Berkat Lendir Keong, Ayu Savitri Diganjar Penghargaan

by -5 views
INOVATIF: Ayu Savitri Nurinsiyah menerima penghargaan lantaran berhasil mengembangkan khasiat lendir keong.

METROPOLITAN – Lendir keong memang terkenal cukup bermanfaat bagi kesehatan, khususnya untuk mengobati luka dan beberapa bahan kosmetik. Bahkan saat ini sejumlah peneliti tengah mengembangkan khasiat lendir keong tersbut. Ya, Dr.rer.nat. Ayu Savitri Nurinsiyah, M. IL., M.Sc merupakan sosok wanita yang tak dikenal banyak orang. Ia masih mengeksplorasi penemuan keong darat yang tepat dalam mengungkap potensi biodiversitas sebagai solusi masalah kesehatan.

Wanita yang akrab disapa Ayu ini melihat banyak keistimewaan dari spesies keong, namun tidak banyak orang yang tertarik menelitinya. Padahal menurut Ayu, di luar negeri sendiri cukup banyak penelitian mengenai keong, salah satunya penelitian yang menghasilkan penemuan yang kemudian dijadikan solusi pada bahan kosmetik.

Ayu mengaku awalnya dirinya tertarik pada spesies keong saat mengetahui bahwa hewan tersebut memiliki manfaat menyembuhkan luka. Perkenalannya dengan manfaat keong itu terjadi ketika dia sedang berkumpul dengan keluarganya di hari Lebaran.

“Jadi waktu saya sedang ngumpul-ngumpul Lebaran sama keluarga itu, lagi main-main di kebun terus ada sepupu saya nginjek beling nggak sengaja dan berdarah. Terus tante saya ngambil bekicot tuh. Di crack sama dia sampai keluar lendir yang banyak badannya terus di tempel ke luka,” kata wanita yang pernah meraih behasiswa di Harvard Summer School itu.

Setelah dioleskan lendir siput, luka sepupunya lalu menjadi menggumpal. Bukan kering, melainkan membeku, sehingga tidak ada lagi darah yang mengalir. Karena rasa penasarannya akan hal tersebut, akhirnya wanita yang pernah meraih gelar mahasiswi teladan di Universitas Padjajaran pada 2017 itu memutuskan untuk mempelajari lebih dalam lagi tentang keong.

“Ternyata dia punya banyak fakta-fakta yang bisa bermanfaat gitu. Selain bisa nyembuhin sebagai obat, dia punya banyak kolagen, anti bakteri dan sebagainya,” kata Ayu yang meraih gelar doktor dari Universitas Hamburg, Jerman.

Ayu mengaku telah mempelajari dan mencari tahu mengenai keong sejak 2006. Bahkan dia sudah menjadikan keong sebagai topik skripsinya sejak kuliah S-1 di Universitas Padjajaran. Sampai saat ini ilmuwan wanita yang bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut telah menemukan 22 jenis keong baru di Jawa.

Pada penelitiannya kali ini, Ayu akan meneliti jenis keong darat native dan endemik Jawa yang memiliki aktivitas antimikroba terampuh dari protein mucus (lendir)nya. Tujuan penelitiannya yaitu untuk mengungkap potensi biodiversitas Indonesia sebagai solusi dari masalah-masalah kesehatan.

Berkat penelitiannya tersebut, Ayu bersama tiga ilmuan lainnya mendapatkan penghargaan L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2019. (dtk/mam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *