Mama Kenapa Engkau Pilih Kasih? (Habis)

by -46 views

METROPOLITAN – Ya Alloh astaghfirullahala­zim. Ingin rasanya aku menga­takan pada mama dimana perasaannya dulu ketika aku lulus SMA boro-boro dikasih mobil yang ada aku disuruh nunggu setahun untuk kuliah demi mempertahankan gengsi mama yang baru beli mobil.

Lalu dimana perasaan mama dulu aku kemana-mana naik motor kuliah, kerja dan sekarang dengan kerja kerasku aku bisa beli mobil dan itu sepeser pun tanpa bantuan mama, sedangkan adikku tanpa harus repot-repot dan susah-susah jrenggg langs­ung dikasih mobil. Dimana perasaan mama untukku?

Bukannya mama mestinya meredam adikku jika misalnya dia iri padaku yang sudah punya mobil dengan men­gatakan ya itu kan hasil kerja kakak­mu sendiri kamu ga boleh iri kalau mau kamu ya berusaha seperti dia? Tak sampai di situ. Ketika sudah sama-sama menikah pun mama tetap lebih condong pada adikku. Kalau aku sedikit-sedikit salah di mata mamaku. Lalu mama menceritakan aku di depan tante-tanteku.

Tapi tidak pada adikku, tak pernah terdengar mama menceritakan hal buruk tentang adikku. Padahal Al­hamdulillah secara ekonomi aku dan suami sama sekali sudah tak bergan­tung pada orangtua sejak menikah. Sudah memiliki rumah sendiri meski masih nyicil, hidup mandiri. Beda dengan adikku yang ketika nikah saja kuliahnya belum beres.

Suaminya pun belum punya pekerjaan. Tapi selalu mama banggakan hanya ka­rena suaminya ini anak orang berada. Sedangkan suamiku bukan dari kelu­arga berada, tapi tak masalah bagiku yang terpenting suamiku sudah punya pekerjaan tetap dan bertanggungjawab padaku dan kedua anak kami.

Aku pernah mencurahkan isi hatiku ini pada pamanku. Dan ini entah be­nar atau tidak, menurut pamanku alasan mamaku lebih sayang pada adikku adalah sejak adikku lahir (ke­tika itu aku kelas 4 SD) keadaan eko­nomi orangtuaku menanjak, jadi is­tilahnya adikku seperti membawa keberuntungan bagi mamaku jadi apapun yang diminta adikku pasti diberi, dan yang pasti sangat disayang.

Ya Alloh aku mendengarnya sangat sakit hati… bukankah rejeki itu diten­tukan oleh Alloh SWT bukan karena lahirnya anak yang ini sedangkan anak yang satu lagi tak membawa keberun­tungan? Aku hanya ingin hidup tenang, mama seharusnya engkau jadi penyejuk hatiku, tempat mencurahkan isi hati tapi mengapa engkau menganggap­ku seperti orang lain. (cer)