Bogor Turun ‘Salju’ di Musim Kemarau

by -10.5K views

METROPOLITAN.id– “Waah.. ada salju, Mah. Salju,” pekik seorang anak perempuan yang tengah dibonceng sepeda motor oleh sang ibu saat melintas di Simpang Tugu Kujang, Kota Bogor, Jumat (4/10) siang.

Di tengah kemacetan, sang anak asyik dan antusias mencoba meraih ‘salju-salju’ yang beterbangan di jalanan. Kota Bogor tiba-tiba saja bersalju di musim kemarau.

Rupanya ‘salju-salju’ yang memenuhi jalanan protokol Kota Hujan itu, berasal dari bunga-bunga pohon randu atau kapuk yang ada di sekitar Jalan Pajajaran simpang Tugu Kujang yang sedang mengalami masa musim gugur.

Sebagian besar pohon berada di lingkungan Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Baranangsiang, dekat Taman Koleksi IPB.

Staf Biro Hukum, Promosi, dan Humas IPB Siti Zulaedah mengatakan, serat kapas yang berserakan di halaman depan kampus hingga beterbangan ke jalan itu berasal dari pohon kapuk randu raksasa yang berada di lingkungan kampus.

Pohon yang sudah ada sejak lama itu menjulang diantara pohon-pohon lainnya. Saat serbuk kapuk memenuhi lapangan luas kampus IPB tersebut, tak jarang warga datang untuk sekedar berswafoto bersama ‘salju-salju’.

“Buat warga kampus, atau warga Bogor yang biasa melintas saat musim pecah kapuk randu saat kemarau, mungkin nggak aneh. Tapi kalau yang belum pernah lihat, pasti aneh. Angin menerbangkan serat kapuk putih ke udara, hinggap dimana-mana, sampai ke pengendara di jalanan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pertamanan pada Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperumkim) Kota Bogor Muhammad Hutri menuturkan, saat ini sedang musim gugur bunga dari pohon randu di Kota Bogor, yang saat beterbangan layaknya salju.

Tak kurang ada sekitar lima pohon randu kapuk yang berada di sekitaran Jalan Pajajaran Tugu Kujang.

“Banyak di daerah IPB Pajajaran. Ada sekitar lima pohon lah. Bunganya berterbangan karena tertiup angin musim kemarau,” ujarnya.

Untuk intensitas, bisa jadi jumlahnya sama banyak dengan beberapa tahun kebelakang. Selama pohon-pohon tersebut sehat, bidang pertamanan Disperumkin sendiri mengaku tidak ada treatment apa-apa terhadap keberadaan pohon itu.

“Kan itu siklus biasa ya, terbawa angin, seperti salju turun ke jalanan. Selama pohon-pohon itu sehat, ya nggak ada treatment apa-apa,” tandas Hutri. (ryn/b/fin)