Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas bakal Dipasang Nano Bubble

by -85 views

CILEUNGSI – Pasca-penutupan saluran air limbah yang berakibat aliran Sungai Cileungsi berubah hitam pekat lantaran tercemar, Pe­merintah Kabupaten (Pemkab) Bo­gor langsung mengalokasikan APBD untuk mengatasi persoalan yang selalu dialami sungai tersebut.

Anggaran tersebut nantinya akan digunakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memasang nano bubble yang diharap menjadi jalan pintas mengatasi pencemaran lingkungan. Selain itu, di bantaran sungai juga akan ditanami pohon.

“Dengan adanya anggaran ini, bukti Pemkab Bogor serius me­nangani pencemaran Sungai Ci­leungsi. Rencananya upaya dilaku­kan September hingga akhir No­vember,” terang Kepala DLH Kabu­paten Bogor, Panji Ksatriyadji, ke­marin.

Sementara itu, Sekretaris DLH Kabupaten Bogor, Anwar Anggana, menjelaskan, pemasangan nano bubble akan dilakukan di kedua sungai di timur kabupaten tersebut. Ada lima nano bubble yang sudah disiapkan. Dua di antaranya dipasang di Sungai Cikeas dan tiga lainnya di Sungai Cileungsi. Yakni, Kecamatan Klapanunggal, Gunungputri dan Kecamatan Cileungsi.

Fungsinya, sambung Anwar, akan mengurangi polusi atau bau yang ditimbulkan akibat limbah yang dibuang sejumlah pabrik. Lokasi pemasangan nantinya, di sekitar sungai yang bermuara ke Bekasi.

”Fungsi gelembung nano ini agar warga sekitar tidak atau kurang ter­dampak bau limbah di Sungai Ci­leungsi dan Cikeas. Dampak polusi bau atau udara itu, warga sekitar kerap pusing dan mual,” terangnya.

Menurut Anwar, pencemaran sungai ini harus mendapat perha­tian khusus dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Anwar pun meminta seluruh pihak terkait lebih mem­perhatikan kondisi sungai dengan persoalan sama setiap tahunnya.

“Sungai Cileungsi ini sebenarnya pengawasannya wewenang pemerin­tah pusat maupun provinsi. Saya berharap mereka ikut menangani pencemaran sungai ini, seperti layaknya pada Sungai Citarum,” katanya.

Di samping itu, Anwar mengung­kapkan setiap Rabu dan Kamis pada bulan ini, DLH akan rutin menutup saluran air limbah secara permanen terhadap pabrik yang tidak memiliki IPAL. “Dua pabrik setiap harinya. Akan dilakukan satu bulan ini,” bebernya.

Kabid Pengendalian Pencemaran Lingkungan DLH, Endah Nurmay­ati, menambahkan, DLH kabupa­ten akan melakukan tindak lanjut ke-12 pabrik yang terduga tidak memiliki Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL). Rencananya, DLH meminta Kementerian Ling­kungan Hidup (KLHK) memberi­kan pelatihan teknis seputar pembangunan IPAL.

”Agar nantinya bisa diterapkan pabrik yang rentan pembuangan limbah. Rencananya, pada perteng­ahan September KLHK memberikan pelatihan teknis pembangunan IPAL yang baik kepada manajemen pabrik di sekitar Sungai Cileungsi maupun Sungai Cikeas,” tandasnya. (rb/els/py)