Uji Coba Kanalisasi 2-1 Minggu Depan Ditunda

by -

METROPOLITAN – Sistem kanalisasi rekayasa lalu lintas 2-1 masih belum bisa menjadi penawar kemacetan kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, saat kebijakan tersebut diterapkan pada Minggu (27/10) silam. Kebijakan itu seperti tak berpengaruh banyak untuk mengatasi kepadatan dan antrean panjang kendaraan.

“Uji coba kembali sistem rekayasa arus lalu lintas kanalisasi 2-1 kami tunda, karena uji coba yang minggu kemarin kita lakukan tidak berjalan sukses atau gagal karena masih adanya pembangunan pelebaran jalan di beberapa titik di Jalan Raya Puncak,” kata Kapolres Bogor AKBP Muhammad Joni kepada wartawan, Senin (28/10).

Joni mengaku belum bisa memastikan kapan uji coba sistem rekayasa arus lalu lintas kanalisasi 2-1 itu kembali dilakukan. “Kami menunggu selesainya pembangunan pelebaran Jalan Raya Puncak yang saat ini masih dikerjakan. Karena percuma uji coba kembali dilakukan kalau masih ada bottleneck atau penyempitan jalan,” terangnya.

Selain lebar jalan yang belum memadai di beberapa titik Jalan Raya Puncak, pihaknya juga menunggu tambahan sarana prasarana traffic cone.

“Jumlah traffic cone harus ditambah hingga lajur terbagi tiga dan personel gabungan tidak repot-repot memindahkan posisi traffic cone,” kata Joni.

Sementara itu, Bupati Bogor Ade Yasin mengaku jajarannya tidak memprediksi bahwa arus lalu lintas dari Cianjur ke Jakarta membeludak hingga menyebabkan antrean kendaraan hingga Cipanas, Kabupaten Cianjur.

“Pada uji coba sistem rekayasa arus lalu lintas kanalisasi 2-1 kemarin, itu kita tidak menyangka bahwa arus dari Cianjur menuju Jakarta membeludak. Lalu uji coba itu gagal karena para pengendara juga tidak disiplin hingga ratusan traffic cone tertabrak dan sebagian mengalami kerusakan. Karena itu kami pun kembali mengambil langkah diskresi dan menerapkan kembali sistem rekayasa arus lalu lintas one way,” tutur Ade.

Ade Yasin juga mengaku menerima uji coba kembali sistem rekayasa arus lalu lintas kanalisasi 2-1 itu ditunda, namun ia tetap optimis uji coba itu akan terus dilakukan.

“Uji coba kembali sistem rekayasa arus lalu lintas kanalisasi 2-1 pada Minggu (3/11) memang ditunda. Tetapi ke depan kami masih bisa melakukan kembali uji coba tersebut hingga kita mengetahui akar permasalahannya hingga program kerja ini berjalan sukses,” pungkasnya.

Terpisah, Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, permasalahan di Puncak berkutat pada dua hal yaitu kapasitas jalan yang tidak bertambah dan populasi kendaraan yang terus meningkat.

“Ini kan hanya soal manajemen saja. Mau dipilih yang mana. Kapasitas jalan tidak bertambah, populasi kendaraan yang lewat selalu bertambah dan tidak berkurang,” kata Djoko.

Djoko menuturkan, pilihan untuk mengurangi macet adalah melakukan pengalihan arus atau membatasi kendaraan pribadi.

Menurutnya, sistem one way awalnya bisa membantu namun populasi kendaraan terus bertambah. “Populasi kendaraan bertambah, kapasitas tidak. Pasti muncul masalah baru lagi seperti semula, kemacetan lagi,” tuturnya.

Ia mengaku sudah ada upaya untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi melalui rute langsung Blok-Puncak. Meski demikian, ada masalah sosial di masyarakat setempat terkait bisnis lahan parkir yang terganggu akibat rute tersebut.

“Ada masalah sosial yang harus ditangani ketika nantinya makin banyak dibuka rute transportasi umum dari Jakarta ke Puncak,” tuturnya. (dtk/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *