620 Bencana Melanda

by -

METROPOLITAN – Pohon tumbang, banjir, kebakaran, hingga tanah longsor, kerab mewarnai Kota Bogor setiap tahunnya. Terlebih, saat musim penghujan seperti saat ini. Berdasarkan data dari setiap kecamatan di Kota Bogor,  Kecamatan Bogor Selatan, merupakan daerah tertinggi tingkat kerawanan bencananya, ketimbang lima kecamatan lainnya.

Pusat Pengendalian Operasi-Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor,  mencatat sejak 2018 ada 142 bencana terjadi di Kecamatan Bogor Selatan, 118 di Kecamatan Bogor Utara,112 di Kecamatan Bogor, 96 di Kecamatan Bogor Tengah, dan di Kecamatan Tanahsareal 95 bencana, sedangkan di Kecamatan Bogor Timur 56 bencana.

Kepala BPBD Kota Bogor, Juniarti Estiningsih, mengatakan, ratusan peristiwa ini di dominasi pohon tumbang akibat angin kencang, tanah longsor, kebakaran, rumah roboh, hingga banjir lintasan.

“Jika mengacu data bencana dalam kurun waktu tiga bulan terakhir di tahun ini, sudah 162 bencana terjadi,” kata Esti, sapaan karibnya, saat ditemui wartawan ini, kemarin.

Ia pun menghimbau, agar masyarakat tetap waspada, lantaran di Kota Bogor, masih sangat berpotensi terjadi hujan dengan skala lebat di sore hingga malam. Meski kini situasi Tinggi Muka Air (TMA) Bendung Ciliwung – Katulampa Bogor dan Bendung Cisadane – Empang Bogor, berada pada status normal, namun kondisi ini bisa berubah drastis, lantaran faktor hujan di Kawasan Puncak, Bogor.

“Untuk langkah antisipasi, BPBD selalu berkoordinasi dengan pihak terkait seperti, BMKG, BNPB, BPBD Jawa Barat, PVMBG dan INAWARE,” ucapnya.

Pihaknya pun menyiapkan satu regu yang terdiri dari 13 personel. Bahkan, ada petugas yang fokus memantau TMA sungai di Kota Bogor sebagai langkah antisipasi awal. Pemanfaatan media sosial seperti, grup WhatsApp “BOGOR TANGGUH BENCANA” dan Aplikasi SiBadra (Sistem Informasi Berbagi Aduan dan Saran), juga turut dilakukan, sebagai langkah awal sarana memberikan informasi peringatan dini kepada masyarakat, saat potensi bencana bakal terjadi.

“Untuk sarana dan prasarana, setiap hari kami selalu siapakan masing-masing satu unit unit mobil ambulance, mobil tangki, truk angkutan pasukan, truk angkutan barang, dua mobil ranger, dua motor roda tiga dan empat unit motor trail, untuk memudahkan personel dalam lakukan operasi awal,” tegasnya.

Pernyataaan serupa datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Citeko, Forcaster Stamet Citeko Ronald C Wattimena. Ia menjelaskan, cuaca ekstrim yang terjadi belakangan ini merupakan efek dari peralihan musim, dari musim kemarau ke penghujan, atau yang biasa disebut dengan musim Pancaroba.

“Peristiwa ini diakibatkan oleh awan Cumulonimbus (Cb). Awan Cb adalah awan yang menjulang tinggi, dengan bentuk sangat besar dan luas. Dengan tinggi dasar awan 400-500 meter dari permukaan, dan puncaknya dapat mencapai 9000 meter, dengan diameter mencapai 25-50 km,” jelasnya.

Menurutnya, pada fase pertumbuhan awan ini, sambungnya, cuaca di bawahnya dapat berupa angin kencang. Jika awan tersebut vertikal turun, dapat menumbangkan pohon. Sementara pada saat angin naik, dapat mencabut pohon atau menerbangkan atap rumah.

“Pada tahap matangnya awan Cb, biasanya ditandai dengan hujan sangat lebat dan aktifitas kilat dengan frekuensi dan intensitas listrik yang sangat kuat. Sementara fase punah ditandai dengan hujan dengan intensitas sedang dan perlahan mereda,” tutupnya. (ogi/c/yok/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *