Tak Mau Kalah Saing dengan Kreator Lainnya

by -23 views
INSPIRATIF: Kekurangan fisik yang dialami Amanda Farliany Faishal tidak mengendurkan semangatnya untuk membuat konten di YouTube.

METROPOLITAN – Bagi Amanda Farliany Faishal, mengalami kekurangan fisik tidak dapat mendengar atau tunarungu bukanlah halangan untuk meraih mimpi. Ibu dari tiga putri cantik bernama Alyssa, Miko dan Kenna itu sukses membagikan konten YouTube Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) di channel-nya yang memiliki hampir 47 ribu subscriber.

“Di sini mau cerita tentang pengalaman saya yang dulu. Saya memiliki kekurangan fisik (tunarungu, red) mimpi untuk bercita-cita menjadi model. Jangan meremehkan sama orang disabilitas ya. Pasti teman-teman disabilitas punya bakat,” ujar Amanda.

Amanda mengisahkan bagaimana ia bisa terjun menjadi YouTuber. Kata anak pertama dari tiga bersaudara itu, adiknya Rani yang terlebih dahulu berkecimpung di dunia YouTube. Sang adik, Rani Ramadhany Faishal, yang populer sebagai drummer wanita, mendorong Amanda membuat channel YouTube.

Amanda pun tertarik membuat konten di YouTube karena merasa banyak YouTubers yang tidak menambahkan teks pada videonya.

Menurutnya, bagi disabilitas yang tidak bisa mendengar, video YouTube dengan teks akan sangat membantu. “Untuk itu saya mulai membuat akun YouTube satu tahun yang lalu. Karena saya melihat banyak YouTubers yang tidak menambahkan teks agar penyandang tuli seperti saya juga bisa mengerti isi YouTube tersebut,” katanya.

Anak dari pasangan Arlinda Bauty dengan MA Faishal itu menjelaskan bahwa konten yang ia buat awalnya tentang bagaimana memperkenalkan Bisindo dan cara berkomunikasi dengan anak menggunakan bahasa isyarat.

“Saya mengajarkan bahasa isyarat sejak dini, karena anak saya pernah mengeluh mengapa saya setiap dipanggil tidak pernah menoleh? Lalu saya beri pengertian bahwa saya tidak bisa mendengar. Saya menjelaskan itu beberapa kali kepada anak saya sampai anak saya paham sampai sekarang,” tuturnya.

Pengertian juga diberikan Amanda saat putrinya, Kenna, di-bully di sekolah karena memiliki orang tua disabilitas. Selain dirinya, suaminya juga memiliki pendengaran yang tidak sempurna. “Saya memberikan pengertian kepada Kenna lalu dengan lantang Kenna sekarang bisa mengerti dan menerima saya apa adanya sebagai mamanya,” ujar Amanda.

Kembali soal konten YouTube, kini selain pelajaran Bisindo, isi vlog-nya mulai beragam. Mulai dari soal kehidupan sehari-hari, cover lagu dengan bahasa isyarat, review tempat kekinian, jalan-jalan bersama keluarga hingga review makanan.

“Saya pernah datang ke Malaysia dan me-review Starbucks yang semua pegawainya tuli. Dari barista pelayan dan lain-lain. Yang mengambil gambar, suami saya sendiri lho,” ungkap Amanda.

Semenjak dirinya membuat konten YouTube, Amanda mengaku banyak teman sesama tunarungu menjadi terinspirasi dan ingin membuat vlog seperti dirinya. Ia sendiri tergabung dengan komunitas Kopi Tuli yang anggotanya juga antusias dengan vlog-nya.

Sukses menjadi YouTuber, wanita kelahiran 14 Agustus 2983 itu bertekad membuka mata masyarakat dan melihat bahwa orang-orang tunarungu bisa berkarya dan beraktivitas seperti orang normal pada umumnya. Ia sendiri sudah membuktikannya dengan melakukan aktivitas seperti manusia normal lainnya.

“Saya bisa menyetir mobil sendiri. Badan saya sehat seperti orang normal, hanya saja saya tidak bisa mendengar. Saya harap agar mata masyarakat bisa terbuka dan bisa menghargai orang seperti saya. Melalui YouTube, saya ingin agar orang bisa tahu bahasa isyarat, memperkenalkan dan mempelajari bahasa isyarat lebih luas lagi,” tutur Amanda.

Amanda juga ingin akun YouTube-nya bisa menjadi wadah untuk berkumpul dengan sesama teman-teman tunarungu. “Saya ingin teman-teman sesama tuli untuk tidak malu dan berdiam diri di rumah. Buat apa malu? Biar semua orang tahu kalau kita juga bisa seperti orang lain,” tegasnya.

Namun ternyata tidak semua orang mendukung YouTube yang ia buat. Ada saja orang yang berkomentar negatif dengan mengasihaninya. Bullying tersebut tidak ditanggapinya lebih lanjut. Ia memilih fokus berkarya dan memberikan inspirasi bagi sesama.

“Saya berharap agar orang seperti saya ini bisa lebih percaya diri, mengajak agar teman-temannya jangan hanya di rumah saja. Kalian bisa berkarya dan beraktivitas seperti orang-orang. Dan juga perusahaan-perusahaan bisa menerima orang yang berkebutuhan khusus orang untuk bekerja. Kita juga bisa bekerja kok,” pungkas Amanda. (dtk/mam/run)