Membelah Hutan Demi Mengabdi

by -
SERIUS: Hasan saat mengajar muridnya di kelas jauh Kampung Mulyasari, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.

METROPOLITAN – Setiap harinya, Hasan (35) harus membelah hutan kaki gunung Pancaniti, untuk memberikan pelajaran bagi murid-muridnya yang selalu setia menanti kedatangannya, bagaikan menunggu sinar mentari pagi.

Kelas dan rumahnya yang berjarak kurang lebih 15 kilometer, tidak membuat semangatnya untuk mengabdi pada bangsa surut. Dengan bermodalkan motor bebek miliknya, jalanan berbatu dan tanah licin, dilibas oleh Hasan. Tiga tahun sudah lamanya, Hasan memberikan pelajaran kepada murid yang ada di kampung terisolir tersebut.

“Semua demi pendidikan, karena ini adalah hak dasar mereka,” kata Hasan.

Sejak pertama kali ditunjuk untuk memberikan pelajaran di kelas jauh Kampung Mulyasari. Hasan mengaku terenyuh, melihat kondisi anak-anak yang belum pernah mendapatkan pendidikan sejak pindah ke kaki gunung Pancaniti sejak 2011 silam.

Selama tiga tahun mengajar, Hasan mengaku kalau kelas jauh belum pernah sekalipun mendapatkan perhatian dari pemerintah. Bahkan untuk pakaian seragam dan buku pun, masih belum dimiliki oleh seluruh siswanya.

Kelas jauh Kampung Mulyasari, didirikan pada 2017 silam, dengan luas bangunan 3×6 meter per segi dan diisi dengan beberapa meja belajar dan kursi seadanya.

Pada awal mula berdirinya kelas jauh, kelas yang dibuka dimulai dari kelas 1, dimana pembelajaran membaca dan menulis menjadi mata pelajaran pertama.

Hal tersebut dilakukan agar para anak-anak yang ada di Kampung Mulyasari, tidak ada yang buta aksara. “Karena disini tidak ada taman kanak-kanak, maka pendidikan membaca dan menulis, kita mulai dari kelas 1,” terang Hasan.

Kurikulum yang digunakan di kelas jauh, menurut Hasan, sama saja dengan kalas pada umumnya. Dalam mengemban tugas sebagai guru, Hasan tidak sendirian dalam memberikan pelajaran kepada para murid dari kelas 1 sampai kelas 3.

Usin yang merupakan warga asli Kampung Mulyasari, menjadi tandem bagi Hasan dalam memberikan pendidikan dan pembekalan ilmu kepada para penerus bangsa ini.

Hasan dan Usin membagi kelas yang diajar. Usin mengajar kelas 1 sampai kelas 2 dan Hasan mengajar kelas 3 untuk semua mata pelajaran.

Untuk proses pembelajarannya sendiri, dalam satu ruang kelas, dibagi menjadi dua bagian. Ada bagian depan dan belakang. Untuk penggunaan fasilitas meja sendiri, digunakan secara bergiliran oleh para murid saat mendapatkan jatah pembelajaran.

Sebagai guru yang menaruh banyak harapan kepada anak didiknya. Hasan berharap, para anak-anak yang ada di kampung tersebut, mau untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang berikutnya. Karena, menurutnya, mayoritas warga Kampung Mulyasari hanyalah lulusan SD.

Ia menceritakan, dengan hadirnya pondok pesantren yang berbarengan dengan lahirnya kelas jauh. Dunia pendidikan di Kampung Mulyasari menjadi lebih berwarna. Sebab setelah mendapatkan pendidikan formal darinya, para murid bisa mendapatkan pendidikan agama dari ponpes

“Para murid yang sudah lulus dari kelas jauh ini, mungkin nantinya bisa melanjutkan ke pesantren, jika tidak mau keluar kampung karena akses jalannya yang jauh,” kata Hasan.

Kisah Hasan dan Usin, bak lagu yang ditulis oleh penyanyi legendari Iwan Fals yang berjudul Oemar Bakrie. Yang mengisahkan seorang guru yang mengabdi pada dunia pendidikan, apapun keadaannya.(dil/c/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *