Baru Dua Tahun Direnovasi, Plafon Sekolah Timpa Tiga Siswa

by -56 views

METROPOLITAN – Terik matahari diiringi angin kencang memecah keheningan siswa kelas 9-5 di SMPN 1 Ciampea, Desa Ciampea, Kecamatan Ciampea. Proses belajar mengajar yang sedang berlangsung sekitar pukul 14:15 WIB harus terhenti. Sejumlah siswa teriak histeris lantaran plafon ruang kelasnya ambruk.

Para siswa pun berhamburan keluar kelas untuk menyelamatkan diri. Namun nahas, nasib Akbar, Dela dan Katrina kurang beruntung. Ketiga siswa itu mengalami luka di bagian tangan, kepala dan kaki karena meja belajarnya yang berada tepat di bawah plafon langsung menimpanya.

Wali kelas 9-5, Nono Sartono, mengaku sudah mengimbau para murid sejak dua bulan silam. Sebab, ia mendapati adanya retakan di plafon kelasnya.

“Korban langsung dibawa ke Puskesmas Ciampea. Untuk sementara, para siswa akan bergantian kelas sampai kelas tersebut direhabilitasi,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Nono menjelaskan, pihak sekolah sudah mengirimkan laporan kejadian tersebut ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor. Beberapa plafon di luar kelas juga sudah sempat ambruk, tetapi beruntung tidak ada siswa yang menjadi korban. Ia mengaku sekolahnya baru saja direhabilitasi 2,5 tahun lalu. Namun, kualitas plafonnya dinilai buruk dan tidak layak.

Saat dikonfirmasi, Sekretaris Disdik Atis Tardiana mengaku belum menerima laporan kejadian tersebut. Perihal kondisi plafon yang dinilai buruk oleh pihak sekolah, ia mengaku akan meningkatkan quality control kepada para pengembang yang merehabilitasi sekolah di Kabupaten Bogor.

“Nanti akan kita cek, kenapa baru 2,5 tahun tapi sudah ambruk plafonnya. Biasanya sih dari segi bautnya terlalu kecil atau plafonnya terlalu tipis. Kualitas bahannya mungkin masih buruk ya dari pengembang,” ujarnya.

Atis melanjutkan, dengan program yang diusung bupati Bogor yaitu Bogor Karsa Cerdas, pihaknya hingga kini masih melakukan pendataan untuk menyelesaikan dan membenahi sekolah-sekolah yang rusak di Kabupaten Bogor.

Ia juga menilai pendataan yang sedang berlangsung membutuhkan bantuan pihak sekolah berupa data yang riil dan akurat, sesuai gambaran di lapangan.

Sebab dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang diisi para kepala sekolah, nantinya data tersebut akan digunakan untuk rencana kebijakan program rehabilitasi sekolah yang akan dirampungkan pada 2021.

“Rencananya memang kan untuk memperbaiki dan merehab sekolah rusak itu rampung di 2021. Memang sampai saat ini pun kita sedang mencoba untuk mendata yang jelas dan riil,” katanya.

Ambruknya plafon yang menimpa tiga siswa itu membuat anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor Ferry Roveo Checanova angkat bicara.

Ia menilai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor menjadi pihak yang paling dirugikan dengan adanya kejadian tersebut. Ia juga menilai Disdik Kabupaten Bogor tidak bisa memberikan jaminan bagi siswa yang sedang belajar.

Politisi PPP itu menilai harusnya jika ada kejadian seperti ini Disdik langsung menyurati pihak pengembang yang diduga melakukan kecurangan dengan menurunkan spesifikasi bahan bangunan yang digunakan saat rehabilitasi.

“Kalau spesifikasinya tidak sesuai, berarti harus ada peneguran terhadap pengawas pelaksanaan di lapangan terhadap pelaksana di lapangan,” tegasnya.

Ia pun mengaku heran dengan kerja para pengawas program rehabilitasi sekolah. Pria yang akrab disapa Kang Ferry itu menduga adanya pembiaran yang dilakukan atas penurunan kualitas bahan bangunan yang dilakukan para pengembang.

Ia juga menyayangkan dengan anggaran yang mencapai Rp300 miliar untuk program pembangunan prasarana bagi sekolah-sekolah yang ada di Bumi Tegar Beriman, masih ada sekolah reyot yang memakan korban.

“Harus ada kejelian dari pihak Unit Layanan Pengadaan (ULP) untuk melihat siapa calon pemenang ini, walaupun dalam arti kalau perusahaan itu akan merugikan pekerjaan yang ada di Kabupaten Bogor harus disoroti,” tandasnya. (ads/cr2/c/mam/run)