Begini Nasib Jadi Istri Kedua (1)

by -2.3K views

METROPOLITAN  – Namaku Mily, dulu aku perempuan pekerja kantoran yang konsumtif, peribahasa lebih besar pasak daripada tiang sangat cocok dengan kehidupanku. Aku senang sekali belanja dan menjadi perhatian banyak orang. Semakin hari utangku semakin menumpuk yang sebagiannya adalah uang kantor, aku minta bantuan kelu­argaku tapi tak ada yang bisa mem­bantuku karena mereka juga hidup pas-pasan.

Setiap malam walaupun aku lelah aku usahakan salat malam karena sudah tak tahu lagi harus kemana meminta bantuan. Suatu hari aku curhat pada Anti teman 1 gang walaupun awalnya aku merasa dia ga bakalan bisa bantu tapi karena sudah tak tahan menahan beban yang aku pendam sendiri.

Tak disangka dia memberikan na­sehat untuk menerima ajakan nikah siri teman kami yang dulu pernah 1 kantor yang sekarang sudah menjadi pengusaha sukses. Aku pun teringat teman satu kantor yang lama ber­nama Didi [nama samaran], selama 15 tahun setiap ada kesempatan dia selalu mengajak menikah jadi istri keduanya, karena istrinya punya sakit kambuhan, namun selalu aku tolak karena tak terpikirkan olehku.

Entahlah mungkin takdir ataupun karena aku sudah gelap mata, walau­pun keluargaku tak ada yang setuju, akhirnya aku menerima menikah siri dengannya dan menjadi istri ke­dua Didi dengan minta mahar se­suai hutangku karena aku ingin me­lunasi hutangku.

Aku menikah tanpa sepengetahuan istrinya yang sedang sakit selama 2 tahun ini. Pengakuan Didi, istrinya tak bisa lagi melayani dirinya diranjang karena sakitnya tapi tidak tega men­ceraikannya karena memikirkan anak-anak. (Bersambung)