Wiranto Happy Tito dan Hadi Sepekan Berkantor di Papua, Berbuah Manis

by -684 views

METROPOLITAN –  Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian telah mengakhiri masa berkantornya di Papua. Jenderal Bintang empat kelahiran Palembang itu akan kembali berdinas di Ibu Kota, karena kondisi di Papua maupun Papua Barat sudah berangsur kondusif.

“Oh iyah (berkantor sementara Kapolri selesai), masa Kapolri terus menerus berkantor di sana (di Papua),” kata Asisten Operasi (Asops) Kapolri Irjen Pol Martuani Sormin, Senin (9/9).

Meski begitu, Martuani memastikan kerja polri di Papua dan Papua Barat belum berakhir. Aparat akan tetap fokus pada terciptanya suasana kondusif di semua wilayah Bumi Cendrawasih. Selain itu, tidak menutup kemungkinan Tito akan kembali lagi ke Papua. “(Kapolri) bisa (kembali lagi ke Papua), tergantung situasi,” tegasnya.

Martuani menyampaikan, saat ini di Papua masih ada 4.900 personel yang disiagakan. Sedangkan di Papua Barat ada 1.800 personel. Total polisi yang disiagakan masih sekitar 6.700.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Kemanan (Menko Polhukam) Wiranto meminta, agar keberadaan pasukan pengamanan di Papua tidak dianggap sebagai simbol bahwa situasi di sana masih genting. Karena, sesungguhnya jumlah pasukan itu tidak sampai satu persen dari total seluruh personil TNI-Polri yang totalnya sebanyak 850 ribu personil.

Para pasukan ini juga masih memiliki tugas yang harus diselesaikan. Di antaranya mengamankan objek vital, fasilitas umum agar tidak dirusak. Kerja mereka pun sudah diintruksikan supaya melakukan pendekatan persuasif. Sehingga masyarakat lokal dan pendatang bisa hidup berdampingan.

“Misi tambahannya membersihkan puing-puing, sehingga PUPR masuk dan membangun kembali, sesuai instruksi presiden agar dilakukan pembangunan kembali agar berfungsi fasilitas umum itu,” kata Wiranto.

Di sisi lain, mantan Ketua Umum Partai Hanura itu menyebut, hasil berkantor sementara Panglima TNI dan Kapolri berbuah manis. Setelah banyak melakukan dialog, situasi kondusif akhirnya tercipta.

“Kapoli dan Panglima berkantor sepekan di sana dan meninjau langsung, bicara sama mereka, berbincang dengan rakyat, melihat langsung psikologi rakyat disana, dan sudah dilaporkan ke presiden,” tambahnya.

Kapolri dan Panglima saat di Papua juga telah melaksanakan tradisi bakar batu bersama masyarakat lokal. Tradisi ini merupakan simbol kebersamaan. “Mereka menyerukan perdamaian, mayoritas mereka nggak menghendaki kerusuhan, banyak menyesalkan itu terjadi,” jelasnya.

Sebelumnya, intimidasi yang dialami mahasiswa Papua di Malang, dan Surabaya, Jawa Timur berbuntut panjang. Senin (19/8) pagi kerusuhan pecah di Manokwari, Papua Barat dan beberapa titik lain. Sejumlah elemen masyarakat menggelar demontrasi di sejumlah titik. Kontak senjata pun terjadi antara petugas keamanan dengan kelompok perusuh dari Paniai di depan kantor Bupati Deiyai, Rabu (28/8). Akibatnya 1 orang anggota TNI tewas dan 5 aparat lainnya terkena panah.

Total sampai dengan Kamis (5/9), polisi telah menetapkan 87 orang tersangka dalam kerusuhan ini. Mereka terdiri dari pihak yang berada di Papua dan Papua Barat, Jawa Timur, serta DKI Jakarta. Belum lama ini, polisi juga menangkap IBL yang diduga sebagai aktor intelektual lapangan yang menyebabkan kerusuhan.