Jadi Camilan Kemasan, Manfaatkan Hasil Tani

by -22 views
GURIH: Ini produk pertanian buncis dari Desa Sembalun, kaki Gunung Rinjani

METROPOLITAN – Desa Sembalun merupakan desa yang berada di kaki Gunung Rinjani. Berada di kawasan pegunungan, komoditas utama dari desa ini adalah produk pertanian seperti bawang, wortel, kentang, buncis, strawberry, dan masih banyak lagi.

Produk-produk pertanian ini tak hanya dijual mentahan, tetapi beberapa masyarakat melakukan inovasi dalam pengelolaan bahan pertanian yang ada di desa ini, salah satunya yaitu Yeyi Supiyati. Ibu yang berusia 30-an tahun ini membuat suatu usaha kecil yang memanfaatkan produk pertanian yakni buncis, wortel dan strawberry untuk dibuat makanan ringan.

“Awal usaha saya itu setelah pascagempa, kami diberi arahan oleh desa soal UMKM, untuk UMKM-nya kita disarankan untuk mengolah bahan makanan yang ada di Sembalun,” ungkapnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Setelah itu, ia membentuk sebuah kelompok usaha mandiri yang beranggotakan enam orang ibu-ibu rumah tangga setempat. Modal awal usahanya yakni sebesar Rp 8 juta yang berasal dari alokasi dana desa yang dibagikan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sembalun Bumbung.

“Kami membeli bahan bakunya yang ada di sini, bahan bakunya yaitu kacang merah, atau kalau di sini itu disebutnya kacang buncis, itu deh awalnya kami proses untuk usaha UMKM kami. Sekarang UMKM kami sudah berjalan satu tahun lebih,” ujarnya.

Kacang merah atau yang orang Sembalun biasa disebut buncis harus ditanam selama 3 bulan terlebih dahulu hingga akhirnya bisa dipanen. Kemudian, kacang buncis itu direndam menggunakan air biasa selama 2 hari.

“Setelah direndam selama 2 hari perendaman baru dikupas, setelah proses pengupasan baru proses penggorengan selama kurang lebih 5 menit,” jelasnya.

Setelah digoreng, kacang buncis tersebut bisa ditambahkan bawang putih goreng, garam dan sedikit bumbu penyedap untuk menambah rasa gurih pada camilan ini. Setelah tercampur rata, kacang buncis ini baru bisa dikemas dengan berbagai jenis kemasan, ada kemasan Rp 30.000 ada juga kemasan ekonomis Rp 5.000.

Tiap harinya, kelompok usaha UMKM miliki Yeyi memproduksi 10 kilogram kacang buncis yang ia beli seharga Rp 250 ribu. Ia mengaku bahwa laba yang ia peroleh hanya Rp 100 ribu per hari. Meski keuntungannya belum terlalu banyak, Yeyi tetap mau melanjutkan usaha ini di samping ia juga menjadi guru honorer di salah satu SD di Sembalun.

“Lumayan hasilnya, bisa untuk menampung keluarga lah, untuk kebutuhan keluarga,” ucapnya.

Ia juga memiliki harapan bahwa produknya akan semakin berkembang dan dapat dipasarkan di retail-retail modern. Sehingga, produk kacang merah khas Sembalun ini tak hanya bisa dinikmati oleh warga atau turis yang datang saja tapi bisa dirasakan gurihnya kacang buncis hingga ke seluruh Indonesia.(de/yok)