Sekda Bogor yang Rajin Blusukan

by -

METROPOLITAN – Setelah ditinggal Asisten Administrasi Umum Achsin Prasetyo yang wafat pekan lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kembali berduka. Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor 1999-2001 yang dikenal sebagai Wali Kota Cimahi dua periode, Itoc Tochija, tutup usia di RS Hasan Sadikin, Sabtu (14/9) lalu. Sosok Itoc merupakan pribadi yang unik bagi PNS Pemkot Bogor, termasuk bagi Diani Budiarto, mantan Wali Kota Bogor yang pernah jadi bawahannya sewaktu almarhum jadi sekda.

Laporan : Ryan Muttaqien

Saat Itoc jadi sekda, Diani Budiarto masih menjabat Asisten Tata Praja Setda Kota Bogor. Buatnya, almarhum dikenal profesional di bidang yang jadi tanggung jawabnya, menguasai aturan teknis dan bisa menjabarkannya di lapangan. Apalagi, ia juga sering turun langsung ke lapangan.

“Temasuk (proyek) jalan tol BORR (Bogor Outer Ring Road, red), waktu itu Pak Itoc langsung bareng pejabat terkait, survei lapangan dengan jalan kaki keluar masuk kebun dan melintas sungai, kondisi saat itu,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Pria yang pernah menjabat Wali Kota Bogor selama sepuluh tahun itu menambahkan, pribadi Itoc tegas dan konsisten namun diselingi dengan canda-canda ringan baik dalam tugas, maupun dalam komunikasi personal. Sehingga tidak membuat suasana kaku dan mencekam.

“Sebagai bawahan ia seperti itu. Karena sama-sama hobi nyanyi, kita sering nyanyi bareng untuk menyelingi aktifitas pekerjaan yang padat,” ucap Diani.

Garis tangan pun membawa atasan-bawahan itu menjadi pimpinan daerah berbeda di Jawa Barat, di periode yang hampir bersamaan. Diani duduk sebagai Wali Kota Bogor sejak 2003, sedangkan Itoc jadi wali kota pertama di Kota Cimahi.

Pada saat sama-sama jadi wali kota, hubungan mereka tetap akrab dan segar saling tukar informasi mengenai masalah dalam mengelola pemerintahan. Dengan komunikasi yang sama layaknya saat bertugas di Bogor. Meski begitu, Diani mengakui, ada satu etika moral yang tetap dipertahankan bahwa ia tetap anak buah dari almarhum. Persoalan hukum yang membelit Itoc juga disebut jadi pembelajaran bagi warga, terutama bagi para PNS. Namun tetap tidak merubah kesan secara personal pertemanan dan atasan dalam pekerjaan.

“Kalau istilah orang Bogor, saya tidak pernah calutak (tidak sopan kepada yang lebih tua, red) kepada senior saya. Termasuk ke beliau. Etika moral itu saya pertahankan walaupun sama sama wali kota waktu itu. Tetap hormat sama senior lah,” pungkas Diani.

Itoc meninggal setelah menderita sakit paru-paru dan menghembuskan nafas terakhir sekira Sabtu (14/9) pukul 11.45 WIB di RS Hasan Sadikin Bandung. Almarhum dikebumikan di pemakaman keluarga di Ciheuleut, Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, kemarin (15/9). (ryn/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *