Pedagang: Ada Apa dengan Pasar TU?

by -
KUMUH: Kondisi Pasar TU atau Pasar Induk Kemang terlihat kumuh dan tidak terawat. Sejumlah pedagang pun meminta Pemkot Bogor melalui PD PPJ Kota Bogor segera mengambil alih pengelolaannya.

METROPOLITAN – Lambannya Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengambil alih pengelolaan Pasar Teknik Umum (TU) disesalkan sejumlah pedagang. Pernyataan itu datang dari Paguyuban Warga Peduli Pasar TU.

Menurut Ketua Paguyuban Warga Peduli Pasar TU, Didin Hasanudin, sejak Pemkot Bogor diputus menang dalam gugatan yang diajukan PT Galvindo Ampuh (GA), pihaknya ingin agar pemkot melalui PD PPJ segera mengambil alih pengelolaan.

“Kita kan ingin ada peningkatan. Kalau dikelola pemkot, kan bisa direvitalisasi seperti pasar-pasar di tengah kota. Pendapatan juga bisa masuk jadi kas daerah, memajukan daerah lah. Potensi luar biasa, dekat perbatasan dan banyak tumbuh perumahan. Belum lagi sekarang lagi bangun Tol Borr. Segera lah ambil alih,” katanya saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Kondisi yang monoton, sambung dia, dirasa tidak sejalan dengan berbagai pungutan yang selama ini dibebankan kepada kurang lebih 1.200 pedagang hingga pengunjung. Bagi pedagang, berbagai pungutan seperti iuran sewa kios atau los, kebersihan, keamanan, listirik hingga parkir, semuanya dibanderol. “Pengunjung juga kan ada biaya masuk, parkir. Ya kenapa gitu-gitu saja sih yang kita dapat,” ucap dia.

Didin menjabarkan, untuk kios dan los saja banderolnya bervariasi, mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp4 juta perbulan, tergantung lokasi dan luasan. Belum lagi retribusi lain, seperti keamanan, kebersihan, listrik hingga parkir. “Retribusi yaitu kebersihan Rp5.000 per lapak atau los,

keamanan Rp2.000 per lapak atau los, listrik Rp4.000 per pergantungan,” bebernya.

Maka, jika ditotal dengan keberadaan 1.200 pedagang saja, pendapatan yang bisa diraih di Pasar TU dari sektor retribusi non biaya sewa yakni sekitar Rp13,2 juta perhari. Ia mengakui pendapatan itu sejatinya bisa sangat bermanfaat untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bogor, apalagi secara aturan sudah menjadi hak pengelolaan ada di pemkot. “Tunggu apalagi. Jangan sampai kita berprasangka buruk, jangan-jangan ada apa? Sampai belum juga diambil alih,” ujar Didin.

Saat hendak dikonfirmasi, kantor PT GA nampak sepi. Narasumber Metropolitan yang berada di lokasi menyebut pemilik tengah berada di Korea, sedangkan pengacara dari perusahaan tidak ditempat. “Besok (hari ini, red) saja ya penjelasannya nanti dari pengacara. Orang kantor mah off,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, merugi. Kata itu tampaknya tepat menggambarkan kondisi stabilisasi pendapatan Pemkot Bogor saat ini. Sebagai pemilik lahan Pasar TU, Pemkot belum bisa menuai hasil retribusi dari pengelolaan pasar yang lebih dikenal Pasar Induk Kemang. Itu terjadi sejak 2007 silam. Diperkirakan pemkot mengalami kerugian kurang lebih ratusan miliar rupiah. Sebab, pasar yang berlokasi di wilayah Tanah sareal itu hingga kini masih dikelola PT GA.

Padahal, secara sejarah dan putusan kerja sama, Pasar TU itu harusnya sudah diserahkan pengelolaannya dari PT GA kepada Pemkot Bogor sejak 2007 silam. Namun, hingga kini status pengelolaan masih ada di tangan PT GA.(ryn/c/rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *