Niat Ibadah, Tiga Jemaat Dijemput Maut

by -

METROPOLITAN – Niat pergi ke gereja, satu rombongan jemaat mengalami kecelakaan tunggal di Tol Jagorawi Km 36, Desa Cipambuan, Kecamatan Babakanmadang, kemarin.

Mobil APV bernomor polisi F 1196 FH yang dikemudikan Josni Jafet Tigor (34) mengalami pecah ban belakang bagian kanan, hingga menyebabkan tiga dari sembilan penumpang tewas di tempat.

Korban meninggal dunia langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi untuk kemudian dipulangkan kepada pihak keluarga.

Sementara lima dari enam korban yang mengalami luka berat dan ringan langsung dibawa petugas ke Rumah Sakit (RS) EMC Sentul, Kabupaten Bogor, untuk mendapat penanganan medis.

Kepala Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bogor AKP Fadli Amri mengatakan, dari hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan keterangan saksi, mobil tersebut bergerak dari arah Bogor menuju Jakarta di lajur tiga. Setibanya di Tempat Kejadian Perkara (TKP), mobil tersebut mengalami pecah ban belakang kanan, lalu kendaraan oleng ke kiri dan terguling di lajur satu.

Mobil tersebut sempat terseret sejauh 50 meter dan terhenti dalam posisi berdiri melintang di lajur dua. Saat terguling, seluruh penumpang maupun pengemudi terpental keluar dan bergelimpangan di bahu jalan. Ada pula yang terhimpit di bawah mobil.

Akibat kejadian itu, tiga orang tewas di TKP, tiga orang luka berat dan tiga lainnya luka ringan. Korban tewas adalah Abraham Mbiliyora (29), Yehezkiel Giovanni Reinaldo (18) dan Abdiwijaya Tamba (17). Abraham dan Abdiwijaya merupakan warga Perumahan Griya Katulampa, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Sedangkan Giovanni berasal dari Jalan Aes Nasution, Kelurahan Gadang, Kecamatan Banjarmasin, Kota Banjarmasin.

”Ketiga korban meninggal dibawa ke RSUD Ciawi,” tutur Kasat Lantas Polres Bogor AKP Fadli Amri.

Sementara tiga korban luka berat adalah pengemudi APV, Josni Jafet Tigor, Santa Hagar Mbiliyora (22) dan Rasio BR Tamba (19). Sedangkan Irene Betzy (21) dan Yuldi Bongga (26) mengalami luka ringan. Sembilan korban tersebut tinggal di kawasan Griya Katulampa, Blok C-3 No 28, RT 06/10, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur.

Namun, rumah duka korban tampak sepi hingga sore kemarin. Di rumah berwarna hijau muda itu hanya terlihat dua sepeda motor terpakir rapi di garasi.

Menurut pengakuan warga, sembilan korban dari kecelakaan tunggal kemarin, hampir sebagian besar berasal dari luar Jawa, seperti Banjarmasin, Sumba Timur, Siak, Deli Serdang.

Rumah yang ditanggalinya kini merupakan rumah produksi sayuran organik yang selama ini digeluti sembilan mahasiswa tersebut. Tak hanya sayuran organik, rumah dua lantai dengan pagar garasi berwarna biru telur asin itu juga digunakan sebagai tempat berjualan beragam obat herbal hingga tanaman herbal lainnya.

Tita Rosita, warga setempat, mengatakan bahwa rombongan jemaat gereja yang menjadi korban kecelakaan di Tol Jagorawi itu sebagian besar masih berstatus mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Jabodetabek. Ada yang kuliah di IPB, Universitas Indonesia, Universitas Juanda dan Universitas Pakuan.

”Mereka ini bikin kelompok usaha di sini, usaha obat dan macam-macam dari tumbuhan. Mereka juga punya tempat pembibitan di ujung perumahan. Depan rumah ibu itu tempat bikin dan pengepakannya, terus mereka jual secara online,” terang Tita.

Perempuan berjilbab itu mengungkapkan, sebelum pergi ke Serpong, Josni Jafet Tigor, Abraham Mbiliyora dan Yuldi Bongga sempat mampir ke warungnya membeli makanan ringan dan nasi uduk untuk sarapan. ”Si Bram (Abraham, red) sempat minta nasi uduk untuk dibawa ke sana, kebetulan habis. Minta nasi putih juga ibu belum masak. Karena nggak ada, akhirnya dia bawa ketan,” tutur Tita.

Sebelum pergi, mereka juga sempat makan puding, bolu kukus, bakpau yang dibeli dari warungnya. Kemudian Yuldi membungkus kue-kue tersebut untuk bekal di perjalanan. ”Yuldi yang bayar semua, ngasih Rp50 ribu. Terus mereka pergi, bilangnya mau ibadah di Serpong,” ujarnya.

Namun, ia tidak mengetahui pasti berapa jumlah rombongan yang pergi untuk beribadah ke Tangerang, Banten itu. Saat itu, ia hanya mengetahui ada satu kendaraan saja yang berangkat. Menurut Tita, para korban kecelakaan APV itu setiap sebulan sekali pergi ke Serpong untuk beribadah di gereja, bersama perkumpulannya dari berbagai daerah.

”Saya sempat tanya juga ke Bram, ’Tumben berangkat siang amat, biasanya habis Subuh sudah berangkat’. Dia jawab, ’Iya bu, tapi sore juga sudah nyampe sini lagi’,” ungkapnya. (ogi/b/ lip/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *