Sebulan Jualan, Omzet eks PKL Dewi Sartika Jeblok

by -99 views

METROPOLITAN – Sejak pertengahan tahun, para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang biasa berjualan di bahu pinggir Jalan Dewi Sartika dekat Taman Topi, Kecamatan Bogor Tengah direlokasi ke Jalan Nyi Raja Permas. Tak kurang dari 40 hari mereka berjualan di tempat baru, lokasi yang didesain oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), rupanya pendapatan para pedagang turun drastis. Bahkan tak sampai setengahnya dari omset berdagang di tempat semula.

Salah satu pedagang sepatu, Sanusi mengatakan, pihaknya bersama para PKL sejatinya tidak keberatan dipindah ke tempat baru. Asal, lokasinya punya potensi pendapatan yang kurang lebih sama dengan tempat sebelumnya. Artinya harus ada skema pembuatan kios hingga arus orang berjalan atau angkot yang lewat sehingga memicu keramaian. Sayangnya, janji yang pernah dilontarkan Pemkot Bogor soal penataan dan relokasi PKL Dewi Sartika rupanya masih jauh panggang dari api.

“Sangat terasa omsetnya jauh pisan. Kalau disana (Jalan Dewi Sartika, red) minimal satu hari itu sepuluh pasang mah laku terjual. Disini satu hari dapat jualan lima pasang saja sudah wah, kadang cuma dua,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Ia mengaku tidak keberatan dengan relokasi, namun semestinya Pemkot Bogor juga konsisten dengan kesepakatan saat PKL bersedia untuk dipindah. Pada pedagang mengeluhkan posisi Jalan Nyi Raja Permas yang tidak strategis karena tidak banyak dilewati orang-orang. Padahal, bersebelahan dengan Stasiun Bogor dan Pasar Anyar.

“Akses utama orang dari stasiun bukan disini, malah membelakangi. Belum lagi posisi kami kan terhalang gedung Pasar Kebonkembang. Terhalang parkir juga. Satu lagi, dulu juga pernah ada janji mau rekayasa lalu lintas, supaya angkot masuk jalan ini, jadi banyak orang lihat. Tapi itu belum terealisasi,” tandasnya.

Tiga poin itu sempat diontarkan Pemkot saat pertemuan dengan para pedagang. Sayangnya, hal itu belum dapat terlaksana karena terkendala banyak hal. Ia bersama para pedagang lain pun menagih janji pemkot untuk merealisasikan skema terbaik agar omset mereka setidaknya kembali normal. Ia berharap, janji pasca-tinjauan kali ini akan menemui titik terang.  Sanusi menyadari hal itu tidak mudah, misalnya pembukaan akses stasiun ke Jalan Nyi Raja Permas yang terbentur kebijakan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk buka akses penumpang ke Jalan Nyi Raja Permas

“Respon sudah baik lah. Untuk permintaan kami itu. Tapi jangan diabaikan juga, kalau seperti itu lalu omset kami turun, ya turun lagi ke bahu jalan (Dewi Sartika). Susah-susah amat dari pada nasib kami nggak jelas dan nggak laku-laku. Mudah-mudahan saja kali ini janjinya ditepati,” paparnya.

Terpisah, Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ) Muzakir mengatakan, beberapa konsep sudah ditawarkan dan ada yang sudah dijalankan oleh pihaknya dan Pemkot Bogor melalui dinas terkait, agar PKL Nyi Raja Permai ramai dikunjungi dan dilewati warga. Misalnya dengan bazar dan senam sehat yang sudah dilakukan beberapa waktu lalu.

“Kita coba bantu PKL dengan beberapa konsep. Jalur angkot melewati Nyi Raja Permas, pengajuan pembukaan lebar pintu akses kereta api, akan ada bazzar. Itu semua sedang diupayakan,” tuntas mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Bogor itu. (ryn/b/mam)