Saya Anak orang Miskin, Tapi Saya Tidak Minder (Habis)

by -
SEMRINGAH: Lailatul Qomariyah foto bersama orang tua tercintanya saat sidang terbuka promosi doktor.

METROPOLITAN – Setelah memiliki ontel, Lailatul yang pernah menempuh pendidikan di TK Muslimat NU Pamekasan itu rajin mengikuti les selama dua kali dalam seminggu. Ayahnya sendiri tidak tahu dari mana biaya les itu diperoleh.

Selama menempuh pendidikan di SMAN 1 Pamekasan, Lailatul yang juga dikenal kutu buku di rumahnya itu selalu meraih ranking satu, yang sekaligus mengantarkan dirinya diterima di dua perguruan tinggi terkemuka di Surabaya. ”Setelah lulus SMA, Lailatul diterima di Unair Surabaya dan di ITS Surabaya. Tapi pilihannya jatuh ke ITS,” ungkap Saningrat.

Saat hendak kuliah di Surabaya, Saningrat sempat membujuk Lailatul agar memilih kuliah di Pamekasan saja. Pertimbangannya, karena Lailatul anak perempuan dan Saningrat sendiri menganggap dirinya tidak akan mampu membiayainya. Apalagi Saningrat sering mendapat cibiran dari beberapa orang bahwa dirinya tidak akan mampu membiayai pendidikan anaknya. ”Cibiran tetangga ke saya begini, ’Jadi tukang becak mau menyekolahkan anaknya ke Surabaya, dapat uang dari mana, apalagi tanahnya hanya sepetak yang ditempati sebagai rumahnya’,” tutur Saningrat.

Namun, cibiran orang itu dianggap sebagai motivasi oleh Saningrat. Begitu pula dengan Lailatul. Ia sudah bulat tekadnya untuk tetap melanjutkan pendidikan ke ITS sambil menutup telinga dari cibiran para tetangga. ”Bapak dan ibu tidak perlu kawatir soal biaya kuliah saya. Semoga saya mendapatkan rezeki sampai lulus,” tutur Saningrat, mengenang kata-kata anaknya ketika hendak berangkat ke Surabaya. Setelah Lailatul Qomariyah dinyatakan lulus sebagai mahasiswa baru di ITS, Saningrat dipanggil untuk datang ke kampus ITS. Saningrat datang dengan baju seadanya dan bersandal jepit.

Untuk menemukan anaknya, Saningrat berkeliling kampus ITS kurang lebih satu jam lebih karena tidak tahu di mana ruangan yang harus dituju. Beruntung ada satpam yang mengarahkan Saningrat ke ruang kuliah Fakutas Teknologi Industri. ”Ketika saya mau masuk ke ruang pertemuan anak saya, saya lihat orangtua dan mahasiswa yang lain turun dari mobil pribadi semua dan berdasi, sedangkan saya hanya bersandal jepit. Tapi anak saya tidak minder dan mengajak saya masuk ke dalam ruangan,” kata Saningrat.

Selama menempuh pendidikan S1, Saningrat dan istrinya tidak pernah dimintai biaya kuliah dan biaya hidup oleh Lailatul. Ia sudah hidup mandiri di Surabaya dengan mengisi les privat dari rumah ke rumah. Dari setiap anak, Lailatul mendapat honor Rp800.000. Dari pendapatannya itu, Lailatul masih sempat mengirimkan uang kepada orang tua, terutama ketika ayahnya butuh uang untuk modal bertani di musim tembakau. ”Seingat saya, saya hanya mengeluarkan biaya Rp10 juta untuk beli motor dan Rp6 juta untuk beli laptop Lailatul. Selain itu, saya lebih sering dikirimi uang oleh Laila untuk modal bertani,” katanya.

Sementara itu, Lailatul Qomariyah mengaku tidak pernah merasa minder karena berlatar belakang anak seorang tukang becak. Meskipun setiap hari dirinya naik ontel sejauh 5 km dari tempat kos ke kampusnya, hal itu tidak mengurangi semangat untuk meraih prestasi gemilang hingga lulus doktor dengan IPK 4.0. ”Saya anak orang miskin, tapi saya tidak minder. Yang saya butuhkan adalah semangat orang tua, doa orang tua dan kesabaran orang tua. Hasilnya saya petik saat ini dan untuk masa depan saya,” ungkapnya.

Minggu, 15 September 2019, Lailatul Qomariyah, anak kebanggaan Saningrat, itu akan diwisuda. Saat sidang terbuka disertasi Lailatul pada 4 September 2019, Saningrat datang bersama enam saudaranya yang juga paman Lailatul. Saat sidang berlangsung, mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa yang menjadi perbincangan antara anaknya dan tujuh profesor yang menguji Lailatul. Pasalnya, bahasa yang digunakan bahasa Inggris. ”Saya dan paman-pamannya Laila hanya duduk kebingungan karena kami tidak mengerti bahasa Inggris. Kami ini orang kecil. Tapi sekarang saya bangga dengan anak saya,” katanya. ”Bukan saya sombong dengan prestasi anak saya saat ini, saya mensyukuri nikmat besar anak saya bisa sampai doktor tanpa saya banyak mengeluarkan biaya,” ungkap Saningrat. (kmp/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *