Pemkot Bogor Paksa 7.151 ASN Beli Batik

by -68 views

METROPOLITAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dibawah komando Wali Kota Bogor Bima Arya beberapa waktu lalu resmi memiliki batik Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kini diwajibkan bagi para PNS di lingkungan Pemkot Bogor untuk mengenakan batik tersebut minimal seminggu sekali.

Dengan maksud, agar PNS Kota Bogor punya batik sendiri, yang disebut-sebut sebagai yang pertama dalam sejarah, yang wajib digunakan tiap Jumat menunjukan ciri Kota Bogor dalam batik tersebut. Rupanya hal itu dianggap kebijakan yang aneh bagi anggota DPRD Kota Bogor Saeful Bakhri.

Politisi PPP itu mempertanyakan kebijakan Bima Arya, namun malah membebankan para PNS. Hal itu karena tidak ada anggaran khusus yang dialokasikan untuk pembelian seragam pegawai. Saeful melihat hal itu sebagai kebijakan aneh. Karena jika dibayangkan, masing-masing harga bahan batik itu berkisar Rp275 ribu. Itu pun belum ditambah ongkos jahit.

“Total yang harus dikeluarkan bisa-bisa mencapai Rp400 ribu. Karena tidak ada anggaran yang dialokasikan untuk belanja seragam pegawai. Apa tidak memberatkan para PNS?” ujarnya kepada Metropolitan, kemarin.

Ia juga mempertanyakan persetujuan begitu saja usulan dari Dekranasda untuk ‘menyuplai’ bahan atau batik yang diwajibkan oleh pimpinan Pemkot Bogor. tanpa melihat latar belakang kebijakan dan penunjukan. “Jika memang menghidupkan ekonomi usaha batik, pengusaha yang mana? Ada berapa produsen batik itu? Kalau hanya satu, misalnya, apa namanya tidak monopoli itu,” ketusnya.

Keberatan itu rupanya sedikit banyak dirasakan PNS Kota Bogor, terlebih untuk mereka yang berstatus staf, seperti di kelurahan atau kecamatan, lantaran harus menyisihkan cukup banyak uang untuk mengadakan batik khusus Bogor itu dalam bekerja. Salah satu PNS staf dinas di lingkungan Pemkot Bogor yang enggan namanya dikorankan menyebut, secara aturan ia mendukung aturan tersebut. Namun apabila menilik kocek yang harus dikeluarkan untuk membeli batik, rasanya ada yang mengganjal.

“Kalau yang status atau golongannya tinggi, punya jabatan, mungkin nggak terlalu ngaruh ya. Tapi buat kami, staf biasa, mungkin yang di kelurahan atau kecamatan juga, rasanya harus merogoh uang di dompet lebih dalam itu lumayan juga. Tapi ya itu aturan, harus dilakukan sih,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto meresmikan batik ASN Kota Bogor disertai launching logo 100 persen Bogor Pisan. Batik itu pun diwajibkan untuk dipakai pada hari jumat bagi para PNS di lingkungan Pemkot Bogor. Jadi, kata dia, tidak ada lagi alasan bagi para ASN Kota Bogor untuk tidak mengenakan batik ASN.

“Ini tahap awal, dimulai dari seluruh kepala dinas, pimpinan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah, red) dan berikutnya akan disusul oleh seluruh ASN di Pemkot Bogor,” katanya.

Untuk pembuatan batik ASN, sambung dia, turut melibatkan enam pengrajin binaan Kota Bogor melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) yang diketuai Yane Ardian Bima Arya. Keenam pengrajin itu ialah Batik Tradisiku, Batik Handayani Geulis, Batik Pancawati, Batik Paniisan, Batik Mago, dan Batik Indira. (ryn/c/mam)