Ngetem Bus Nggak Jelas

by -1.2K views

METROPOLITAN – Kondisi Terminal Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, kian mengkhawatirkan. Meskipun sudah resmi dibawah pengelolaan pemerintah pusat melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), namun rencana revitalisasi terminal yang sudah ada sejak 1970-an itu belum juga menemui titik terang. Padahal, rencana perbaikan terminal sudah digaungkan akan terealisasi pada akhir tahun ini.

Belum lagi pengelolaan di Terminal Baranangsiang kini banyak dikeluhkan warga. Jam keberangkatan kini menjadi terasa lebih lama, tak heran banyak penumpang yang beralih ke moda transportasi lain seperti travel.

Salah satu penumpang yang akan menaiki bus jurusan Bogor-Bandung, Mira mengaku saat ini agak kecewa dengan pelayanan di terminal lantaran waktu keberangkatan terasa lebih lama dari biasanya. Mahasiswi yang berkuliah di Bandung dan biasa satu bulan sekali pulang ke Bogor itu mengakui jika kini bus bisa ‘ngetem’ 40 menit hingga satu jam.

“Padahal dulu itu ya 20-30 menit saja sudah jalan ya. Beberapa kali akhirnya saya pindah moda ke travel karena keberangkatan kok lebih lama, makan waktu. Apa jangan-jangan pengelola terminal ini nggak melaksanakan wajib angkut sesuai aturan, atau bagaimana,” katanya saat ditemui Metropolitan di Terminal Baranangsiang, kemarin (6/11) siang.

Hal itu juga diamini salah satu pengelola Perusahaan Otobus (PO) Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) di Terminal Baranansiang, yang namanya enggan disebutkan. Ia membenarkan belakangan ini aturan wajib angkut dari para PO bus tidak terlaksana dengan benar yang mengakibatkan waktu ‘ngetem’ lebih lama. Imbasnya, dari 18 armada bus yang dimiliki dan seharusnya berangkat setiap harinya, saat ini hanya 6-8 bus yang ‘narik’.

“Nggak aneh lah penumpang pindah ke moda lain. Kami disebut ngetem-nya lama. Idealnya di jurusan kami 20-30 menit berangkat, ini mah bisa sampai satu jam. Harusnya pengelola (BPTJ, red) itu tegas, melaksanakan aturan wajib angkut, jadi semua armada kebagian ngaspal,” tandasnya.

Tak hanya itu, sejak BPTJ mengelola terminal di pusat kota itu, belum pernah dilakukan pemeriksan ramp check besar-besaran. Ia mengaku sangat khawatir dengan hal itu karena mempengaruhi kualitas para PO dimata penumpang.

“Gimana mau meningkatkan kualitas. Kami ini perlahan ditinggalkan penumpang kalau pengelola nggak melakukan gebrakan yang menguntungkan para pengusaha bus,” tegasnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala BPTJ Bambang Prihartono mengaku baru mengetahui adanya keluhan dari warga dan pengusaha bus yang ada di terminal terkait pengelolaan yang berpengaruh terhadap jumlah penumpang. Pria berkacamata ini baru mengetahui adanya waktu perjalanan yang wajib dilakukan armada bus. Tak cuma itu, ia juga akan mengevaluasi jajaran pengelola di Terminal Baranangsiang soa waktu wajib angkut ini.

Sejak diambil alih BPTJ, Bambang mengakui memang belum ada kegiatan kongkret di lapangan, termasuk kegiatan pembangunan. Hanya saja, beberapa perbaikan seperti pengaspalan sudah dilakukan oleh pengelola unit Terminal Baranangsiang.

“Pelayanan harus tetap berjalan dan harus diberikan kepada para calon penumpang,” katanya.

Meyakinkan Investor

Bambang juga menyinggung soal rencana pembanguan Transit Oriented Development (TOD) di Terminal Baranangsiang di awal 2019. Saat ini, BPTJ masih berusaha meyakinkan investor awal, yang sudah menjalin kerjasama Build-Operate-Transfer (BOT) dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sebelum serah terima aset, agar segera bisa memulai pembangunan.

“Besok (hari ini, red) saya mengundang pemegang saham perusahaan itu, untuk meyakinkan investor, yakni PT PGI, agar mulai pembangunan,” terangnya.

Maka, belum ada akfititas fisik yang dilakukan, sembari menunggu hasil pembahasan. Optimalisasi keadaan eksisting saja yang akan dimaksimalkan. Tak lupa juga mengajak Komunitas Pengurus Terminal Baranangsiang (KPTB) untuk meminta saran soal desain.

“Pihak mereka dilibatkan, sama-sama, waktu itu sudah oke, tinggal meyakinkan investor yang punya dananya,” tuntas Bambang. (ryn/c/yok/py)