Biar Seperti Perawan, Mucikari Akali Pakai Obat Agar ‘Berdarah’

by -64 views

METROPOLITAN.id – Biar seperti perawan, mucikari akali pakai obat agar ‘berdarah’.

Ya, ada-ada saja memang cara mucikari dalam meraup untung. Salah satunya menjual perawan ‘palsu’ untuk pria hidung belang.

Hal itu terungkap setelah Polres Bogor mengamankan dua mucikari Y dan GG di salah satu hotel di kawasan Sentul City, Kabupateb Bogor, (15/10).

Keduanya diketahui terlibat perdagangan manusia atau traficking. Mereka biasa menjual gadis perawan untuk memuaskan syahwat lelaki bejat.

Namun dalam praktiknya, tidak semua gadis perawan yang dijajakan asli perawan.

Pelaku menyiasatinya dengan memberi ‘obat perawan’ kepada gadis yang sudah tak perawan. Tujuannya, agar ketika melayani nafsu pria hidung belang, gadis yang dijual mengeluarkan darah seperti layaknya perawan.

“Yang dijual, tidak hanya perawan juga mereka ada juga yang bukan perawan. Dengan menggunakan obat tertentu, supaya pas melakukan hubungan suami istri bisa mengeluarkan darah karena pengaruh obat, sehingga keliatan seperti perawan,” kata Kapolres Bogor AKBP Muhammad Joni saat rilis di Mako Polres Bogor, Rabu (23/10).

Cara tersebut dilakukan pelaku karena gadis perawan dihargai lebih tinggi mencapai Rp20 juta.

Polisi pun telah mengamankan obat perawan yang digunakan pelaku untuk selanjutnya dialkukan pendalaman.

“Untuk obat yang digunakan sudah diamankan, nanti polisi akan mendalami kepada ahlinya,” terangnya.

Kapolres Bogor AKBP Muhammad Joni menunjukan barang bukti kasus perdagangan manusia atau penjualan gadis saat rilis di Mako Polres Bogor, Rabu (23/10).

Sebelumnya, kedua pelaku tersebut diketahui menjual gadis yang masih perawan kepada pria hidung belang. Setiap gadis perawan dibanderol Rp20 juta.

“Modus ini memanfaatkan keinginan pelanggan yang membutuhkan perempuan di bawah umur atau sudah tidak di bawah umur dengan kategori masih perawan,” kata Kapolres Bogor AKBP Muhammad Joni saat rilis di Mako Polres Bogor, Rabu (23/10).

Perdagangan manusia atau traficking ini dilakukan memanfaatkan media daring atau online.

Pelaku juga diketahui telah memiliki jaringan khusus dan menyediakan gadis sesuai permintaan pelanggan. Kebanyakan, yang pelaku jual adalah gadis-gadis desa.

Berdasarkan penelusuran di aplikasi WhatsApp, Facebook, Instagram dan beberapa aplikasi lainnya milik pelaku, ada sekitar 25 gadis yang disediakan.

Setiap transaksi, sang mamih mendapat jatah Rp3 juta sementara para gadis diiming-imingi Rp17 juta.

“Mamih-mamihnya jatahnya Rp3 juta, Rp17 jutanya itu untuk perempuan yang di boking. Mamih-mamihnya juga pernah jadi korban,” terangnya.

Untuk pembayaran, pelanggan biasanya diminta mentransfer uang muka atau DP sebesar Rp3 juta. Sang mamih kemudian menentukan lokasi hotel untuk gadis yang dijual dan pelanggannya. Sisanya akan dibayar setelah eksekusi.

“Pelanggan harus membayar DP kepada mamih-mamih itu dengan harga Rp3 juta. Untuk sisanya, pelanggan membayar Rp17 juta setelah selesai melakukan eksekusi dan yakin gadisnya perawan,” ungkap Joni.

Petugas menggiri tersangka perdagangan manusia atau penjual gadis perawan saat rilis di Mako Polres Bogor, Rabu (23/10). (Foto: Sandika/Metropolitan)

Pengakuan pelaku, baru ada dua gadis yang dijual. Salah satunya adalah KO gadis berusia 20 tahun. Namun, polisi masih terus melakukan pendalaman.

Pelaku diketahui mengirim gadis perawan lintas provinsi hingga ke Kalimantan Selatan. Para korban juga tidak hanya berasal dari Bogor akan tetapi dari daerah-daerah lain.

“Pengakuannya pelaku sudah satu tahun lebih, pelanggannya itu tergantung selera. Jaringannya mereka luas. Untuk transaksi kali ini diungkapkan di wilayah Kabupaten Bogor,” tuturnya.

Saat diamankan, polisi berhasil menemukan barang bukti berupa uang Rp3 juta, mobil dan kondom. Para pelaku dijerat Pasal 2 Undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidana penjualan orang dengan ancaman 15 tahun penjara.

“Lelaki hidung belang juga sudah diamankan tapi masih dalam proses pemeriksaan kita,” tandas Joni. (fin)