Pergi Bawa Penumpang, Pulang Nyawa Melayang

by -
PEMBUNUHAN: Warga Tajur digegerkan dengan penemuan salah seorang sopir taksi daring yang tewas bersimbah darah dalam mobilnya

METROPOLITAN – Mantan bos tempe mendoan. Begitulah sebutan yang lekat pada AF, yang ditemukan tewas di dalam mobil miliknya dengan sayatan pisau kater dibagian leher dengan lebar sekitar tiga sentimeter. AF di temukan pukul 02:45 WIB dini hari di Jalan Raya Wangun, Kelurahan Sidangsari, Kecamatan Bogor Timur.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bogor Kota AKP Niko Nurallah Adi Putra AF ditemukan sudah tidak bernyawa pada Kamis (31/10) dini hari, ia tewas di dalam mobil miliknya Toyota Calya silver dengan nomor polisi F 1088 CL. Pada tubuh korban, terdapat luka sayatan sepanjang tiga centimeter tepat di leher AF.

Saat ditemukan tubuh korban sudah bersimbah darah. Bahkan darah juga sempat mengalir ke luar mobil, dan mengalir keluar. Bahkan bercak aliran darah juga membekas tepat di pintu depan kanan AF. “Untuk rincian lebih lanjutnya kita tunggu hasil visum,” singkatnya saat ditemu awak media.

Dari tempat kejadian perkara, pihak kepolisian menemukan satu buah pisau cutter merah, lengkap dengan dusnya layaknya pisau baru. Cutter tersebut ditemukan petugas, tepat di bawah kemudi dan tempat duduk korban. Posisi korban saat ditemukan tengah menunduk di stir mobil, sambil mengelurkan darah dari bagian leher.

Menariknya, pihak kepolisian juga menemukan barang berharga milik korban, dengan kondisi diduga utuh tanpa hilang. Seperti dompet dengan uang 200 ribu, identitas, surat mobil, dua buah gawai, dengan kondisi mobil masih hidup. “Barang-barang milik korban seperti utuh tidak ada yang hilang. Tapi kita masih lakukan pendalaman,” katanya.

Untuk mengungkap kasus ini, pihaknya menyiapkan sejumlah tim khusus untuk mengungkap misteri pembunuhan yang menimpa mantan bos tempe mendoan ini. “Kita akan bentuk tim khusus untuk mengungkap kasus ini. Apakah ini kasus pembunuhan ataupun bunuh diri, kita belum bisa pastikan sampai menemukan titik terang dari tim yang kami bentuk,” tegasnya.

Sementara itu, menurut keterangan Security Bank BRI Nana, sekitar pukul 02:45 ia mendengar suara teriak dan bunyi klakson. Saat diperiksa keluar, ia melihat satu unit mobil Toyota Calya bernomor polisi F 1088 CL warna silver terparkir di lokasi dengan keadaan pintu samping kiri bagian belakang dan pintu depan supir terbuka.

Setelah diperiksa, saksi melihat ada kucuran darah dan seorang pria dalam kondisi tak bergerak di depan kemudi. “Saya langsung menghubungi pihak kepolisian dari Polsek Bogor Timur. 10 menit kemudian datang petugas dan lansung mengamankan lokasi,” tuturnya.

AF merupakan sosok yang dikenal baik dan ramah kepada warga sekitar. Ia juga merupakan pribadi yang mudah bergaul dengan lingkungan tempatnya tinggal, meski dirinya bukan merupakan warga asli Gang Pahlawan III, RT 01/20, Kelurahan Empang.

Berdasarkan cerita dari Wakil Ketua RT 01, Kelurahan Empang Arfan. Semasa hidupnya pria kelahiran Bantul itu, tinggal disebuah kontrakan tak jauh dari rumah dirinya. Rumah kontrakan sederhana milik Ibu Atik, dengan luas tak lebih dari 3×5 meter, menjadi saksi perjuangan AF kala itu dalam menekuni profesinya sebagai bos tempe mendoan.

Memang, sedari awal AF datang dan menetap di kontrakan Ibu Atik sekitar tiga tahun silam, AF beserta sang istri sudah menekuni bisnis tempe mendoan. Keduanya saling melengkapi, dalam membangun bisnis kebanggaannya tersebut, bahkan pasangan suami istri ini sempat memiliki tiga cabang tempe mendoan, di kawasan Bendungan, Padjajaran dan Ciomas.

Namun seiring berjalannya waktu, krikil datang menerpa keduanya. Satu persatu cabang tempe mendoan milik AF dan istri tutup lantaran sepi peminat. Tiga cabang tempe mendoan yang dijaga oleh sanak saudara dan adik dari keduanya, gulung tikar belum genap satu tahun ini. Yang mengakibatkan saudaranya mesti kembali ke Djogjakarta dan Indramayu.

Kondisi sulit ini, mengharuskan AF berfikir untuk mencari solusi. Bekerja sebagai driver mobil daring, ia tekuni demi mendorong bisnis tempe mendoannya yang menyisakan satu-satunya, di kawasan Taman Makam Pahlawan. Sang istri fokus bisnis tempe mendoan, AF menjadi driver mobil daring, dilakoninya dalam kurun waktu tak lebih dari satu tahun belakangan ini.

Ditengah keterpurukan bisnisnya kala itu. AF yang baru dikarunia seorang putra yang baru duduk di bangku sekolah dasar, ditinggal sang istri tepat pasca menghabiskan Hari Raya Idul Fitri di kampung halaman istrinya, di daerah Indramayu. Buah hati AF berinisial BS, pun ikut dibawa bersama sang istri, yang mengakibatkan luka teramat dalam dalam hati AF.

“Dulu tinggal sama istrinya, ada kali sekitar tiga tahun lalu. Tapi setelah mudik lebaran kemarin di kampung halaman sang istri di Indramayu, AF datang kesini lagi sendiri dan sudah menjadi duda. Saya tidak tahu juga masalahnya karna apa. Yang jelas saat AF datang kesini dia sendir tidak sama anak, ataupun istrinya,” beber Arfan saat ditemui di kediamannya, kemarin siang.

Arfan bercerita, dirinya sama sekali tak menyangka jika nasib tragis harus menimpa salah satu warganya. Pasalnya pada Kamis (31/10) sekitar pukul 01:30WIB, AF beserta pedagang di Makam Taman Pahlawan lainnya masih kumpul seperti biasa. AF yang kala itu tengah menjalankan aplikasi driver mobil daring, mendapatkan orderan untuk mengantar penumpang ke kawasan Jalan Baru.

“Tadi malam juga sempat nongkrong, sama Koramil dan para pedagang di Makam Pahlawan. Kami juga masih ngobrol sekitar 01:30 WIB di makam pahlawan. Nah dari situ AF dapat orderan ke Jalan Baru. Dari Jalan Baru, dia kasih kabar dapet orderan lagi ke Ciawi, patokannya tukang sate namanya Coki. Masih temen dekatnya juga,” papar Arfan.

Menurut Arfan, AF merupakan sosok yang baik dan tidak pernah memiliki musuh. Ia mengetahui AF sudah tiada, tepat sekitar pukul 09:00 WIB. Kala itu sejumlah petugas kepolisian datang ke rumahnya, untuk meminta izin kepada Arfa selaku wakil ketua RT untuk memeriksa tempat AF tinggal demi kepentingan penyidikan.

Sekitar pukul 09:30 WIB, sejumlah petugas kepolisian datang ke kontrakan tempat AF tinggal. Berdasarkan keterangannya, AF memang tinggal dengan salah seorang pegawai tempe mendoannya. Namun tinggalnya AF dengan sang karyawan, tak lebih dari satu bulan kebelanga ini. “Pegawainya masih orang sini juga, beda kampung tapi masih satu kelurahan,” singkatnya.

Arfan juga sempat meminta kepada karyawan mendiang AF, untuk tidak pergi meninggalkan kontrakan terlebih dahulu. Guna memudahkan proses pendalaman kasus ini. Dari kontrakan, pihak kepolisian sempat mebawa sejumlah barang-barang milik AF. Seperti pakaian AF, catatan pribadi, sejumlah berkas dan foto-foto mendiang semasa hidup. (ogi/d/mam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *