Permohonan Maaf Imam Nahrawi kepada Jokowi

by -

METROPOLITAN – Setelah ditetapkan menjadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Imam Nahrawi mengumumkan pengunduran dirinya dari posisi menteri pemuda dan olahraga (menpora) karena menjadi tersangka kasus suap dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Imam Nahrawi juga meminta maaf kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla.

Imam menyampaikan pengunduran dirinya di kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Senayan, Jakarta, Kamis (19/9). Ia mengundurkan diri untuk fokus menjalani proses hukum di KPK.

“Sebagai warga negara yang taat hukum, dan sekali lagi saya ingin fokus menghadapi itu, saya berharap kepada semuanya, keluarga, guru-guru saya, kiai-kiai saya, sahabat-sahabat saya, saudara, kolega saya di kementerian, semoga saya bisa menghadapi proses hukum ini dengan lancar. Tentu dengan pertolongan Allah SWT,” ujar imam di hadapan wartawan.

Dalam pesannya, ia ingin para pejabat di Kemenpora melanjutkan perjuangan mengembangkan olahraga di Tanah Air. Apalagi Indonesia ke depan akan menjalani even olahraga seperti SEA Games hingga Olimpiade di Tokyo pada 2020.

“Saya mohon pamit dari Kemenpora, saya sudah menyelesaikan tugas di sini dan setelah ini saya menjalani tugas baru. Semoga tugas baru ini bisa saya laksanakan dan kuat, dengan sepenuh hati. Terima kasih kepada wartawan, terima kasih semuanya, terima kasih seluruh rakyat Indonesia. Izinkan saya berjuang untuk hadapi kenyataan ini. Semoga Allah memberikan pertolongan dan jalan kebaikan untuk kita semua,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengungkapkan bahwa Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) dengan tersangka Menpora Imam Nahrawi sudah dikirim beberapa pekan lalu.

Hal itu menampik pengakuan Imam yang menyatakan bahwa penetapan tersangka terhadap dirinya baru diketahui usai KPK menggelar konferensi pers, Rabu (18/9) sore. Namun Laode tidak menjelaskan kapan tanggal SPDP itu dikirimkan.

“Saya juga ingin mengklarifikasi dari pernyataan Menpora (Imam Nahrawi, red) bahwa dia baru mengetahui kemarin. Saya pikir itu salah, karena kita sudah kirimkan. Kan kalau kita menetapkan status tersangka seseorang itu ada kewajiban dari KPK untuk menyampaikan surat kepada beliau,” jelas Laode di kantornya, Kamis (19/9). “Dan beliau sudah menerimanya beberapa minggu lalu,” lanjutnya.

Laode juga belum bisa menyampaikan kapan Imam akan menjalani pemeriksaan. Ia beralasan belum ada informasi dari penyidik. “Saya kurang tahu, tetapi kemarin sudah. Saya yakin penyidik sudah memanggilnya lagi karena beliau sudah beberapa kali ya tidak datang,” katanya.

KPK sendiri sudah memanggil Imam Nahrawi sebanyak tiga kali untuk memberikan keterangan dan klarifikasi. Itu dilakukan pada periode Juli-Agustus 2019. Namun, Imam selalu mangkir. Imam Nahrawi ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena diduga menerima suap sebesar Rp26,5 miliar sebagai komitmen fee dari sejumlah sumber. (cn/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *