Disperdagin ’Jual’ Keripik ke Rusia

by -25 views

METROPOLITAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) bakal bertolak ke Moscow, Rusia, akhir Oktober mendatang. Lawatan ke Rusia tidak lain untuk menjual produk-produk dari Bogor. Ada 8 orang yang akan berangkat ke Rusia. Mereka terdiri dari tiga pengusaha dan lima dari pemkab Disperdagin termasuk Wakil Bupati Bogor Iwan Setiawan dan Kepala Disperdagin Nuradi.

Wakil Bupati, Iwan membenarkan informasi tersebut. Menurutnya, lawatan ke Rusia untuk melakukan MoU atau nota kerjasama perdagangan. “Kita ke sana menjual produk Kabupaten Bogor. Beberapa waktu lalu di Trade Expo Indonesia (TEI) di Tangerang, ada beberapa buyer dari Rusia tertarik dengan produk kita. Insya Allah akan ada MoU di sana,” kata Iwan.

Saat expo beberapa waktu lalu itu, sambung Iwan, pengusaha dari Rusia datang langsung dan melihat produk Kabupaten bogor. Mereka memborong lima boks produk lokal. Komunikasi pun semakin baik hingga disepakati kerjasama perdagangan di Rusia. “Jadi yang menarik perhatian mereka adalah produk-produk organik yang merupakan produk dari inkubator bisnis IPB. Mereka membuat kecap dari kelapa, keripik dari kelapa. Kedua produk ini sangat diminati mereka dan mereka sudah membeli langsung waktu pameran,” jelasnya.

Sementara, Kepala Disperdagin Kabupaten Bogor, Nuradi mengatakan, persiapan keberangkatan ini sudah terjadwal sejak satu tahun belakangan. Rombongan rencananya akan berangkat pada 30 Oktober sampai dengan 5 November 2019. Untuk jumlah orang yang berangkat, Nuradi memastikan mereka merupakan orang yang ahli di bidangnya, khususnya para pengusaha yang memiliki akses di Rusia. “Jadi ini perjalanan bisnis to bisnis. Ini kesempatan kita untuk memajukan usaha Kabupaten Bogor juga sebagai salah satu upaya mensukseskan Pancakarsa, yaitu Karsa Maju,” jelasnya.

Dengan terjalin kerjasama tersebut, Nuradi berharap akan berpengaruh pada peningkatan tenaga kerja di Kabupaten Bogor. “Harapan kita tenaga kerja bisa bertambah karena kita bisa ekspor barang ke luar negeri. Otomatis adanya pesanan dari sana akan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak nantinya,” tandasnya.(cr2/b/els)