Bangun PAUD meski Memiliki Keterbatasan

by -13 views
SEMANGAT : Kekurangan bukan menjadi alasan bagi Joko Murtanto (39) untuk mendirikan PAUD.

METROPOLITAN – Keterbatasan tidak jadi halangan bagi seseorang untuk beraktivitas, bahkan dalam berkarya. Hal itu dibuktikan Joko Murtanto (39). Sebagai penyandang disabilitas, Joko berhasil memberi tempat belajar sekaligus bermain bagi anak-anak tidak mampu di tempat tinggalnya, dengan mendirikan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

PAUD bernama Jasmine Assalaam itu juga sekaligus dijadikan tempat tinggal Joko bersama istrinya, Wahyu Utami (28), dan kedua anaknya, Kayisah (10) dan Hafidz (5). Didirikan pada Januari 2019, bangunan berukuran 8×12 meter persegi itu terdiri dari ruang belajar dan bermain, kantor, satu kamar tidur dan dapur. Joko mengaku alasannya mendirikan PAUD tersebut berawal dari keprihatinan terhadap anak-anak di daerah tempat tinggalnya yang tidak mengenyam pendidikan anak usia dini.

Menurutnya, jarak PAUD maupun TK terdekat dari Dusun Gunungsono sekitar 3-4 kilometer. Sehingga orang tua yang tidak memiliki akses transportasi memilih tidak memasukkan anaknya ke PAUD. “Bagi saya, anak mau sekolah itu sudah cukup. Intinya saya itu memfasilitasi masyarakat untuk bisa menyekolahkan anaknya dan aksesnya dekat,” kata Joko.

Pertama kali membuka pendaftaran, tutur Joko, PAUD miliknya hanya mendapat enam siswa. Seiring berjalannya waktu dan respons masyarakat, jumlah siswa pun meningkat. Kini jumlah total siswanya ada 23 orang, baik jenjang PAUD maupun TK dengan diampu empat tenaga pengajar (guru, red). “Jam belajar anak PAUD mulai pukul 08:00 sampai 10:30 WIB. Cuma dari pagi sudah kita buka. Kita masuk Senin-Jumat. Dan Sabtu-Minggu libur,” ujarnya.

Joko awalnya ingin menggratiskan biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP, red) bagi orang tua siswa. Namun dengan segala pertimbangan, akhirnya per siswa ditarik biaya pendidikan sebesar Rp25.000. “Tapi kita tidak harga pas. Orang tua mau menawar silakan. Tanpa syarat harus cari keterangan kelurahan (tidak mampu, red) atau miskin, tidak. Yang penting anak mau sekolah. Jangan sampai karena biaya, mereka tidak jadi sekolah,” tuturnya.

Sebelum menggagas mendirikan PAUD, suami Wahyu Utami itu bekerja sebagai tenaga administrasi sebuah perusahaan. Merasa sudah tidak cocok, Joko keluar dari tempat kerjanya. Joko kemudian menekuni dunia seni kaligrafi dan karikatur yang ia pelajari secara autodidak.

Keahliannya itu menjadi sumber penghidupan dan mata pencaharian utama Joko dan keluarga. Joko sering menerima pesanan untuk dibuatkan karikatur tokoh. Selain dari pesanan, Joko mengaku juga memasarkan hasil karyanya melalui online di media sosial (medsos).

Karikatur tokoh yang pernah dibuat Joko antara lain Menko Polhukam Wiranto, mantan Bupati Sragen Agus Fathurahman, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri dan tokoh lainnya. Bahkan, karikatur hasil karya Joko pernah dibeli warga Jerman, Denmark dan Malaysia. “Karikatur tokoh yang saya jual harganya bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah,” terang Joko yang mengalami kondisi arthrogryposis ketika kedua tangannya tumbuh tidak normal dan sulit digerakkan sejak lahir.

Penghasilan dari menjual karya seni kaligrafi dan karikatur tokoh itu, jelas Joko, selain untuk kebutuhan hidup sehari-hari juga untuk operasional PAUD Jasmine Assalaam yang didirikannya. “Saya pengin ke depannya sekolah ini bisa menjadi sekolah yang memfasilitasi anak. Karena keprihatinan awal saya itu melihat perbedaan fasilitas pendidikan antara pendidikan di desa sama kota. Di kota, mereka punya fasilitas pendidikan yang lengkap. Di desa, jangankan untuk memikirkan fasilitas pendidikan, untuk membayar saja susah,” pungkasnya. (kmp/mam/run)