Dinamit Meledak, Dua Gurandil Tewas di Gunung Kapur

by -202 views
BERDUKA: Warga Klapanunggal saat mengantar jenazah Aang menuju pemakaman.

METROPOLITAN – Berjarak 23 kilometer dari pusat Kabupaten Bogor, kesedihan mendalam harus dirasakan Enih (36), istri mendiang Aang (35), warga Kampung Sindanglengo, RT 02/03, Desa Klapanunggal, Kecamatan Klapanunggal, yang tewas akibat ledakan dinamit di lokasi pertambangan yang tengah disiapkannya.

Terpal biru dengan belasan kursi plastik hijau tersusun rapi di pelataran rumah duka. Keluarga korban yang masih berkabung tiada henti bercerita tentang mendiang Aang, yang sudah berjuang menafkahi keluarganya. Rumah merah muda dengan corak hijau tua itu jadi saksi perjuangan Aang hingga akhir hayatnya.

Enih sama sekali tak menyangka jika pamitnya Aang saat hendak bekerja, Sabtu (14/9) silam, bakal menjadi hari terakhir ia melihat suami tercintanya. Tak ada perasaan khusus yang ia rasakan saat mencium tangan suaminya sebelum bekerja.

Menurut Enih, hari itu Aang bersikap biasa saja, sama seperti hari lain saat pamit hendak bekerja. Namun siapa sangka, selang sekitar dua jam keberangkatan Aang bekerja, ayah tiga anak itu sudah kembali dengan keadaan tak bernyawa, dengan darah yang bercampur tanah di hampir sekujur tubuhnya.

Mendiang Aang diantarkan pulang sejumlah rekannya ke rumah yang berjarak sekitar dua kilometer dari tempatnya bekerja. Tangis Enih pun pecah seketika saat mendapati suami tercintanya sudah tak bernyawa. Teriak dan tangis Enih saat itu sontak memicu tangis putri bungsunya yang baru berusia tak lebih dari tiga tahun.

”Kaget melihat kondisi suami saya sudah seperti itu. Seperti mimpi melihatnya, antara percaya tidak percaya saja,” katanya kepada Metropolitan.

Meski semula tak terima dengan kepergian Aang, Enih mencoba ikhlas dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Ia meyakini mungkin itu jalan terbaik bagi keluarga kecilnya.

Enih bercerita, Aang merupakan sosok ayah yang amat menyayangi keluarga dan ketiga anaknya. Kecintaannya kepada keluarga tak terhingga sampai Pencipta memanggilnya. Aming (79), ayah Aang, sekaligus kakek ketiga anak mendiang, hanya bisa pasrah anak pertamanya itu dipanggil Sang Pencipta terlebih dahulu.

Meski belajar dan mencoba mengikhlaskan kepergian mendiang, Aming merasa kehilangan lantaran Aang merupakan sosok yang kerap dituakan dalam urusan keluarga. Aming mengatakan, memang di wilayahnya kini banyak warga yang berprofesi menjadi juru tambang.

Selain upah yang terbilang lumayan, sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per hari, keadaan juga seperti memaksa warga bekerja sebagai juru tambang. ”Kalau tidak bekerja tambang seperti ini, mau kerja apa lagi atuh?” ujar Aming saat ditemui di rumah duka.

Aming menuturkan, tambang batu kapur sudah ada sejak 1960 silam. Terhitung sejak 1980, satu per satu warga mulai beralih menjadi juru tambang batu kapur.

Hingga Aang, yang semula bekerja sebagai sopir juru angkut, juga ikut tergiur dan menjajal profesi barunya sebagai juru tambang. ”Dulu itu Aang kerja sebagai sopir. Tapi sejak tahun lalu dia beralih menjadi juru tambang Limestone,” bebernya.

Kendati demikian, apa yang terjadi terhadap mendiang Aang sudah diterima dan dipahami keluarga, sebagai salah satu risiko kecelakaan dalam bekerja. ”Kita dari keluarga sudah menerima. Namanya juga juru tambang. Lagi pula setiap pekerjaan itu selalu ada risikonya. Pihak perusahaan juga sudah memberikan santukan sebesar Rp8 juta kepada keluarga,” tandasnya.

Kepala Desa (Kades) Klapanunggal Prihartini membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, profesi juru tambang batu kapur seolah sudah menjadi profesi turun-temurun sejak dahulu kala. Bahkan pemerintah desa juga sempat memberi pemahaman kepada masyarakat akan bahaya yang mengintai dari pekerjaan tersebut.

Namun, imbauan itu tak dihiraukan masyarakat. Pihaknya juga mengimbau kepada para pelaku tambang agar mengedepankan keselamatan para pekerjanya dan tidak semata-mata memperlakukan masyarakat dengan seenaknya, tanpa memikirkan serta tidak mengutamakan keselamatan para pekerja saat melakukan aktivitas tambang.

”Kerjaan itu sudah turuntemurun dilakukan warga. Kita sebagai pihak desa sudah sering memberi pemahaman kepada warga. Tapi namanya sudah turun-temurun, imbauan kami jadi tak dihiraukan. Intinya kami ingin pihak terkait mengedepankan keselamatan para pekerjanya, serta mengutamakan sistem keamanan,” tegasnya.

Disinggung soal izin operasional tambang Limestone, tempat Aang bekerja, baik pihak desa maupun kecamatan sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Pertambangan itu dikelola PT Kharisma Nunggal Sejahtera sebagai koperasi yang bertugas mengakomodasi sejumlah tambang, termasuk Limestone tempat mendiang bekerja.

”Saya tidak tahu pasti. Saya juga jadi camat belum genap satu pekan,” singkat Camat Klapanunggal Ahmad Kosasih di ruang kerjanya, kemarin.

Hingga berita ini diturunkan, PT Kharisma Nunggal Sejahtera belum memberi keterangan dan penjelasan terkait izin tersebut. Bahkan saat ditemui di kantornya, pihak manajemen sedang tidak di lokasi.

”Saya tidak tahu pasti, soalnya orang kantor sedang tidak ada di sini. Sedang pergi,” ujar satpam PT Kharisma Nunggal Sejahtera yang enggan disebutkan namanya saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Ahmad Kosasih mengaku baru mengetahui kejadian tersebut hari ini (kemarin, red). Ia menjelaskan bahwa peristiwa yang terjadi di lokasi tambang yang dikelola koperasi setempat memang memakan korban empat orang. Dua di antaranya meregang nyawa.

”Izin mereka lengkap sampai 2020. Tapi memang untuk sementara lokasi tersebut tutup dulu,” ujarnya kepada Metropolitan.

Ia juga membenarkan bahwa korban yang meninggal dikarenakan tertimpa reruntuhan batu di mulut goa. Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Klapanunggal Iptu Tri Lesmana enggan berkomentar banyak terkait kejadian tersebut.

”Kalau mau tahu cek saja langsung ke lokasi,” singkatnya kepada Metropolitan, kemarin.

Saat mencoba dikonfirmasi kepada Polres Bogor, Kasubag Humas Polres Iptu Ita mengatakan bahwa polres belum menerima laporan apa pun terkait kejadian tersebut. ”Belum ada laporan dari polsek setempat ke kita,” ungkapnya. (ogi/cr2/d/mam/run)