5 Catatatan Pengamat Soal Komposisi Kabinet Indonesia Maju Jokowi – Ma’ruf

by -

METROPOLITAN.id – Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo (Jokowi) – Ma’ruf Amin telah menentukan komposisi menterinya di Kabinet Indonesia Maju. Meski demikian, penunjukan para pembantu tersebut tak lepas dari catatan-catatan.

Pengamat Politik Yusfitriadi mengatakan, sedikitnya, ada 5 catatan dari komposisi yang telah terbentuk.

Pertama, masuknya dua menteri dari Partai Gerindra. Bahkan, Pembina sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang pada Pilpres 2019 menjadi rival Jokowi masuk dalam kabinet.

Menurut Yusfitriadi, kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar. Sebab, kontestasi Pilpres 2019 dirasa sangat sengit. Panasnya suhu politik tak hanya di dunia nyata tetapi merambah lewat perang udara di berbagai media.

Kondisi ini juga disinyalir mengarah kepada perpecahan bangsa, pertarungan ideologis, saling membenci, saling menjatuhkan bahkan saling menebar berbagai informasi-informasi bohong.

“Tapi tiba-tiba dengan sangat santai dan serasa tidak mempunyai beban moral, Prabowo meninggalkan para pendukung fanatiknya dan mengusik para loyalis pendukung Jokowi,” kata Yusfitriadi.

Dampaknya, berbagai spekulasi muncul. Mulai dari isu Prabowo berkhianat, haus kekuasaan hingga sebagai batu loncatan untuk Pilpres 2024.

“Bahkan ada juga yang berpandangan bahwa pencalonan Prabowo-Sandi sebagai capres dan cawapres merupakan rekayasa politik kekuasaan,” terangnya.

Kedua, Yusfitriadi menyoroti soal menteri muda yang fenomenal. Dialah eks bos Gojek Nadiem Makarim. Bukan masalah mudanya, tapi Nadiem yang selama ini bergelut dengan bisnis digital, namun Jokowi menempatkannya di menteri pendidikam dan kebudayaan.

Pandangan masyarakat juga beragam. Bahkan, pandangan-pandangan masyarakat banyak diekspresikan dengan meme-meme yang tersebar di jagat maya tak lama setelah Presiden mengumumkan posisi menteri.

Banyak masyarakat yang setuju, karena output pendidikan saat ini dan masa depan harus bersaing dengan digitalisasi teknologi. Sehingga, ditunjuknya Nadiem diharapkan mampu mewujudkan output pendidikan yang berdaya saing tinggi, tidak hanya nasional tapi mendunia.

“Namun banyak juga yang skeptis, karena melihat latar belakang Nadiem yang sama sekali tidak pernah berkiprah dalam dunia pendidikan,” ungkap Yusfitriadi.

Ketiga, menteri agama yang merupakan pensiunan TNI ikut menjadi sorotan di tengah isu radikalisasi, terorisme, faham organisasi transnasional. Banyak pertanyaan muncul, apakah pendekatan untuk menangani masalah keagamaan akan kembali menggunakan metode represif.

Keempat, Partai Demokrat dinilai hanya jadi penonton. Usai Pilpres 2019, punggawa Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan keluarga sangat rajin bertemu Jokowi.

Bahkan, publik langsung menduga Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) merupakan salah satu kandidat menteri. Tak hanya itu, menjelang pengumuman menteri, nama AHY kembali mencuat sebagai kandidat salah satu menteri.

“Namun faktanya tidak ada satupun dari Partai Demokrat yang dipercaya oleh Jokowi untuk menjadi menteri,” ujarnya.

Kelima, masuknya kembali Yasona Laoly juga menjadi sorotan. Para aktifis dan mahasiswa langsung memberikan stigma negaif. Jokowi akan dianggap tidak mencerminkan niat baik pemberantasan korupsi.

Anggapan ini tak lepas ketika Yasona Laoly diakhir-akhir masa jabatan Menkumham dituding orang yang mendorong revisi UU KPK dan memdorong tidak keluarnya Perpu oleh presiden.

“Tapi dalam Kabinet Indonesia Maju, Yasona Laoly kembali diangkat oleh Jokowi menjadi Menkumham. Hal ini jelas akan melanujutkan berbagai agendanya, termasuk meneruskan pemberlakuan UU KPK,” pungkasnya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *