Selama 10 Hari Suhu Bogor Lebih Panas

by -

METROPOLITAN – Belakangan ini cuaca panas di siang hari, kerap kali dikeluhkan masyarakat. Terlebih mereka yang beraktivitas pada siang hingga sore hari. Di sejumlah media sosial, fenomena ini menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat. Bahkan tak sedikit masyarakat yang termakan hoax tentang fenomena alam ini.

Berdasarkan data yang ada pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Citeko, Kabupaten Bogor, sejak tiga hari kebelakang rata-rata suhu di kawasan Bogor berada di atas 30 derajat, dari suhu normalnya yang berkisar di bawah 30 derajat. BMKG Stasiun Klimatologi Citeko, Forcaster Stamet Citeko Ronald C Wattimena mengatakan, secara umum suhu rata-rata normal kawasan Puncak, Kabupaten Bogor pada siang hari berada pada 23,4 hingga 25,5 derajat celcius.

“Normalnya segitu, tapi sudah tiga hari ini suhunya menyentuh 34 derajat celcius, ” katanya saat dihubungi Metropolitan.

Tak hanya itu. sejumlah kawasan Bogor Raya juga mengalami hal yang sama. Bahkan rata-rata suhu di Bogor pernah menyentuh angka 36 hingga 38 derajat celcius.

“Data suhu maksimum di Puncak, Senin (21/10) tercatat 34°C dengan kelembaban udara 27% (sangat kering). Tidak hanya di Puncak, di Kota Bogor suhu udara tercatat hingga 36°C, ” ujarnya.

Fenomena suhu panas ini terjadi lantaran adanya gerak semu matahari. Di mana bagian selatan khatulistiwa, sedang terjadi penyebaran suhu panas yang hampir merata pada September lalu.

“Matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan Bumi selatan hingga Desember. Karena hal itu, radiasi matahari di selatan semakin banyak, ” bebernya.

Secara keseluruhan, berdasarkan pantauan citra satelit dalam dua hari terakhir menunjukan, atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan relatif kering, sehingga sangat menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas terik matahari.

“Kurangnya tutupan awan ini, yang akan semakin mendukung pemanasan permukaan bumi, yang kemudian berdampak pada meningkatnya suhu udara, ” jelasnya.

Berdasarkan pantauannya, rata-rata suhu udara kawasan Puncak Bogor berkisar 18,7 derajat celcius di bulan September hingga Oktober. Namun terhitung sejak tiga hari ke belakang, angka tersebut mengalami kenaikan berkisar 34 hingga 36 derajat.

“Berdasarkan pengamatan kami, kemungkinan kejadian ini bakal berlangsung selama 10 hari kedepan, ” tuturnya.

Sementara itu, BMKG Stasiun Klimatologi Dramaga Kabupaten Bogor Hadi Saputra menjelaskan, udara terasa panas saat ini, disebabkan oleh posisi Matahari yang baru saja bergulir ke Selatan setelah berada tegak lurus. Hal ini diperparah dengan peluang hujan yang masih rendah, karena aliran masa udara dari timuran masih kuat, sehingga mempersulit pertumbuhan awan hujan.

“Kondisi ini menyebabkan kelembaban udara di permukaan sangat rendah. Suhu udara tinggi dan kelembaban rendah menyebabkan udara gerah, panas menyengat dan sangat tidak nyaman, ” gamblang Hadi saat dikonfirmasi.

Fenomena ini dapat menyebabkan bibir pecah-pecah, tenggorokan kering dan dehidrasi. Terlebih mereka yang beraktivitas di area terbuka. Ia menyarankan kepada masyarakat, untuk banyak mengkonsumsi cairan yang cukup, agar terhindar dari dehidrasi. Selain itu menjaga asupan makanan sehat serta buah-buahan juga dapat mencegah terserang dehidrasi akibat cuaca panas.

“Pada saat cuaca cerah dan pertumbuhan awan berkurang tingkat radiasi Matahari yang masuk ke permukaan bumi juga akan meningkat dalam semua panjang gelombang. Radiasi Ultraviolet Alfa dan Beta (UV-A dan UV-B) keduanya merupakan jenis radiasi berbahaya bagi kesehatan. Disarankan bagi wanita agar menggunakan tabir surya untuk memperkecil dampak terpaparnya radiasi UV-A dan UV-B ini, ” tutupnya. (ogi/b/els)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *