Mama Kenapa Engkau Pilih Kasih? (2)

by -52 views

METROPOLITAN  – Karena ada rasa kecewa tahun berikutnya aku kuliah dengan “asal” saja memilih jurusan, pro­gram pendidikan pun cuma D3. Karena seman­gatku sudah terkikis oleh rasa kecewaku terutama pada mama. Dan perlakuan mama yang membuat aku kecewa berlanjut bahkan ketika aku sudah bekerja. Dulu ketika kuliah aku memakai motor sebagai alat transportasi.

Setelah bekerja aku berhasil men­gumpulkan uang dengan susah payah untuk DP sebuah mobil kecil yang tak terlalu mahal tapi bagiku sangat spesial karena itu hasil jerih payahku, DP nya dan cicilannya se­muanya dari hasil kerjaku waktu itu. Tahukan pembaca, selang satu bu­lan aku berhasil membeli mobil hasil kerjaku, mama membelikan adikku yang saat itu baru lulus SMA sebuah mobil Honda Jazz baru.

Bahkan mobilku yang hasil kerja kerasku itu harganya dibawah Honda Jazz. Sedangkan adikku tanpa bersu­sah payah dulu mengumpulkan DP lalu bayar cicilan kerja setiap hari seperti aku, dengan enaknya mama memberinya mobil yang notabene lebih wah dari mobilku.

Di mana perasaan mamaku? Sejak dulu aku tak berani menentang ka­rena aku takut, ketika kejadian mama membelikan adikku Honda Jazz, dia memberikan alasannya padaku “ka­sian adik kamu lihat kaka nya naik-naik mobil masa dia cuma nonton”. Ya Alloh astaghfirullahalazim. Ing­in rasanya aku mengatakan pada mama dimana perasaannya dulu ketika aku lulus SMA boro-boro di­kasih mobil yang ada aku disuruh nunggu setahun untuk kuliah demi mempertahankan gengsi mama yang baru beli mobil.

Lalu dimana perasaan mama dulu aku kemana-mana naik motor kuliah, kerja dan sekarang dengan kerja ke­rasku aku bisa beli mobil dan itu se­peser pun tanpa bantuan mama, sedangkan adikku tanpa harus repot-repot dan susah-susah jrenggg langs­ung dikasih mobil. Dimana perasaan mama untukku?

Bukannya mama mestinya meredam adikku jika misalnya dia iri padaku yang sudah punya mobil dengan men­gatakan ya itu kan hasil kerja kakak­mu sendiri kamu ga boleh iri kalau mau kamu ya berusaha seperti dia?

Tak sampai di situ. Ketika sudah sama-sama menikah pun mama tetap lebih condong pada adikku. Kalau aku sedikit-sedikit salah di mata mamaku. Lalu mama menceritakan aku di depan tante-tanteku. Tapi tidak pada adikku, tak pernah terdengar mama menceritakan hal buruk tentang adikku. Padahal Alhamdulillah secara ekonomi aku dan suami sama sekali sudah tak bergantung pada orang­tua sejak menikah.(Bersambung)