Nasabah Kampoeng Kurma Ngadu ke OJK

by -

METROPOLITAN – Banyaknya laporan atas kegiatan investasi Kampoeng Kurma yang berkedok perkebunan atau penanaman pohon, membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertindak cepat. Satuan tugas waspada investasi telah menghentikan kegiatan Kampoeng Kurma pada 28 April 2019 lalu karena terindikasi ilegal alias bodong.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing mengaku saat ini pihaknya sudah meminta Kementerian Kominfo untuk memblokir situs dan aplikasinya. Ia menjelaskan ada dugaan jumlah kerugian mencapai Rp100 juta per orang, dengan total jumlah nasabah yang sudah melakukan pengaduan sebanyak seratus orang. Dengan kata lain, sudah ada indikasi kerugian hingga Rp10 miliar. “Masih dugaan (kerugiannya, red). Sekitar seratus orang dengan rata-rata Rp100 juta per orang,” kata Tongam.

Tongam menambahkan, skema bisnis Kampoeng Kurma adalah menawarkan investasi unit lahan pohon kurma dengan skema satu unit lahan seluas 400m2-500m2 ditanami lima pohon kurma dan akan menghasilkan Rp175 juta per tahun. Selanjutnya, pohon kurma mulai berbuah pada usia 4-10 tahun dan akan terus berbuah hingga usia pohon 90-100 tahun.

Modus seperti tersebut dianggap tidak rasional karena menjanjikan imbal hasil tinggi dalam jangka waktu singkat, tidak ada transparansi terkait penggunaan dana yang ditanamkan dan tidak ada jaminan pohon kurma yang ditanam tersebut benar tumbuh atau tidak, mati atau tidak ditebang oleh orang lain.

Tongam juga menjelaskan saat ini satgas telah mengajukan izin pemblokiran situs atau website Kampoeng Kurma. “Skema perdagangan mereka tak bisa dibenarkan karena hanya dapat dilakukan cash and carry dan bukan investasi. Kami sudah mengajukan pemblokiran kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kami juga telah melaporkan Kampoeng Kurma kepada Bareskrim Polri,” ujar Tongam.

Sebelumnya, salah seorang korban, Irvan Nasrun, mengatakan, mengaku bersama beberapa nasabah lainnya sedang mengumpulkan data dan bukti terkait dugaan penipuan itu untuk nantinya dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Irvan juga mengaku telah mengajukan pengembalian dana (refund) yang telah ia setorkan untuk membeli lahan atau kavling. Namun belum ada hasilnya. Irfan pun menunggu iktikad baik pihak manajemen Kampoeng Kurma untuk mengembalikan dana yang disetor. “Apabila tidak ada iktikad baik dari pihak Kampoeng Kurma maka kami akan melaporkan kepada kepolisian dan menempuh proses hukum,” kata Irvan.

Ia menambahkan, buntut dari dugaan penipuan itu, sejumlah nasabah sempat mendatangi kantor PT Kampoeng Kurma di Bogor, beberapa waktu lalu. Kedatangan mereka untuk menagih janji mengenai status lahan kavling dan pengembalian dana. Sayangnya, ratusan pembeli itu tidak dapat menemui Direktur Utama PT Kampoeng Kurma Arfah Husaifah.

Alasannya, Arfah sedang berada di luar kota. Irvan menyebut kerugian per orang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Jika ditotal dengan jumlah pembeli, bisa mencapai miliaran rupiah.

“Kita sepakat dari ratusan itu (nasabah, red), hanya 25 orang dulu saja yang akan membuat laporan. Sebab kalau terlalu banyak, khawatir tak sesuai dengan tuntutan refund asetnya. Nah, ini kita juga sedang konsultasi dulu dengan kuasa hukum untuk mendata juga terkait aset-aset Kampoeng Kurma ini,” ungkapnya.

Sementara itu, melalui kuasa hukumnya, PT Kampoeng Kurma berencana akan melaporkan Irvan Nasrun ke pihak kepolisian atas pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Kuasa Hukum PT Kampoeng Kurma Nusyirwan menilai ada unsur perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan Irvan Nasrun terhadap kliennya.

“Saudara Irvan Nasrun telah mencemarkan nama baik dengan menuduh dan menyebarluaskan perkataan sebagai penipu kepada klien kami Bapak Arfah Husaifah. Padahal, belum ada satu pun keputusan pengadilan yang memvonis klien kami sebagai penipu,” tegas Nusyirwan.

“Seharusnya apabila yang bersangkutan merasa dirugikan, manajemen telah mempersilakan menempuh jalur hukum. Akibat perbuatan Irvan Nasrun, klien kami merasa terintimidasi dan dirugikan, baik secara materil maupun immateril,” tambahnya.

Menurut informasi, Kampoeng Kurma Group menjual kavling seluas 400-500 meter persegi dengan ditanami pohon kurma sebanyak lima pohon dan ada juga Kavling Kurma dengan kolam lele sebanyak 10 ribu bibit.

Manajemen Kampoeng Kurma menjanjikan hasil besar dengan pengelolaan dan perawatan pohon selama lima tahun dan pembeli akan dapat bagi hasil secara syariah. Dalam memasarkan kavlingnya, Kampoeng Kurma mengundang sejumlah ustadz terkenal, sehingga banyak yang tertarik untuk membeli kavling ini dengan iming-iming kavling syariah. (dil/c/kmp/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *