OIC Serukan Perangi Pemanasan Global

by -31 views

METROPOLITAN – Isu perubahan iklim global akibat penggunaan bahan bakar dari fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas bumi, berakibat diantaranya mencarinya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran hingga coral bleaching. Hal itu pun mendapat perhatian dari Wakil Presiden Organization of Islamic Cooperation (OIC) Youth Indonesia, Diska Resha Putra.

Menurut mantan Chief Excecutive Officer (CEO) Persikabo itu, dampak terbesar merupakan negara pesisir pantai, kepulauan dan daerah belum berkembang seperti Asia Tenggara. Bertahun-tahun, terus menerus melepaskan karbondioksida ke atmosfir dengan menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batubara, gas bumi dan minyak bumi. Hal ini telah menyebabkan meningkatnya selimut alami dunia, yang menuju kearah meningkatnya suhu iklim dunia, dan perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi juga mematikan.

“Hanya dengan langkah pengurangan emisi gas rumah kaca yang sistematis dan radikal dapat mencegah perubahan iklim yang dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah kepada ekosistem dunia dan penduduk yang tinggal,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Pria yang kini tengan mendalami Magister S2 Universitas Pertahanan itu memusatkan perhatian pada mempengaruhi kedua pihak, yaitu masyarakat dan para pemegang keputusan atas bahaya dibalik penambangan dan penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil.

Perhatian sebagai saksi langsung atas akibat dari perubahan iklim global, dan meningkatkan kesadaran publik tentang masalah yang sedang berlangsung. Ia  mengharapkan perubahan kebijakan penggunaan energi di Asia Tenggara di masa depan, yaitu beranjak dari ketergantungan penggunaan bahan bakar fosil kearah sumber-sumber energi yang terbarukan, bersih dan berkelanjutan.

“Taktik Kampanye Iklim dan Energi, mengkonfrontasi tantangan yang dimiliki industri berbahan bakar yang berasal dari fosil, terutama pembangkit listrik pembakar batubara dan penghasil energi berbasis nuklir. Sementara di waktu yang sama menyuarakan dan mendorong solusi atas ketergantungan penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil,” ujar lelaki yang punya gelar Sarjana Perminyakan itu.

Sebagai contoh, kata dia, GreenpeaceSEA yang mempromosikan kebijakan dan proyek yang dapat menghasilkan energi murah berasal dari angin dan energi matahari dan advokasi terhadap efisiensi energi alternatif. (ryn/c/yok)