Dua Sekolah Bakal Kena Gusur Rel Ganda

by -352 views

METROPOLITAN – Proyek pembangunan rel ganda atau double track kereta api Bogor-Sukabumi direncanakan bakal dimulai tahun depan. Tak cuma ‘menyentuh’ bangunan rumah yang ada di pinggiran lintasan rel kereta, beberapa sekolah pun harus rela ‘berkorban’ lahannya termasuk dalam rencana pembangunan. Sejauh ini, ada dua sekolah yang sudah didatangi dan diukur oleh tim terpadu Ditjen Perkeretaapian.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor Fahrudin, yang mengatakan bahwa sejauh ini baru ada dua sekolah di wilayah Kecamatan Bogor Selatan yang didatangi dan diukur oleh tim terpadu, dan dinyatakan beberapa bagian dari lahannya bakal digusur karena masuk dalam peta rencana pembangunan. Yakni SMA Negeri 4 Bogor dan SD Negeri Layungsari 2.

Untuk SMAN 4, pembongkaran bakal mengenai masjid sekolah, lapangan dan kantin. Sedangkan SDN Layungsari 2 lebih parah lagi, karena menyentuh tiga kelas aktif yang digunakan siswa kelas 3,4 dan lima pada pagi dan siang hari.

“SD Layungsari 2 itu termasuk yang sudah diukur. Sejauh ini baru dua sekolah yang laporannya ada di kami, ” katanya kepada Metropolitan, akhir pekan lalu.

Menanggapi bakal dirobohkannya tiga kelas aktif di salah satu SD di Bogor Selatan itu, pihaknya tengah mengupayakan pembangunan kelas pengganti pada 2020 mendatang, dengan membangun kelas baru di lahan yang masih kosong. Selain itu, pihaknya akan bekerja sama dengan sekolah terdekat untuk merekayasa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bagi siswa yang kelasnya bakal digusur.

“Akan kerjasa dengan sekolah terdekat, ” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga akan mengusulkan adanya kelonggaran atau dispensasi pengosongan lahan untuk kelas-kelas aktif itu pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Ditjen Perkeretaapian, agar tidak berbarengan dengan pembongkaran rumah-rumah dan bangunan lainnya.

“Minggu depan akan ada pertemuan. Saya akan usulkan hal itu, ” tegas Fahmi, sapaan karibnya.

Sementara itu, Camat Bogor Selatan Atep Budiman mengakui, ada tiga kelas aktif untuk SD Layungsari 2 yang terdampak pembangunan. Sebab, sekolah tersebut berada di jalur untuk toleransi pergerakan rel.

“Sebetulnya kalau trek lurus itu paling luasan 13 meter. Nah ini karena celukan, dan butuh 20 meteran lah, nah sekolah itu kena, jumlahnya tiga kelas, yang dipakai kelas 3,4 dan 5. Kelas pagi dan siang, ” ucap Atep.

Mantan camat Bogor Utara itu menambahkan, berkaca pada pengalaman di Kabupaten Bogor yang juga beberapa sekolah kena dampak gusuran, memang ada nilai dan ukuran tertentu untuk mengganti pembangunan kelas baru. Namun persoalannya, lahan di SD Layungsari 2 sangat terbatas untuk pembangunan kelas baru, sehingga Disdik harus memikirkan hal itu. Bukan cuma itu, kata dia, pembangunan juga pasti membutuhkan waktu lama. Tentu harus dipikirkan bagaimana kelangsungan KBM di sekolah tersebut.

“Apakah harus dipindah ke SDN Layungsari 1 yang kondisinya juga penuh siswa nya. Atau kemana? Kan ini butuh komunikasi juga dengan orang tua siswa. Kalau jauh mana mau mereka. Artinya dibayarkan sih iya, tapi treatmen menyeluruh juga harus ada. Lahan mereka juga kan segitu-sehitunya, tinggal sisa lapangan, kalau harus bangun ulang, ” lanjut Atep.

Seperti diketahui, selain SD Layungsari 2, SMAN 4 Kota Bogor juga sudah didatangi dan diukur oleh tim terpadu. Alhasil, 1.000 meter persegi dari luasan total 6.000 meter persegi, harus dibongkar karena masuk desain perencanaan pembangunan. Diantaranya masjid senilai ratusan juta rupiah yang dibangun selama tujuh tahun, lapangan olahraga dan kantin. Hal itu membuat gusar Kepala SMAN 4 Kota Bogor Enung Nuripah.

“Kita sih nggak nolak pembangunan. Tapi alahkah dipikirkan lagi kalau mesjid harus dibongkar. Kita minta rekayasa desain lah supaya nggak ditubuhkan. Kalau harus (diambrukkan) kami sih minta ganti sesuai lah. Kalau pengennya sih nggak usah dibongkar, karena lahan kita terbatas untuk buat masjid baru. Lagipula itu masjid ratusan juta hasil swadaya siswa, alumni, guru, pemda hingga lainnya, ” tutup Enung. (ryn/c/yok)