Ditolak Berbagai Tempat hingga Punya Sekolah Sendiri

by -53 views
INSPIRATIF: Sriyono Abdul Qohar saat mengajar sejumlah anak di PAUD yang didirikannya

METROPOLITAN – Sriyono Abdul Qohar (35) sempat merasa putus asa saat melamar menjadi guru di berbagai sekolah di Jawa Tengah sejak lulus dari D2 STAIM Blora tahun 2005. Ia telah melamar untuk menjadi guru mulai dari sekolah dasar (SD), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs) baik sekolah negeri maupun swasta.

“Ditolak sebagai guru mungkin karena saya seorang cacat,” ujar Sriyono yang merupakan seorang penyandang disabilitas yakni tunadaksa.

Sekitar empat tahun lamanya ia melamar ke sekolah-sekolah. Informasi lowongan guru ia dapatkan dari rekan-rekannya dan penolakan pun selalu ia dapatkan. “Padahal sekolah waktu itu saya tahu butuh guru,” tambahnya.

Pihak sekolah yang ia lamar, menurutnya, menolak dengan alasan posisi guru sudah tak ada. Namun, ia tak patah semangat. Gagal melamar menjadi guru, ia melanjutkan S1 STAIM Blora lulus tahun 2009. Di tahun 2008, Sriyono terpikir mendirikan sekolah. Awalnya Sriyono mendapatkan informasi seorang bidan desa pada tahun 2008. Tahun itu, menurutnya, pemerintah pusat sedang mencanangkan program sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Ia kemudian mencari informasi tentang pendirian sekolah PAUD. Pada tahun ajaran 2008/2009, Sriyono membuat sekolah PAUD dengan mengundang serta mengumpulkan orang tua di sekitar rumahnya yang mempunyai anak usia PAUD. “Alhamdulillah mereka peduli dan menyekolahkan anaknya pada waktu hanya berjumlah 23 anak kemudian mengajukan proposal ijin sekolah PAUD, tepat tgl 1 November 2009 sudah berijin dari Diknas Kabupaten Blora,” ujarnya.

Sekolah yang ia dirikan bernama PAUD Gembira Ria. Lokasinya berada di tanah kelahiranya yakni Desa Sendangmulyo, Kecamatan Ngawen, Blora.

Konsep yang ia tawarkan adalah sekolah inklusi gratis untuk anak-anak usia dini. Ia kemudian mengajar di PAUD Gembira Ria dengan bermodalkan semangat mengajar, dana yang terbatas, perlengkapan seadanya, dan rekan-rekannya yang juga membantu mengajar. “Orang tua hanya titip uang jajan Rp. 2000 yang dikelola oleh paguyuban orang tua wali murid apabila sisa untuk kegiatan-kegiatan pengembangan kreatif anak, parenting orang tua, dan transport belajar di luar kelas,” ujarnya.

Saat mengajar di PAUD Gembira Ria, ia tak memikirkan penghasilan. Sriyono juga bergabung di komunitas difabel untuk meningkatkan penghasilannya. “Di sana ada kegiatan membatik. Dari itulah saya untuk mencukupi sehari-sehari. Mulai pengelolaan batik, pemasaran, belanja untuk kebutuhan,” tambah Sriyono.

Ia juga mengaku kerja serabutan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti memperbaiki alat elektronik. Bila ada sisa, ia menyisihkan uang untuk membeli alat-alat belajar untuk PAUD Gembira Ria.

Sriyono mengatakan terinspirasi untuk menjadi guru dari seorang pensiunan guru. Ia diminta untuk bersekolah hingga tingkat perguruan tinggi. “Guru itu di benak saya adalah seorang yang sangat berjasa memberikan ilmu, dihormati murid, pemberi motivasi anak yang dikenang namanya sepanjang masa,” ujar Sriyono bersemangat.

Ia terus mengajar┬ádi PAUD Gembira Ria dengan bantuan semangat dari istrinya. Sriyono mengaku suka berinteraksi dengan anak-anak. “Anak-anak selalu menyambut saya. Saya kangen saja kalau gak masuk. 2-3 hari pasti ditanyakan ke mana,” ujar Sriyono.

Ia bermimpi untuk mendirikan PAUD inklusi untuk disabilitas. Menurutnya, orangtua yang memiliki anak usia dini dengan status disabilitas akan malu untuk menyekolahkan anaknya. “Saya ingin memotivasi orangtua agar anaknya tetap di sekolah PAUD,” tambah Sriyono.

Selama ia mengajar, muridnya tergolong beragam. Ia pernah mendapatkan murid disabilitas seperti tuna rungu, hiperaktif, dan tuna wicara. Sriyono adalah salah satu potret guru penyandang disabilitas yang terus mengabdi untuk dunia pendidikan di Indonesia selama 10 tahun terakhir. Terlahir sebagai seorang tuna daksa, ia berprinsip untuk terus berjalan meskipun orang lain berkata apapun. “Ini pembuktian bagi saya, difabel bisa mengajar walaupun di sekolah PAUD,” kata Sriyono. (kmp/mam)

Sriyono Abdul Qohar (35) sempat merasa putus asa saat melamar menjadi guru di berbagai sekolah di Jawa Tengah sejak lulus dari D2 STAIM Blora tahun 2005. Ia telah melamar untuk menjadi guru mulai dari sekolah dasar (SD), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs) baik sekolah negeri maupun swasta.

“Ditolak sebagai guru mungkin karena saya seorang cacat,” ujar Sriyono yang merupakan seorang penyandang disabilitas yakni tunadaksa.

Sekitar empat tahun lamanya ia melamar ke sekolah-sekolah. Informasi lowongan guru ia dapatkan dari rekan-rekannya dan penolakan pun selalu ia dapatkan. “Padahal sekolah waktu itu saya tahu butuh guru,” tambahnya.

Pihak sekolah yang ia lamar, menurutnya, menolak dengan alasan posisi guru sudah tak ada. Namun, ia tak patah semangat. Gagal melamar menjadi guru, ia melanjutkan S1 STAIM Blora lulus tahun 2009. Di tahun 2008, Sriyono terpikir mendirikan sekolah. Awalnya Sriyono mendapatkan informasi seorang bidan desa pada tahun 2008. Tahun itu, menurutnya, pemerintah pusat sedang mencanangkan program sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Ia kemudian mencari informasi tentang pendirian sekolah PAUD. Pada tahun ajaran 2008/2009, Sriyono membuat sekolah PAUD dengan mengundang serta mengumpulkan orang tua di sekitar rumahnya yang mempunyai anak usia PAUD. “Alhamdulillah mereka peduli dan menyekolahkan anaknya pada waktu hanya berjumlah 23 anak kemudian mengajukan proposal ijin sekolah PAUD, tepat tgl 1 November 2009 sudah berijin dari Diknas Kabupaten Blora,” ujarnya.

Sekolah yang ia dirikan bernama PAUD Gembira Ria. Lokasinya berada di tanah kelahiranya yakni Desa Sendangmulyo, Kecamatan Ngawen, Blora.

Konsep yang ia tawarkan adalah sekolah inklusi gratis untuk anak-anak usia dini. Ia kemudian mengajar di PAUD Gembira Ria dengan bermodalkan semangat mengajar, dana yang terbatas, perlengkapan seadanya, dan rekan-rekannya yang juga membantu mengajar. “Orang tua hanya titip uang jajan Rp. 2000 yang dikelola oleh paguyuban orang tua wali murid apabila sisa untuk kegiatan-kegiatan pengembangan kreatif anak, parenting orang tua, dan transport belajar di luar kelas,” ujarnya.

Saat mengajar di PAUD Gembira Ria, ia tak memikirkan penghasilan. Sriyono juga bergabung di komunitas difabel untuk meningkatkan penghasilannya. “Di sana ada kegiatan membatik. Dari itulah saya untuk mencukupi sehari-sehari. Mulai pengelolaan batik, pemasaran, belanja untuk kebutuhan,” tambah Sriyono.

Ia juga mengaku kerja serabutan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti memperbaiki alat elektronik. Bila ada sisa, ia menyisihkan uang untuk membeli alat-alat belajar untuk PAUD Gembira Ria.

Sriyono mengatakan terinspirasi untuk menjadi guru dari seorang pensiunan guru. Ia diminta untuk bersekolah hingga tingkat perguruan tinggi. “Guru itu di benak saya adalah seorang yang sangat berjasa memberikan ilmu, dihormati murid, pemberi motivasi anak yang dikenang namanya sepanjang masa,” ujar Sriyono bersemangat.

Ia terus mengajar┬ádi PAUD Gembira Ria dengan bantuan semangat dari istrinya. Sriyono mengaku suka berinteraksi dengan anak-anak. “Anak-anak selalu menyambut saya. Saya kangen saja kalau gak masuk. 2-3 hari pasti ditanyakan ke mana,” ujar Sriyono.

Ia bermimpi untuk mendirikan PAUD inklusi untuk disabilitas. Menurutnya, orangtua yang memiliki anak usia dini dengan status disabilitas akan malu untuk menyekolahkan anaknya. “Saya ingin memotivasi orangtua agar anaknya tetap di sekolah PAUD,” tambah Sriyono.

Selama ia mengajar, muridnya tergolong beragam. Ia pernah mendapatkan murid disabilitas seperti tuna rungu, hiperaktif, dan tuna wicara. Sriyono adalah salah satu potret guru penyandang disabilitas yang terus mengabdi untuk dunia pendidikan di Indonesia selama 10 tahun terakhir. Terlahir sebagai seorang tuna daksa, ia berprinsip untuk terus berjalan meskipun orang lain berkata apapun. “Ini pembuktian bagi saya, difabel bisa mengajar walaupun di sekolah PAUD,” kata Sriyono. (kmp/mam)