Puncak Waspada Banjir dan Wabah Penyakit

by -

CISARUA – Hujan dengan intensitas tinggi telah mengguyur Puncak dan sekitarnya, kemarin sore. Ini kali pertama setelah musim kemarau panjang tahun ini.

Selokan yang selama ini kering penuh dengan air. Sebagian tumpahan air dari langit itu menggenangi hampir separuh jalan. Hujan dimulai sejak pukul 14:00 WIB sampai sore menjelang Maghrib. Sementara Jalan Raya Puncak terlihat lengang, karena roda dua yang selama ini berseliweran terpaksa harus menepi.

”Ngeri hujannya deras. Kalau dipaksakan takut kecelakaan. Jarak pandang sangat dekat, jadi mending menepi dulu, ” kata pemotor asal Bekasi dengan tujuan Cianjur, Iwan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah merilis Prakiraan Awal Musim Hujan 2019 pada Agustus. Untuk sebagian kabupaten dan Kota Bogor sebenarnya masuk kategori Non Zona Musim (Non ZOM).

Namun untuk Kabupaten Bogor bagian Utara dan Kabupaten Bogor bagian Selatan masuk kategori Zona Musim. Zona Musim adalah zona di mana terdapat perbedaan yang sangat jelas antara musim kemarau dengan musim hujan. Non ZOM artinya, daerah tersebut tidak jelas perbedaannya. Periode awal memasuki musim hujan biasanya ditandai dengan apa yang disebut pancaroba.

Pancaroba adalah masa transisi musim dari musim kemarau ke musim hujan ataupun sebaliknya. Pada musim pancaroba biasanya ditandai udara panas dan lembab, hujan dalam durasi singkat namun disertai angin kencang dan kadang-kadang bersama petir.

Pada saat tertentu, angin kencang bisa bertiup dengan kecepatan 25-45 km per jam. Angin ini bisa menumbangkan pohon dan menerbangkan atap rumah. Fenomena ini disebut angin puting beliung.

Kepala Stasiun Meteorologi Citeko-Bogor, Asep Firman Ilahi, mengatakan, yang patut diwaspadai saat musim pancaroba adalah mengenali lingkungan geografis di mana berada. Saat terjadi hujan deras disertai angin kencang dan petir agar berlindung pada tempat yang aman.

”Pada musim pancaroba biasanya ditandai dengan mewabahnya berbagai penyakit. Akibat perubahan tekanan udara, maka fluktuasi suhu udara dan kelembaban yang tidak menentu, membuat tubuh bereaksi beragam terhadap perubahan cuaca, ” beber Asep. (ash/b/els/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *