Ini Kata Kadisdik soal Perubahan Kurikulum

by -2.2K views

METROPOLITAN – Perubahan kurikulum yang bakal dilakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makrim menuai pro-kontra di masyarakat. Salah satunya datang dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Entis Sutisna. Dia masuk dalam ‘golongan’ yang pro perombakan kurikulum ala Nadiem. Menurut dia konsep yang ditawarkan Nadiem dinilai efektif.

“Karena konsepnya lebih menyentuh langsung ke siswa,” ujarnya.

Perubahan-perubahan ini, kata Entis, akan membuat para guru fokus kepada kegiatan belajar mengajar. Tidak seperti pada kurikulum yang dipakai saat ini yang lebih condong dan terlalu fokus kepada administrasi. Seperti pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang bisa sampai berlembar–lembar.

Dengan menyederhanakan kurikulum, maka bisa dipastikan administrasi tidak akan kerepotan.

“Guru akhirnya bisa maksimal di kelas tidak melulu banyak di kantor menyelesaikan administrasi. Sementara, esensi belajarnya tertinggal,” kata dia.

Mantan Camat Ciampea Kabupaten Bogor ini menilai, kurikulum baru bisa fokus dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Sehingga kedepan tenaga pendidik bisa lebih akrab dengan metodelogi baru yang akan diterapkan.

“Sehingga guru lebih banyak dikelas mengurusi anak. Nanti juga guru bukan hanya mengajar dan mendidik, tapi bagaimana anak yang tadinya tidak dewasa menjadi dewasa. Yang kelakuannya kurang baik menjadi baik,” imbuh dia.

Perihal bisa atau tidaknya diterapkan di Kabupaten Bogor, tentu harus melewati kajian akademisi yang lebih mendalam lagi. Pasalnya, merubah kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun – tahun bukanlah perkara yang mudah. Terkhusus di Kabupaten Bogor.

“Terutama sekarang, kita ada di era 4.0. Itu pun belum bisa ditangkap oleh dunia pendidikan. Sementara (negara lain) sudah mulai 5.0,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor Ending Bahruddin berpendapat, wacana perubahan kurikulum sudah menjadi hal lumrah di setiap pergantian menteri pendidikan. Pada prinsipnya perubahan kurikulum tidak menjadi soal karena bagian dari proses pembelajaran.

“Tapi tetap harus penuh perhitungan. Katakanlah di SD itu harus tuntas pembelajaran bahasa Inggris, dan di SMP tidak perlu lagi ada Bahasa Inggris, apa iya, anak-anak SD disuruh kursus bahasa saja,” papar dia.

Perubahan kurikulum menurut Ending adalah suatu hal yang sulit dihindari, tetapi Mendikbud pun harus mempertimbangkan berbagai aspek. Terlebih sepengetahuan Ending, Mendikbud yang baru tidak memiliki pengalaman yang berkenaan dengan pendidikan. Belum lagi masyarakat juga butuh waktu untuk beradaptasi dengan perubahan. Namun pada prinsipnya, ujar Ending, dalam kurikulum ada beberapa hal dasar yang tidak boleh hilang. Antara lain pancasila, kewarganegaraan dan agama. Diluar itu boleh saja tidak dimasukkan atau ada pengurangan.

“Perubahan hal yang lazim Tapi harus diperhitungkan betul-betul, karena menyangkut hajat hidup orang banyak,” tandasnya. (rb/els)

Loading...