Bau Bangkai Menyelimuti Kebun Raya Bogor

by -675 views

METROPOLITAN – Kabar gembira datang dari Kebun Raya Bogor (KRB). Bagaimana tidak, salah satu jenis bunga bangkai terlangka di Indonesia mekar sempurna. Mekarnya bunga dengan nama ilmiah Amorphophallus Gigas tersebut, sontak menyita perhatian sejumlah kalangan. Terlebih mereka yang memang telah lama mengamati dan meneliti tumbuhan langka asal Sidempuan, Padang, Sumatra Utara.

Staf Kebun Raya Bogor, Saniyatun Mar’atus Solihah, mengatakan, mekarnya Amorphophallus Gigas pada akhir pekan kemarin, merupakan kali kedua sejak tanaman endemik asal Sumatra ini di tanam di KRB pada 4 Januari 2007 silam. Mekar sempurnaya Amorphophallus Gigas, diprediksi bakal bertahan mulai dari tiga hingga 5 hari kedepan.

“Karena tidak hujan jadi mekarnya bagus. Kalau hujan paling dua hari sudah layu,” katanya saat ditemui Metropilitan kemarin.

Amorphophallus Gigas sendiri, sambung dia, merupakan salah satu koleksi milik KRB satu-satunya. Bahkan, bunga yang kini sudah mencapai tinggi 290 centimeter itu hanya tumbuh subur di KRB, selain di tempat asalnya di Sidempuan, Padang, Sumatra Utara.

“Yang membuat kami senang adalah pertama bunga bangkai dengan jenis ini merupakan yang paling langka. Kedua, di Indonesia cuma ada dua tempat tumbuh suburnya, di KRB dan di hutan tempat asalnya,” paparnya.

Sementara itu, Peneliti Kebun Raya Bogor Inggit Puji Astuti menjelaskan, secara umum Amorphophallus Gigas merupakan jenis bunga bangkai dengan jenis masuk dalam golongan talas atau umbi-umbian. “Jangan keliru antara Raflesia dan Amorphophallus. Kalau Reflesia masuk dalam kelompok parasit sejati. Kalau Amorphophallus ia berasal dari keluarga talas. Jadi jangan keliru membedakan jenis bunga bangkai,” bebernya.

Inggit memaparkan, pasca melewati fase pemekarakan, nantinya Amorphophallus Gigas akan layu dan membusuk.

“Setelah berbunga seperti ini, nanti bunga dan bongol bunganya membusuk. Kemudian berubah dan tumbuh menjadi daun. Setelah berubah menjadi daun, nanti daunya berguguran lalu berbunga kembali, begitu seterusnya. Jadi fase daun dan bunga pada Amorphophallus tidak berbarengan,” tuturnya.

Dirinya mengaku, tidak bisa memprediksi kapan bunga ini dipastikan bakal mekar kembali, mungkin dua hingga tiga tahun mendatang. Untuk melestarikan endemik bunga bangkai asal Sumatra ini, sambung Inggit, pihaknya berencana akan memperbanyak Amorphophallus. Selain menjaga kelestariannya di luar habitat asalnya, pemperbanyak bunga ini juga sebagai ajang memperbanyak koleksi tanaman yang ada di KRB.

“Kita juga tidak tahu kapan bunga ini akan kembali mekar. Karna jenis bunga langka seperti ini biasanya tak tentu. Mungkin kedepannya setelah proses mekar ini kami akan mencoba lekaukan penelitian lebih dalam lagi mengenai Amorphophallus Gigas ini. Mungkin juga kami berencana akan memperbanyaknya, dengan cara stek batang, daun, melalui umbi juga bisa. Atau mungkin setelah ini layu bisa juga kita ambil bijinya,”pungkasnya. (ogi/c/yok)