Suami Kasar, Aku Pilih Selingkuh! (1)

by -13.7K views

METROPOLITAN –  Ini adalah kisah nyata dalam hidup saya. Sebut saja saya Popy. Saya seorang wanita yang menikah di usia yang terbilang muda yakni 20 tahun. Saya menikah dengan seorang duda anak dua yang usianya 15 tahun di atas saya.

Kami berkenalan di pulau Bali dan memutuskan menikah dan hidup di Jawa. Tepat di hari pernikahanku, air mata itu tak henti menetes. Penyesalan dan keraguan dalam diri sen­diri terus menghantui. Entah apa yang se­dang saya pikir­kan, yang ada saya terus saja ingin menangis dan berte­riak. Hari berganti, waktu terus berputar. Saya jalani hidupku sewajarnya se­bagai istri dalam rumah tang­gaku.

Tak ada kehangatan di dalam rumah tanggaku. Saya seperti hidup dalam kesunyian padahal ada suamiku di rumah. Suamiku sangat keras dan dingin. Dia tidak mau tahu urusan dapur apalagi wanita.

Di usiaku yang masih muda dan masih ingin disayang atau dimanja, sama sekali tak pernah aku dapatkan dari suamiku. Dia beranggapan itu semua tak terlalu penting untuknya. Cekcok terus terjadi di usia pernika­hanku yang masih terhitung muda saat itu. Sampai akhirnya suami saya memutuskan pergi dari rumah dan meninggalkan cincin kawin kami di lemari kamar.

Hancur seketika hatiku. Sebagai istri yang tak pernah dihargai saya terus bertahan untuk anak dan rumah tang­gaku. Terlebih lagi masa mudaku yang telah kukorban untuk menikah dengan­nya serasa hancur lebur tiada arti. Sebulan lamanya saya ditinggal sua­mi. Akhirnya dia memberi kabar melalui mertua saya bahwa dia sedang di Bali bersama kedua anaknya.

Lalu, saya putuskan untuk meny­usulnya ke Bali berdua dengan anak saya yang saat itu masih berusia 1 tahun. Singkat cerita, kami hidup kembali berdua di Bali. Yang saya harapkan hanya perubahan terbaik untuk keutuhan rumah tanggaku dan anak.

Keuangan kami hancur dan saya putuskan untuk bekerja dengan izin suami. Seiring berjalannya waktu, saya lakukan sewajarnya sebagai pe­kerja sekaligus ibu. Berangkat pagi pulang sore, ketemu anak ngurus rumah dan suami. Tapi tetap kebe­kuan dalam rumah tanggaku tak bisa diubah. Suamiku semakin asyik dengan dunia gelapnya, minum-minum dan entah apa yang ada di kepalanya se­ketika kami cekcok hebat dan dia memukul saya sampai membekas.

Seumur kami menikah, dia memang suka main tangan. Tapi baru kali itu dia memukulku sampai membekas di daerah mata. Luka hatiku yang di­tinggal pergi waktu itu saja masih membekas, ditambah lagi pukulan yang dia lakukan secara sadar hanya karena masalah sepele yang dia buat sendiri.

Dendam hanya dendam dan sakit hati yang saya rasakan setiap kali me­lihat suamiku, sampai akhirnya batas kesabaranku habis juga. Di usia per­nikahanku yang menginjak tahun ke 4, saya yang lemah dan terinjak akhir­nya kalap dan berontak dengan keada­an yang saya alami. (Bersambung)