Waspada! Kekeringan Diprediksi hingga Oktober

by -60 views

METROPOLITAN – Stasiun BMKG Bogor memberikan peringatan dini untuk daerah Bogor wilayah Timur, seperti Cileungsi, Jonggol, Cariu, Sukamakmur dan sekitarnya. Sejak Juni sampai perkiraan Oktober diprediksi tidak akan turun hujan.”BMKG mengeluarkan peringatan dini tentang kekeringan untuk Cileungsi. Sekarang warga di daerah tersebut hendaknya menghemat dalam penggunaan air, jangka menengahnya bikin lubang biopori agar pas musim hujan air bisa terserap dalam tanah, sehingga musim kemarau berikutnya tanah masih menyimpan air,” terang Kasi Data dan Informasi Stasiun BMKG Bogor, Hadi Saputra. Menurut Hadi, teriknya matahari sekarang ini disebabkan adanya posisi matahari di atas Indonesia, makanya terasa lebih panas jika siang hari. Se-hingga fenomena ini dinamakan fenomena tanpa bayangan. Semua itu karena adanya gerakan semu harian matahari yang sekarang sedang bergeser ke arah khatulistiwa.Dalam kesempatan itu, Hadi membantah keras bahwa Indonesia dilanda gelombang panas seperti yang terjadi di belahan dunia. ”Nggak terjadi mas. Gelombang panas biasanya terjadi di lintang tengah dan wilayah daratannya luas. Kalau Indonesia masih tertolong, karena di sekitarnya lautan,” ujarnya. Sebelumnya, Kepala Stasiun BMKG Bogor, Abdul Mutholib, mengatakan, umumnya untuk daerah Kabupaten Bogor dan Depok saat ini masih periode musim kemarau, terutama Kabupaten Bogor bagian Timur masih kemarau dan baru akan memasuki periode musim hujan diperkirakan pada November di dasarian 1.”Adapun Kabupaten Bogor bagian Selatan, Bogor Barat dan Bogor Utara baru akan memasuki musim hujan diperkirakan pada Oktober dasarian ke-3 dan Depok baru akan memasuki musim hujan pada dasarian 1 pada Novem-ber 2019,” katanya.Ketika disinggung beberapa hari belakangan ini turun hujan, Hadi Saputra mengatakan bahwa sekarang ada fenomena Madden Julian Oscalliation (MJO) yang sedang melintas di Indonesia. ”Apabila dilihat dari pola awan yang terbentuk keberadaan massa udara lembap akibat diakibatkan aktivitas MJO di Indonesia, meskipun lemah dan didukung pemanasan lokal yang intensif, sehingga proses pembentukan awan secara lokal bisa dengan mudah terbentuk,” ujar Hadi. (wtk/rez/py)