Jual Jimat Ramai Jelang Tes CPNS

by -60 views

METROPOLITAN – Berbagai upaya dilakukan sebagian orang untuk bisa diterima menjadi seorang PNS. Dari yang lazim sampai tak lazim dilakukan para peserta CPNS. Salah satunya dengan membawa jimat saat mengikuti tes CPNS.

Biasanya, jimat ini digunakan untuk menghadapi persaingan tinggi agar dapat diterima sebagai CPNS. Isu ini pun mulai berkembang di media sosial. Bahkan, ada orang yang secara terang-terangan menjual jimat di media sosial.

Pengguna media sosial pun tampak terheran-heran terhadap munculnya pedagang jimat jelang penerimaan CPNS 2019. Tak sedikit pengguna media sosial yang menyayangkan hal itu.

Terkait hal ini, Pengamat Budaya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Dr Sunu Wasono angkat suara. Menurutnya, Fenomena penggunaan jimat tersebut terjadi lantaran tingginya persaingan agar dapat diterima sebagai CPNS.

“Nah, saking ketatnya, barangkali orang mencari cara-cara yang sifatnya sebetulnya tidak rasional, cara-cara bantuan dukun dan lain sebagainya. Tapi, itu memang sekarang kan ada kecenderungan orang untuk memanfaatkan hal-hal yang ghaib ya, yang tidak masuk akal itu untuk tujuan-tujuan praktis,” kata Sunu.

Menurut Sunu, dalam konsepsi orang Jawa, jimat-jimat disebut sebagai piandel, yaitu pegangan agar lebih mantap. Ia menilai bahwa mungkin ada nilai sugestif tersendiri yang agak sulit untuk dibuktikan pengaruhnya.

“Tapi yang menurut saya sih, tidak ada pengaruhnya itu. Artinya, orang tidak tiba-tiba jadi pintar karena menggunakan jimat dan sejenisnya itu. Hanya sugestif saja, saya kira. Jadi, seakan-akan dengan pegang itu, ada jalan,” ujar Sunu.

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Sosiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Bagong Suyanto. Baginya, menggunakan jimat adalah sebagai tindakan yang non rasional.

Menurutnya, setiap manusia bila menghadapi ketidakpastian, bisanya akan menuju ke hal-hal yang non rasional tersebut. Non rasional menurut Bagong adalah mencari penyelesaian diluar tindakan yang masuk akal atau rasional.

“Bila pelamar CPNS mencari dan menggunakan jimat, ya karena dalam pandangan mereka melamar menjadi pegawai negeri itu dianggap sebagai momen yang penuh dengan ketidakpastian,” kata Bagong. “Kalo rasional ya mestinya belajar secara giat, belajar menekuni soal-soal tentang CPNS itu sendiri,” ujarnya.

Sekadar diketahui, pada seleksi CPNS 2018, keberadaan jimat diketahui saat petugas menggeledah peserta seleksi CPNS sesaat sebelum memasuki ruang tes. Adapun isi jimatnya pun bermacam-macam.

Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Bima Haria Wibisana, mengatakan bahwa peserta yang membawa jimat tetap dapat mengikuti tes seleksi. Namun, jimat yang dikenakan oleh peserta seleksi tersebut harus dilepas dan tidak boleh dibawa ke ruang tes. Selain jimat, ada juga peserta yang membawa dukun. Hal ini dilakukan oleh peserta seleksi yang sudah mengetahui larangan membawa jimat.(kom/rez)