Dari Jurnalis sampai Tenaga Pendidik

by -16 views
KAGUM: Presiden Jokowi bersama Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin tengah melihat foto para tokoh yang diberi gelar Pahlawan Nasional

METROPOLITAN – Warga Indonesia tentunya sudah tau bahwa tanggal 10 November adalah Hari Pahlawan Nasional. Hari besar ini diperingati untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, tak hanya sebatas peringatan untuk mengenang jasa para pahlawan. Presiden juga memberikan gelar Pahlawan Nasional sebagai tanda jasa dan juga kehormatan.

Tahun ini, ada sebanyak enam tokoh bangsa yang dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Keputusan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional termuat dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 120/TK Tahun 2019 tanggal 7 November 2019. Penganugerahan dilakukan di Istana Negara Jakarta pada Jumat (8/11) dan dihadiri ahli waris masing-masing tokoh.

Wakil Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan Negara, Jimly Asshiddiqie, mengatakan enam tokoh tersebut merupakan penyaringan dari 20 nama yang diajukan Kementerian Sosial. Keenam tokoh dipilih karena dianggap telah berjasa di bidang mereka masing-masing. Berikut profilnya:
Abdul Kahar Mudzakkir

Abdul Kahar Mudzakkir adalah salah satu tokoh muslim yang ikut berjasa dalam proses pendirian dan pengembangan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang bertransformasi menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Di lembaga ini dia menjabat sebagai rektor hingga tahun 1960.

Abdul Kahar Mudzakkir juga tercatat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan salah satu tokoh di Muhammadiyah.

Alexander Andries (AA) Maramis

Alexander Andries Maramis lahir di Manado, Sulawesi Utara, 20 Juni 1897. Dia wafat di Jakarta, 31 Juli 1977 pada umur 80 tahun. Dia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia dan pernah menjadi anggota BPUPKI dan KNIP bersama Kahar Mudzakkir dan KH Masykur.

Maramis juga pernah menjadi Menteri Keuangan Indonesia. Sebagai Menteri Keuangan, Maramis berperan penting dalam pengembangan dan pencetakan uang kertas Indonesia pertama atau Oeang Republik Indonesia (ORI).

KH Masykur

KH Masykur lahir di Malang, Jawa Timur, 30 Desember 1904. Dirinya pernah menjabat sebagai Menteri Agama Indonesia pada tahun 1947-1949 dan tahun 1953-1955. Dia juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI tahun 1956-1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada tahun 1968. Keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan menonjol di zaman pendudukan Jepang, sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Masykur juga tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (Peta) yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI di seluruh Jawa. Ketika pertempuran 10 November 1945, namanya muncul sebagai pemimpin Barisan Sabilillah.

Prof M Sardjito

Prof Dr Sardjito merupakan rektor pertama Universitas Gadjah Mada atau UGM. Sardjito wafat pada usia 80 tahun ketika masih menjabat sebagai rektor Universitas Islam Indonesia (UII) pada 5 Mei 1970.

Prof Dr Sardjito juga merupakan seorang dokter lulusan STOVIA (sekolah kedokteran di zaman kolonial Belanda) pada 1915. Sang ayah yang berprofesi sebagai guru membuatnya selalu peduli dengan dunia pendidikan.

Pada masa kemerdekaan, Sardjito turut berjasa dan mengobati para pejuang kemerdekaan. Sardjito membantu menyediakan obat-obatan dan vitamin bagi prajurit. Selain itu, Sardjito juga membangun pos kesehatan untuk tentara di Yogyakarta dan sekitarnya.

Sardjito pun juga dikenal sebagai pelopor pembuat biskuit untuk tentara Indonesia di masa perang. Biskuit tersebut kemudian diberi nama Biskuit Sardjito.

Ruhana Kudus

Ruhana Kudus atau yang juga kerap ditulis Rohana Kudus merupakan seorang wartawan perempuan pertama di Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat. Selain berprofesi sebagai jurnalis, kelahiran Koto Gadang, 20 Desember 1884 itu juga mendirikan sekolah Kerajinan Amaia Setia (KAS) di Kotogadang yang mendidik keahlian anak-anak perempuan.

Ia juga mendirikan surat kabar Soenting Melajoe pada Juli 1912, setelah sebelumnya mengabdi di surat kabar Oetoesan Melajoe yang terbit sejak 1911. Ia juga disebut sebagai pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Sultan Himayatuddin

Sultan Himayatuddin merupakan pemimpin Kesultanan Buton yang terletak di Pulau Buton sebelah tenggara Pulau Sulawesi. Sultan La Karambau yang memiliki gelar Sultan Himayatuddin Ibnu Sultaani Liyaauddin Islamail itu sempat menjabat menjadi Sultan ke-20 pada 1750–1752 dan Sultan ke-23 pada 1760 – 1763.

Sultan Himayatuddin sangat mencintai keadilan, oleh karena itu nuraninya terusik dan jiwanya memberontak saat mengetahui bahwa secara sepihak VOC Belanda membuat aturan pembatasan pelayaran orang Buton, pembebasan pajak atas kapal VOC Belanda yang berlabuh di pelabuhan Buton, dan penghancuran tanaman rempah di Buton.

Aturan-aturan ini menciptakan penderitaan hidup rakyat Buton yang mayoritas menggantungkan hidupnya dalam bidang maritim. Ketika La Karambau dilantik menjadi Sultan Buton ke-20 dengan gelar Sultan Himayatuddin, ia langsung menyatakan diri menentang dominasi VOC Belanda tersebut.(lip/rez)

Loading...