Tiga Bulan Contraflow Bikin Pengguna Jalan Merugi

by -133 views
REKAYASA: Jalan Sholeh Iskandar diberlakukan rekayasa lalu lintas pada Senin (16/9) malam akibat pembangunan erection box girder.

METROPOLITAN – Untuk memuluskan proses pembangunan jalan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi IIIA yang baru mencapai 54 persen, PT Marga Sarana Jabar (MSJ) melalui PT Pembangunan Perumahan (PP) Persero Tbk akan melakukan sistem contraflow (lawan arus, red) di Jalan KH Sholeh Iskandar lantaran akan dipasangnya erection box girder pada proyek tersebut.

Pengerjaan fisik tol layang sepanjang 2,8 kilometer pada ruas Simpang Yasmin-Salabenda itu sempat dihentikan sementara selama kurang lebih tiga pekan akibat bekisting pier head tiang di pier 10 Tol BORR ambruk awal Juli 2019 lalu.

Namun, jalan Tol Seksi IIIA itu harus rampung akhir Desember 2019 dan diharapkan bisa dioperasikan April 2020. ”Waktunya tinggal tersisa kurang dari empat bulan,” kata Direktur Utama MSJ Hendro Atmojo.

Menurutnya, pengerjaan konstruksi tol layang yang paling berat yaitu memasang 2.100 box girder yang dimulai hari ini. ”Dalam waktu 3,5 bulan harus sudah nongkrong di atas, makanya kita pakai empat alat untuk ngangkat box girder,” ujarnya.

Untuk kelancaran dan menjaga keselamatan pengendara, satu lajur Jalan Sholeh Iskandar ditutup selama proses pemasangan box grider. Sedangkan lajur lainnya tetap dibuka namun dibuat sistem contraflow.

”Penutupan total tidak, traffic kendaraan tetap ada. Dari dua lajur jadi satu lajur. Untuk antisipasi kemacetan kita juga memasang rambu pemberitahuan selama proses erection box girder,” terang Hendro.

Sementara itu, Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor Teofilo Patricinio Freitas mengatakan, pihaknya bersama Satlantas Polres Bogor terjun ke lokasi untuk mengatur lalin hingga proyek pembangunan rampung Desember 2019 mendatang.

“Sebelum kendaraan masuk ke Jalan Sholeh Iskandar, akan diarahkan ke jalur alternatif. Kendaraan yang dari arah Parung menuju Bogor bisa memotong jalan melalui jalur Atang Sendjaja (Semplak, red) dan sebaliknya,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Ia menjelaskan, rekayasa itu diberlakukan lantaran di ruas jalan yang ditutup digunakan sebagai tempat box girder. Selama proses rekayasa lalin berlangsung, sebanyak 25 personel Dishub diterjunkan. Para petugas dibagi menjadi dua sif.

Sif pertama (pagi) sepuluh orang, sif kedua (sore hingga malam) 15 anggota dan dibantu anggota Satlantas Polres Bogor untuk mengatur lalin di jalan ini,” paparnya.

Sementara salah seorang warga Tanahsareal, Rozi Cahyadi (29), mengaku keberatan dengan adanya sistem contraflow. Sebab, menurutnya, dengan digunakannya satu jalur membuat kendaraan menumpuk dan menimbulkan kemacetan.

“Kemarin dua jalur saja macetnya minta ampun. Apalagi ini cuma satu jalur,” ungkapnya.

Rozi mengaku kerap terjebak macet di pagi hari saat ia berangat bekerja. Sebab, di jalan tersebut jarang sekali terlihat petugas mengatur jalan. Kecuali di lampu lalu lintas Simpang Yasmin.

Begitu juga dengan sore hari, kemacetan tak terhindarkan di area pembangunan jalan layang tersebut. Karena itu, ia meminta PT MSJ selaku pengelola Tol BORR atau PT PP Tbk dapat memberi solusi bagi para pengguna jalan.

Tidak hanya mementingkan proyek pembangunan. Apalagi setiap hari Rozi melintasi area pembangunan tersebut. “Mereka hanya mengejar cepat beres saja, tapi kita-kita pengguna jalan dibiarkan macet-macetan. Banyak masyarakat yang merugi, apalagi dengan sistem satu jalur,” keluhnya. (yos/c/mam/run)