Cuma dua sampai tiga hari, rentang waktu inilah kesempatan membantu penyerbukan bisa dilakukan. Itu pun bila bunga jantan dan betina ada dan mekar bersamaan,” papar Sofi.

Terpisah, Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI Hendrian mengungkapkan, Kebun Raya Bogor berupaya maksimal dengan memperbesar populasi bunga endemik tersebut melalui percobaan demi percobaan grafting untuk memperbesar jumlah kesempatan berbunga.

Ia juga mengingatkan ancaman kepunahan tumbuhan ini sangat besar, sebab Rafflesia bukan komoditas komersial, sedangkan pengetahuan warga tentang tumbuhan tersebut masih terbatas. (ryn/c/mam/run)