Demi Uang Rp180 Ribu, Nyawa Sopir Taksi Online Berakhir Tragis

by -11.1K views

METROPOLITAN.id – Entah apa yang merasuki pikiran FP. Lelaki 25 tahun yang sehari-hari biasa menghabiskan waktu bermain gim online itu nekat menghabisi nyawa sopir taksi online. Tujuannya, hanya untuk memperoleh uang Rp180 ribu.

FP memang gemar, bahkan boleh dibilang kecanduan bermain gim online. Ia lebih suka bermain gim ketimbang mencoba pekerjaan menghasilkan lainnya.

Saking kecanduannya, hubungan FP dengan saudara-saudaranya tak berjalan baik.

“Dia kecanduan gim online, sangat kecanduan. Dibenarkan dua kakaknya dan Karena itu juga ia memutuskan huhungan silaturahmi dengan keluarga selama dua tahun. Ya memang addict,” kata Kepala Satreskrim Polresta Bogor Kota, AKP Niko N Adiputra saat rilis di Mako Polresta Bogor Kota, Senin (4/11).

Karena gim yang dimainkannya membutuhkan laptop, FP kebingungan ketika laptopnya mengalami kerusakan.

Setelah dicek, ternyata power supply atau komponen yang berkaitan dengan kelistrikannya mengalami masalah dan harus dibetulkan.

Untuk bisa menghidupkannya kembali, FP membutuhkan uang sekitar Rp180 ribu.

Selama laptopnya mati, secara otomatis ia tak bisa menyalurkan hasratnya beradu jago di dunia maya dengan orang lain.

Gim baginya tak hanya menyalurkan kesenangannya semata. Lebih dari itu, gim yang dimainkan FP mulai bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah meski nominalnya tak pasti.

Pengakuan FP, ia pernah mendapat uang mulai dari Rp500 ribu hingga Rp3 juta dari bermain gim.

Selain itu, uang juga didapatnya dari menjual akun-akun gim miliknya. Tentunya ini membutuhkan proses, karena biasanya akun yang laku adalah akun dengan level tinggi.

Bahkan, kebiasaan FP bermain gim membuatnya mulai dilirik, tapi bukan oleh wanita. Dirinya justru dimintai menjadi ‘joki’ gim online bagi siapapun yang membutuhkan level tinggi tanpa bersusah-susah.

FP kerap ‘disewa’ untuk memainkan gim menggunakan akun orang lain dengan imbalan uang.

“Penghasilan gim online tidak tetap, ada yang 500 ribu bahkan 3 juta. Dia memiliki beberapa akun yang kadang dijual, bisa ngejokiin juga. Itu sumber pendapatannya,” tutur Niko menjelaskan pengakuan FP.

FP sempat berusaha meminjam uang kepada kawannya sebesar Rp200 ribu. Namun usaha tersebut sia-sia. Dirinya harus gigit jari dan memutar otak kembali.

Kondisi ini kemudian membuatnya tak bisa berpikir jernih. Muncul niat tak baik, bahkan bisa dibilang gila. FP menjadi sosok yang hilang kendali.

Dalam pikirannya, sudah muncul cara mendapatkan uang dengan cepat. Yaitu merampok uang sopir taksi online.

Bermodalkan niat jahat, FP mulai merancang strategi. Hal pertama yang dilakukannya adalah membeli pisau cutter. Setelah itu, tinggal memesan taksi online melalui aplikasi telpon pintar.

Nampaknya FP mencoba berpikir lebih maju. Hal itu tercermin dari caranya mengorder taksi online. Ia tak menggunakan aplikasi dari telpon pintar miliknya.

Sebelum melancarkan aksinya, FP sempat mengisi perut terlebih dulu. Ia makan di warung pecel lele di Jalan Pahlawan, Bogor Selatan. Usai itu, ia minta tolong kepada penjual untuk mengorderkan taksi online untuknya.

Sampai di bagian ini, rencana berjalan mulus. Taksi online yang dipesan melalui akun orang lain datang menjemputnya. FP lantas naik di belakang seperti layaknya penumpang.

“Pada saat akan berangkat, ia sudah mempersiapkan segalanya, dari mulai memesan Grab di tempat makan,” ungkap Niko.

Langkah FP selanjutnya adalah meminta sopir taksi online menepi di parkiran Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bank BRI unit ATM BRI Unit Harjasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Alasannya, menarik uang terlebih dulu dari mesin ATM untuk membayar ongkos.

Waktu saat itu diperkirakan mendekati pukul 2 dini hari, Kamis (31/10). Parkiran pun sangat lengang tak seperti di jam-jam kerja.

Ongkos yang harus dibayar FP sebesar Rp46 ribu. Padahal tanpa ke ATM, uang di kantongnya cukup untuk membayar ongkos tersebut.

Ia sengaja berniat membayar ongkos dengan uang pecahan Rp100 ribu. Pikirnya sederhana, agar saat membayar, sang sopir mengeluarkan dompet tempatnya menyimpan uang untuk memberi kembalian.

Dengan begitu, FP bisa melihat isi dompet sopir untuk memastikan uang yang ada didalamnya cukup untuk memperbaiki laptop yang rusak.

FP bisa saja membayar dengan uang pecahan Rp50 ribu. Namun dalam pikirannya, jika ia membayar dengan uang Rp50 ribu, sang sopir tidak akan mengeluarkan dompet.

Sopir biasanya menyimpan uang receh di dashboard mobilnya. Uang itu juga selalu digunakan untuk membayar kembalian ongkos yang tak terlalu besar.

“Kalau dia kasih Rp50 ribu, otomatis si sopir hanya mengambil kembalian dari dashboard. Trip yang harus dibayar 46 ribu. Sebetulnya sebelum ke ATM juga uangnya cukup untuk ongkos,” terangnya.

Usai dari ATM, FP masuk ke mobil dan langsung membayar ongkos. Posisi saat itu masih di area parkiran.

Semua masih berjalan seperti yang direncanakan. Sang sopir mengeluarkan dompet untuk mengambil kembalian. Sementara PF diam-diam mengintip isi dompet tersebut.

Hasil penglihatannya, uang dalam dompet sang sopir cukup untuk membenarkan laptop. Ada Rp400 ribu. Sementara biaya perbaikan laptop cuma Rp180 ribu. Cukup bahkan lebih.

“Setelah sopir mengeluarkan isi dompet, ia tahu nominalnya sudah cukup untuk menyervis laptop,” sambung Niko.

Tanpa pikir panjang, PF langsung mengeluarkan pisau cutter yang telah disiapkan. Ia lalu menghunuskannya ke bagian leher sang sopir yang tengah menyiapkan kembalian.

Sang sopir tak langsung tutup usia. Mendapat serangan mendadak, ia sempat berteriak dan membunyikan klakson mobil.

Kegaduhan terjadi. Apesnya, dompet sang sopir terjatuh di bawah setir. Bahkan saat itu, pedal gas sempat terinjak. Mobil seketika mengeluarkan suara mesin yang meraung tak biasa.

FP panik bukan main. Ia yakin kegaduhan tersebut bakal mengundang perhatian orang. Sebelum ramai, ia langsung melarikan diri lewat pintu kiri bagian belakang tanpa memikirkan dompet yang diincarnya.

“Pelaku niatnya membunuh. Dihunuskan cutter di bagian vital, di leher. Tapi pada saat akan mengambil dompet tidak berhasil, gas sempat terinjak. Pelaku langsung kabur lewat pintu belakang kiri,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Kapolresta Bogor Kota Kombes Hendri Fiuser menjelaskan, usai menusuk korban, pelaku kabur dengan naik ojek.

Selang beberapa saat, sekuriti bank mendatangi sumber suara gaduh yang ternyata berasal dari mobil yang terpakir sekitar pukul 02:30. Saat itu, pintu samping kiri bagian belakang dalam kondisi terbuka.

Kejanggalan makin terasa saat sekuriti mencoba mendekati mobil jenis Toyota Calya berwarna silver itu. Kucuran darah nampak menetes di bagian bawah pintu depan. Sementara di bangku kemudi didapati seorang pria yang sudah tak bernyawa dengan darah di mana-mana.

Sekuriti yang masih kaget langsung menghubungi kepolisian. Tak butuh lama bagi polisi untuk datang dan mengamankan lokasi.

Pagi hari itu juga polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi menemukan sejumlah barang bukti seperti dompet dan telpon genggam milik korban serta pisau cutter.

Korban yang diketahui berinisial AF (31) selanjutnya dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Hasilnya menunjukan terdapat luka tusukan di leher dan beberapa luka goresan.

Polisi langsung menduga pria yang tewas dalam mobil adalah korban pembunuhan. Tim lantas dibentuk untuk melakukan penyelidikan.

Berdasarkan keterangan saksi-saksi dan barang bukti yang ditemukan, polisi menemukan titik terang. Dua hari berselang, Sabtu (2/11), polisi berhasil mengendus tempat persembunyian pelaku di wilayah Cibinong, Kabupaten Bogor.

Akan tetapi, saat proses penangkapan sekitar pukul 23:45 WIB, pelaku sempat mencoba kabur. Polisi akhirnya menghadiahi timah panas di bagian kaki FP sebelum digiring ke jeruji besi.

“Motif yang berhasil kita gali, pelaku ingin menguasai harta korban dengan cara akan mengambil uang korban saat mengeluarkan kembalian. Saat itulah tersangka menusukan cutter ke leher sebelah kiri korban,” ujar Hendri.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 340 KUHP (primer), Pasal 338 KUHP (subsider) dan Pasal 365 KUHP Ayat 3 dengan ancaman hukuman penjara 20 tahun sampai seumur hidup. (fin)