Go-Jek Bogor Galau

by -102 views
CEK LOKASI: Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, bersama jajaran saat mengecek lokasi yang bakal dibangun shelter untuk ojol di Jalan Paledang dan Stasiun Bogor

METROPOLITAN – Sejak awal kemunculannya, angkutan online baik motor maupun mobil, mencuri perhatian lantaran beroperasi cepat dan berbeda dengan angkutan konvensional yang biasa mangkal. Seiring waktu, jumlah angkutan online membludak, sehingga muncul ‘kantung pangkalan’ ojek online di beberapa titik keramaian. Di Kota Bogor, sebut saja kawasan Stasiun Bogor. Namun, membuat para ojol kembali ke fitrahnya tak semudah membalikan tangan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kini tengah menjajaki kerjasama dengan aplikator Go-Jek untuk membuat shelter dan kantong parkir untuk para drivernya di beberapa titik jalan seputaran Stasiun Bogor.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim bersama jajaran dinas terkait dan perwakilan Go-Jek meninjau lokasi potensi pembangunan, Rabu (6/11) sore. Namun dari peninjauan itu, terungkap upaya solusi mengurai kesemrawutan lalu lintas di kawasan stasiun masih sangat mentah.

Sebab, mulai dari titik lokasi, luasan hingga kapasitas kantong parkir driver dan shelter, belum menemui kepastian. Hal itu diungkapkan Supervisor Go-Jek Bogor, Aryo. Shelter pick up point dan drop off yang nantinya dibangun akan ditempatkan di dua titik, yakni Jalan Mayor Oking, tepatnya di sebelah pintu keluar stasiun dan Jalan Paledang. Untuk nama jalan yang kedua disebutkan, belum dipastikan titik pastinya.

“Kami sedang komunikasi dengan bagian aset juga Dishub, mana yang bisa digunakan, kami menunggu itu juga. Yang pasti kami ingin akhir tahun di dua titik itu bisa terbangun fasilitas,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Tak cuma titik yang belum pasti, saat ditanya pewarta soal estimasi luasan serta kapastitas untuk membangun dua buah shelter dan kantung parkir khusus untuk Go-Jek ini, ia belum mau menjabarkan data pasti. “Itu masih kami diskusikan dengan Dishub secara teknis. Ya idealnya? Kami belum bisa sebut sekarang. Kita perlu diskusi untuk ukuran dan kapasitas,” tukasnya.

Padahal, menurutnya, untuk kawasan Bogor saja ada sekitar 28.000 driver aktif per hari ngaspal di jalanan Kota Hujan. Terdiri dari driver go-ride (pemotor) mencapai 20.000-an orang dan 7-8.000 driver go-car (mobil). Stasiun Bogor pun menjadi salah satu magnet utama bagi para driver lantaran banyak potensi penumpang. Akhirnya, driver menumpuk di bahu Jalan Paledang dan Mayor Oking.

“Pada dasarnya kan orang bisa pesan dimanapun. Tapi akhirnya di stasiun muncul kesemrawutan. Dengan adanya rencana itu, driver tidak lagi menunggu penumpang. Tapi datang, tapping, langsung berangkat. Jadi nggak numpuk apalagi mangkal,” ungkapnya.

Ketika sudah ada fasilitas tersebut, kata dia, ada komitmen antara Go-Jek dengan Pemkot Bogor melalui Dishub, untuk ‘menindak’ driver yang ‘mangkal’ selain di shelter atau kantung parkir. Apalagi di bahu jalan.

“Kalau sudah dilaunching, silahkan saja ditindak. Itu komitmen kita. Makanya nanti bakal ada sosialisasi secara masif kepada semua driver,” tandas Aryo.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menuturkan, kesemrawutan di lingkar Stasiun Bogor, mulai dari Jalan Paledang, Jalan Mayor Oking dan Jalan Kapten Muslihat harus bisa diselesaikan. Ia mengakui, beban lalu lintas dan bangkitan sangat tinggi, sehingga ada upaya mengatur salah satu moda transportasi warga.

“Go-Jek inisiatif buat itu. Pada dasarnya kan ojol beda dengan opang (ojek pangkalan, red), makanya kita ingin kembalikan ke ‘asalnya’,” bebernya.

Mantan petinggi KPK itu menambahkan, sementara ada dua titik yang akan diproyeksikan jadi shelter dan kantung parkir Go-Jek, yakni depan pintu keluar stasiun di Jalan Mayor Oking dan sekitaran kompleks rumah dinas Jalan Paledang.

“Ini sedang kita pastikan yang pas dimana. Supaya nggak dibahu jalan dan mangkal lagi,” tuntas Dedie. (ryn/c/yok/py)