Rela Jadi Tukang Cuci Baju demi Gapai Impian

by -
BANGGA: Tati Sri Rahmawati resmi jadi dokter gigi usai menyelesaikan Pendidikan Dokter Gigi di Universitas Jenderal Soedirman pada 2011 silam.

METROPOLITAN – Kisah pilu selalu menghiasi perjalanan hidup manusia. Seperti yang dialami gadis bernama Tati Sri Rahmawati, kini bisa merasa lega dan bangga setelah resmi menjadi dokter gigi. Menjadi dokter gigi merupakan salah satu mimpi terbesar Tati. Namun, jalan Tati untuk mewujudkan mimpinya itu tidaklah mudah.

Gadis kelahiran  Ciamis, Jawa Barat, 7 Maret 1993, itu tumbuh dalam keluarga yang sangat se­derhana. Ayah Tati Sri Rahmawati be­kerja sebagai kernet bus dan sering bekerja . Sedangkan ibunda Tati merupakan ibu rumah tangga biasa. Meski begitu, Tati justru tak berkecil hati melihat profesi kedua orang tuanya.Malah, anak sulung dari empat bersaudara itu justru sangat ingin kuliah dan mewu­judkan mimpinya.

Alasannya, Tati ingin berkuliah agar bisa menaikkan derajat orang tua serta menyekolahkan adik-adiknya. Seakan mendapatkan jalan, Tati kemudian diterima menjadi mahasiswa S1 Pen­didikan Dokter Gigi di Uni­versitas Jenderal Soedirman (Unsoed) pada 2011 silam.

Sudah mendapatkan kursi mahasiswa di Unsoed, tak serta-merta membuat Tati langsung yakin melanjutkan kuliah. Salah satu sebabnya adalah ayah Tati yang ragu jika upahnya sebagai kernet bus tak mampu membiayai pendidikan sang putri. ”Awal­nya orang tua ragu dan kha­watir tidak mampu membi­ayai kuliah saya.

Tapi berkat dukungan dari semua pihak, kami percaya Tuhan pasti akan memberikan rezeki dan op­timistis bisa menjalani se­muanya sampai akhir,” ucap Tati. Dalam rilis yang diterbitkan Humas Unsoed, Tati menga­ku sempat menganggap sepele biaya perkuliahannya. Ia mengira biaya pendidikan dokter gigi tak akan sebesar kedokteran umum.

Ternyata anggapannya salah besar. Tati pun dihadapi masa-ma­sa sulit, terutama ketika ke­takutan ayahnya menjadi nyata. Upah sang ayah seba­gai kernet bus ternyata tidak cukup. ”Orang tuanya kala itu tidak memiliki pilihan lain selain menjual tanah yang dimiliki. Perlahan kebun dan sawah yang dimiliki menjadi milik orang lain,” ucapnya.

Demi tetap bisa meneruskan kuliahnya, Tati akhirnya memu­tar otak berulang kali. Hingga pada 2013, Tati mulai berjua­lan jajanan basreng dan ma­karoni di lingkungan kampus. ”Selain itu, saya juga mem­buat pesanan bunga flanel untuk wisuda, ngajar les privat anak SD, menjadi asisten di klinik,” kenang Tati.

Bahkan, Tati sampai rela menjadi tukang cuci di kon­trakannya untuk teman-te­mannya. Kerja keras yang dilakukan Tati pun berbuah manis. Tati melaksanakan upacara Sumpah Dokter Gigi. Tati juga resmi diwisuda pada esok harinya. Meski sudah berhasil menjadi dokter gigi, Tati tak berhenti bermimpi. Kini Tati berkeinginan mela­njutkan S2 dan pendidikan spesialis. (kmp/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *