Merasa tak Aman, Ingin Ngadu ke Pemkab dan Dewan

by -45 views
UNJUK RASA: Siswa SMAN 1 Parungpanjang menggelar aksi protes laka lantas di jalur tambang yang menimpa temannya.

METROPOLITAN – Pasca peristiwa kecelakaan lalulintas (laka lantas), 900 siswa dan dewan guru menggelar aksi protes kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, di lapangan sepak bola, Jalan Raya Moh Toha, Desa Parungpanjang, Kecamatan Parungpanjang, kemarin. Kecelakaan yangmembuat para siswa dan dewan guru resah.

Laporan: Nasir

Ratusan siswa dan guru bergerak menyampaikan keprihatinan mereka atas peristiwa kecelakaan lalulintas tersebut dengan beorasi. Aksi itupun, diwarnai isak tangis dari para guru dan siswa yang merupakan teman korban. “Selama ini parasiswa se Kecamatan Parungpanhang mengalami ketidak nyamanan dan ketidakamanan. Melintasnya armada tronton yang memang tanpa aturan dan ini bisa saja kapan saja bisa terjadi kecelakaan sehingga mengancam nyawa anak-anak kami siswa suatusaat,” kata Wakil Kepala SMAN 1 Parungpanjang, Abdul Halim.

Dia juga mengatakan, setelah terjadinya kasus terlindasnya siswa kelas 1 Luthfi Nurhaifa, para siswa merasa khawatir akan keselamatan dirinya masing-masing. “Ada sekitar 900 siswa yang harus dipikirkan keselamatannya oleh seluruh pihak terkait, “ungkapnya.

Halim akan menyampaikan aspirasi siswa dan guru SMAN 1 Parungpanjang dengan mengadakan mediasi yang melibatkna pemerintah setempat atau melalu DPRD Kabupaten Bogor. “Kami lakukan ini supaya tuntutan anak-anak kami didengar dan diperhatikan. Bahkan seluruh masyarakat Parungpanjang diayomi keselamatannya oleh seluruh pemangku kekuatan yang ada di lingkungan kami,” katanya.

Ia ingin para siswanya bisa berangkat sekolah dengan aman dan kegiatan belajar mereka tidak terganggu. Sehingga mereka bisa meraih masa depan mereka dengan sebaik-baiknya. Sementara itu, Ketua PGRI Kecamatan Parungpanjang Edi Mulyadi mengatakan, kebijakan soal aturan jam tambang sudah disepakati namun tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Ia juga merasa kasihan dengan anak-anak didik karena mereka calon pemimpin di masa depan.

Menurut Edi, dalam kesehariannya pelajar Parungpanjang disuguhkan debu, kebisingan dan jam tayang atauu jam pembatas bagi angkutan tambang yang seharusnya dibatasi. “Ini belum seberapa, ini hannya satu seperempat saja. Bila hari ini dibiarkan kita akan menurunkan semua guru pengurus PGRI yang ada di Kecamatan Parungpanjang,” katanya.

Ia meminta pemerintah daerah memberikan langkah konkret untuk menjamin keamanan dan keselamatan pelajar di Kecamatan Parungpanjang. (sir/b/els)

Loading...