Ranitidin Masih Beredar di Bogor

by -30 views
PEMERIKSAAN: Petugas BPOM RI sedang memeriksa obat lambung Ranitidin yang banyak beredar di pasaran.

METROPOLITAN  – Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) telah meminta perusahaan farmasi untuk menghentikan dan menarik obat Ranitidin karena mengandung N-Nitrosodimethylamine atau NDMA. Meski demikian, obat Ranitidin rupanya masih beredar di sejumlah wilayah di Bogor.

NDMA merupakan zat yang sebenarnya tidak berbahaya jika dikonsumsi sesuai ambang batas. Namun, BPOM menemukan pencemaran di atas ambang batas yang menyebabkan NDMA bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Prime dan Tradisional pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Armein Sjuhary Rowi, mengaku obat lambung Ranitidin yang sudah ditarik BPOM Republik Indonesia (RI) dari peredaran nyatanya masih banyak ditemukan di Kota Bogor. “Iya, obat tablet lambung Ranitidin mengandung NDMA yang dianggap bersifat karsinogenik. Penggunaan oral dan parenteral, memang parenteral yang cepat menimbulkan kanker,” kata Armein Sjuhary Rowi.

Armein mengaku obat lambung Ranitidin masih beredar di Kota Bogor. Sebab, menurutnya, belum ada imbauan untuk penarikan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Pasalnya, penelitian terhadap efek merugikannya masih belum jelas karena selama ini penggunaannya masih dosis kecil. “Di Kota Bogor, obat Ranitidin ini tersebar di seratus apotek. Bahkan dari 25 puskesmas menyediakan obat tersebut. Hingga kini kami masih menunggu untuk penarikan,” katanya.

Senada, Sekretaris Dinkes Kabupaten Bogor Erwin Suriana mengaku untuk wilayah Kabupaten Bogor obat Ranitidin hingga kini masih beredar. Menurutnya, untuk penarkian obat dari peredaran memang harus ada keputusan dari Kemenkes RI. “Obat jenis lambung itu memang hingga saat ini masih menunggu keputusan dari pusat. Jika memang harus ditarik, Dinkes sendiri akan tarik,” ucap Erwin Suriana.

Sementara itu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Ari Fahrial, menjelaskan bahwa sesungguhnya kandungan dalam sebuah obat harusnya bersifat aman. Namun, temuan dari BPOM atas Ranitidin telah mengindikasikan ada kandungan karsinogen yang levelnya tidak bisa ditoleransi.

“Contohnya depan mata sebenarnya rokok itu karsinogen. Tapi orang sudah tahu karsinogen masih juga mengisap rokok. Tapi prinsipnya temuan BPOM dalam bentuk obat yang kita konsumsi itu (Ranitidin, red) memang harus disikapi masyarakat,” kata Ari.