Wabup Malu Lihat Kondisi SMP 1 Terbuka Cijeruk

by -32 views

CIJERUK – Kondisi SMP 1 Terbuka Cijeruk kembali membuat wajah suram pendidikan di Kabupaten Bogor.  Wakil Bupati Bogor, Iwan Setiawan mengatakan bahwa apa yang terjadi pada SMP 1 Cijeruk merupakan tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Bogor. “Pemda harus malu. Ini membuat pikiran kami (pemerintah) terbuka dengan adanya kejadian ini,” ucapnya saat ditemui oleh Metropolitan di kantornya, kemarin.

Ia menilai bahwa memang wajib belajar 12 tahun harus benar-benar terealisasikan di Bumi Tegar Beriman demi terbentuknya Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.  “Itu PR kita. PR kita tidak hanya bangunan tapi sdm dan biaya operasional itu harus ada, harus dipikirkan. Karena hak warga negara mendapatkan pendidikan. Apalagi pendidikan gratis harus di konfirmasi dengan fakta di lapangan. Jangan gratis di buku tapi di lapangan bayar,” katanya.

Dengan adanya kejadian seperti di SMP 1 Terbuka Cijeruk, Iwan langsung menugaskan Dinas Pendidikan (Disdik) untuk menginventarisir wilayah mana saja yang membutuhkan pembangunan sekolah. Karena dengan sistem zonasi, menurut Iwan, wilayah terpencil sudah harus mulai dibangun sekolah, agar para murid mampu mendapatkan pendidikan ditempat yang layak. Bukan beralaskan tanah, beratapkan terpal. “Nanti Kita anggarkan sekolah terbuka. Bukan hanya revitalisasi tapi pembangunan juga. Bahkan Saya pernah bahas itu saat rapat terbatas waktu penyusunan RKPD itu,” imbuhnya.

Ia pun mengapresiasi penggagas SMP 1 Terbuka Cijeruk Cucu Sumiati yang menjadikan halaman rumahnya sebagai tempat belajar bagi 65 siswanya. “Ini bikin kurang enak Pemda sampai ada pikiran seperti itu. Hebat luar biasa tapi ke depan harus ada action (dari disdik),” katanya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Disdik Kabupaten Bogor, Entis Sutisna mengatakan kehadiran sekolah terbuka itu untuk menjangkau lokasi yang tidak dapat digapai oleh sekolah reguler atau biasa. “SMP terbuka di Cijeruk sudah lama dan memberikan fasilitas bagi wilayah yang tidak terjangkau dengan sekolah terdekat,” katanya.

Ia menambahkan bahwa memang lokasi belajar bagi para murid SMP terbuka itu bisa dimana saja, baik itu di masjid, menumpang di sekolah lain, bahkan sampai di luar ruangan. “Ini akan di lihat di lapangan buat di kaji ulang. Apa kah disana sudah ada pendidikan atau gimana. Kalau sudah ada maka SMP terbuka sudah tidak di butuhkanlagi,” imbuhnya.

Terkait dengan guru yang mengajar di sekolah terbuka, mantan Camat Ciampea itu menyebutkan bahwa seluruh guru yang mengajar di sebuah SMP terbuka itu menginduk dari SMP induknya. Untuk di SMP 1 Cijeruk, sebenarnya itu sudah ada dananya untuk membiayainya yaitu lewat dana BOS. “Jadi tidak ada alasan memungut biaya kalaupun bentuknya yayasan. Itu gurunya ada yg honor ada yang digaji lewat pemerintah yang dititipkan ke SMP induk,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa nantinya di SMP 1 Terbuka Cijeruk akan segera mendapatkan bantuan memlalui dana CSR ataupun APBD. “Kemarin kita sudah komunikasi dengan sekolah terdekat. Kalau sekolah rusak kita dorong CSR,” tandasnya.(cr2/b/els)