Di Sela Tugasnya Padamkan Kebakaran Hutan : Prajurit TNI Salat Beralaskan Daun

by -12.7K views

METROPOLITAN – Di sela perjuangannya memadamkan Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla), anggota Kodim 0913/Penajam Paser Utara tetap melaksanakan kewajiban salat walau beralaskan daun sawit.

Hal tersebut disampaikan Dandim 0913/PPU, Letkol Inf Mahmud, dalam rilis tertulisnya di Kabupaten Paser Penajam Utara, Kaltim. Dandim ungkapkan bagi prajurit TNI di mana pun berada dan bertugas, melaksanakan ibadah merupakan suatu kemutlakan.

“Walaupun sedang bertugas di lapangan, ibadah merupakan prioritas, sebagai ungkapan syukur kepada Sang Khalik,” ujarnya Dandim.

Lebih lanjut dikatakan, dengan beribadah memohon perlindungan Tuhan yang Maha Esa, tugas seberat apapun dapat dilaksanakan.

“Sebagai pimpinan, hal seperti ini selalu saya sampaikan kepada anggota, agar tugas yang kita kerjakan mendapat ridhoNYA,” jelasnya.

Hal ini pulalah yang dilakukan prajurit Kodim pada Minggu (14/6/2019), walau sedang melaksanakan tugas pemadaman lahan gambut di RT. 11 dan RT. 12 Kelurahan Petung, dan RT. 003 Desa Giripurwa.

Prajurit TNI tersebut melaksanakan salat Zuhur di bawah pohon sawit dengan beralaskan daun sawit dan baju seragamnya sebagai sajadah.

“Jelang waktu salat Zuhur, anggota berhenti untuk beristirahat di sekitar lokasi, ada yang dimanfaatkan untuk bersantai dan ada juga anggota menikmati singkong yang sudah matang,” jelasnya.

“Bagi anggota yang beragama Islam melaksanakan Salat Zuhur di bawah pohon sawit, sudah merupakan rutinitas tiap hari,” terang Mahmud.

Disampaikan pula, memasuki hari ke-6 proses pemadaman kebakaran lahan gambut ini diperkirakan sudah mencapai 80 persen dan diperkirakan untuk luasan area yang terbakar telah mencapai kurang lebih 110 hektar.

“Namum tidak menutup kemungkinan bisa muncul kembali asap pada pagi hari. Untuk itulah, prajurit Kodim selalu memantau dan berada di lapangan,” tuturnya.

Dijelaskan pula, selama proses pemadaman api, kendala utama adalah lambatnya peralatan Karhutla ke TKP karena medan yang sulit dijangkau kendaraan.

“Tapi kita tak menyerah, dengan semangat dan dukungan semua pihak, kita tetap upayakan sebisa mungkin proses pemadaman ini cepat selesai,” tutupnya. 

Instruksi Presiden

Kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Riau direspons Presiden Joko Widodo dengan meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Selasa (17/9/2019).

Dua titik karhutla di Riau yang ditinjau Jokowi adalah karhutla di Desa Merbau, Kabupaten Pelalawan dan di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar.

Jokowi tiba di Riau pada Senin (16/9/2019) petang dan langsung menggelar rapat terbatas yang diikuti jajaran terkait serta pemerintah daerah setempat.

Beberapa hal yang disorot oleh Jokowi di antaranya lambannnya serta kurang berjalannya pemerintah daerah setempat dalam menangani kasus karhutla di Riau.

1. Soroti Sistem Pemda yang Tak Aktif

Mengutip TribunPekanbaru, Jokowi menyoroti kinerja sistem di pemerintahan daerah mulai dari Kepolisian, TNI hingga stakeholder lainnya belum optimal.

“Kita tahu ghubenur punya perangkat sampai ke bawah, mulai bupati, walikota sampai camat dan kepala desa. Kemudian Pangdam juga begitu, punya perangkat Danrem, Dandim, Koramil, Babinsa.””Kapolda juga punya perangkat, mulai dari Kapolres, kapolsek sampai babinkantibmas, semuanya ada, belum lagi yang di BNPB, kehutanan, kita punya semua, tapi perangkat-perangkat ini tidak diaktifkan secara baik,” ucap Jokowi.

Menurutnya, jika kinerja sistem di daerah dapat diaktifkan secara baik maka karhutla tidak akan terjadi dan dapat dicegah.

“Kalau perangkat itu diaktifkan, saya yakin, kalau ada satu titik api langsung ketahuan sebelum sampai ratusan titik.”

“Itu sudah saya ingatkan berkali-kali mengenai ini, karena yang kita hadapi ini bukan hutan, tapi lahan gambut, dan hutan gambut, kalau sudah terbakar, sulit dipadamkan,” sebutnya.

Lebih lanjut, Jokowi menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah daerah setempat yang dianggap sangat penting dalam penanganan kasus ini.

“Kalau tidak ada dukungan dari pemerintah daerah, ini sulit, karena ini adalah pekerjaan besar, pengalaman kita tahun-tahun sebelumnya kan seperti itu, kalau sudah ada titik api itu sulit dipadamkan,” ujarnya.

2. Lakukan Hujan Buatan

Dalam rapat tersebut, Jokowi juga meminta kepada TNI dan BNPB agar memaksimalkan teknologi modifikasi cuaca dengan penyemaian garam yang dilakukan dalam jumlah yang lebih banyak.

Meskipun sebelumnya Presiden beberapa waktu yang lalu telah menginstruksikan untuk dilakukan penyemaian garam.

“Jumat lalu saya perintahkan panglima dan kepala BNPB untuk melakukan hujan buatan, besok juga saya minta itu dilakukan lagi, kalau bisa dalam jumlah yang banyak,” katanya.

Mengutip dari laman setneg.go.id, Presiden juga telah meminta aparat untuk bersiaga mulai dari tingkat yang paling bawah agar tidak ada kebakaran hutan lebih lanjut.

“Jangan sampai ada yang namanya status siaga darurat. Ada api sekecil apapun segera selesaikan, sudah. Kita ini kan punya infrastruktur organisasi sampai ke bawah.”

“Desa ada Bhabinkamtibmas, Babinsa, ada semuanya. Mestinya begitu muncul kecil sudah ketahuan dulu,” ujar Jokowi.

Jokowi meminta kepada semua pihak agar segera menuntaskan karhutla yang terjadi di Riau karena sudah berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Lebih lanjut, jokowi tak ingin kabut asap dari karhutla sampai mengganggu aktivitas perokonomian yang ada.

“Jangan sampai ini menggangu aktivitas penerbangan dan mengganggu perekonomian di Riau,” ujar Jokowi dikutip dari TribunPekanbaru.

3. Tindak Tegas Pembakar Lahan dan Hutan

Jokowi juga menginstruksikan kepada aparat penegak hukum untuk menindak tegas para pelaku yang memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Hal tersebut dikatakan Jokowi menyikapi kondisi kabut asap yang belakangan masih mengepung wilayah Riau dan sejumlah wilayah lainnya di Sumatera dan kalimantan.

Jokowi tak menampik, memang sulit untuk memadamkan api di lahan gambut.

“Sulit memadamkannya, apalagi di daerah gambut. Seperti sekarang ini, kelihatan sudah padam, tapi di bawahnya api masih menganga.”

“Tindakan hukum sudah dilakukan dan sudah ditangani Polri atau pun KLH.”

“Nanti kita lihat sebetulnya ini kesengajaan yang terorganisasi atau memang rakyat yang ingin berkebun,” ujar Jokowi

Menilik dari cakupan luas lokasi lahan yang terbakar, Jokowi berpandangan ini merupakan ulang dari corporate.

Sementara itu, Kapolri Jendral Tito Karnavian menduga adanya unsur kesengajaan dalam kebakaran hutan dan lahan di Riau.

Sebab ia tidak melihat ada yang terbakar baik kebun sawit maupun Hutan Tanaman Industri (HTI), tapi yang terbakar adalah hutan atau semak.

Artinya, ini ada indikasi kuat terjadinya pembakaran, kesengajaan. Sebagian sudah ditangkap, itu juga membuktikan bahwa peristiwa itu ada,” kata Tito.